PERAN ULAMA DI TUBUH KESULTANAN BANTEN

Dalam perkembangan kesejarahan Banten peran ulama sejak berdirinya Kesultanan Banten sangatlah menentukan. Bahkan berdirinya kesultanan Banten itu sendiri didahului dengan motif penyebaran agama dan menolak kehadiran Portugis ─ yang gigih menghancurkan Islam dalam semangat Perang Salib. Pendiri kesultanan Banten pun, Syarif Hidayatullah, adalah seorang ulama yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Hasanuddin, juga seorang da’i yang

Silahkan berbagi :

SEJARAH KESULTANAN BANTEN

MASA PEMERINTAHAN KESULTANAN BANTEN A. MAULANA HASANUDDIN (1552 – 1570) Dalam Babad Banten menceritakan bahwa Sunan Gunung Jati dan putranya, Hasanuddin, datang dari Pakungwati (Cirebon) untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Mula-mula mereka datang di Banten Girang, lalu terus ke selatan, ke Gunung Pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang kemudian semuanya menjadi pengikut Hasanuddin. Di lereng Gunung

Silahkan berbagi :

Pengantar: Catatan Masa Lalu Banten

Ibnu Khaldun (1322 – 1406) seorang cendekiawan muslim berpendapat bahwa sejarah pada hakekatnya adalah kisah masyarakat atau kisah kebudayaan yang merupakan perubahan-perubahan manusia secara sadar sebagai usaha untuk menyempurnakan perikehidupannya. Dalam perubahan-perubahan itu termasuk perubahan pada lingkungan alam sekitarnya yang merupakan hukum yang ditetapkan oleh Al- Khalik untuk manusia ciptaan-Nya. Sejarah adalah gambaran masa lalu

Silahkan berbagi :

PENGARUH ARAB PADA NAMA DAN GELAR SULTAN-SULTAN BANTEN

Setelah Abu’l Mafakhir (artiya: empunya serba kemegahan) naik tahta, dapatlah kita perhatikan seterusnya pada pengangkatan sultan-sultan Bantam (Banten), bagaimana semakin besarnya pengaruh Islam. Dan oleh karena bangsa Arab adalah sebagai pelopor Agama Islam, maka adat istiadat yang dipakai oleh kerajaan-kerajaan Arab tentang pemberian gelar sultan ditiru oleh Banten. Disamping nama kecil aslinya, orang mempunyai tambahan

Silahkan berbagi :

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani

Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (Arab: محمد نووي الجاوي البنتني‎) atau Syekh Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M – meninggal di Mekkah, Hijaz 1314 H/1897 M) adalah seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang

Silahkan berbagi :

KEUTAMAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Di dalam kitab “An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam” halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. / 1503-1566 M.), cetakan “Maktabah al-Haqiqat” Istambul Turki, diterangkan tentang keutamaan-keutamaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Sayyidina Abu Bakar RA. berkata: من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي

Silahkan berbagi :

Riwayat Mama Sempur (Kakek Tubagus Zein Al-Bakri, Ketua Naqobah-Patrah KBI)

Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri Al-‘Alim al-‘Allamah al-Faqih ash-Shufi asy-Syaikh Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Sayida as-Sampuri al-Faleredi al-Jawi asy-Syafi’i atau Mama Sempur (lahir di Citeko, Plered, Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 1259 Hijriyah atau 1839 Masehi) adalah salah satu sosok Ulama tanah Pasundan keturunan Kesultanan Banten. Biografi Syekh Tubagus Ahmad Bakri atau yang lebih dikenal

Silahkan berbagi :
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.