Profil Tokoh: KH. Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani

K.H. Tubagus Ahmad Chatib bin Wasi’ al-Bantani[1] atau Tubagus Ahmad Chatib (lahir di Pandeglang, Banten, 1885 – meninggal di Pandeglang, Banten, 19 Juni 1966 pada umur 80–81)[2] adalah seorang ulama, pejuang, dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten. Pada tanggal 19 September 1945 Soekarno, selaku Presiden Republik Indonesia mengangkat Ahmad Chatib menjadi Residen Banten. Pada masanya, Ia juga pernah menduduki jabatan penting lain di pemerintahan Indonesia seperti Dewan Pertimbangan Agung, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), bahkan pernah menduduki

Silahkan berbagi :

Deskripsi Tentang Banten Lama

A.  TATA LETAK DAN PERKEMBANGAN KOTA KESULTANAN BANTEN Sebagaimana layaknya sebuah kota Islam, Banten Lama juga memiliki beberapa ciri yang secara umum ditemukan pada kota-kota Islam yang sejaman di beberapa bagian dunia. Pusat-pusat kegiatan kemasyarakatan yang terpenting ─ sebagaimana masyarakat muslim di Indonesia, Afrika, dan negara-negara Arab ─ kota Islam memiliki ciri dengan adanya istana, pasar-pasar dan masjid-masjid. Pemukiman dibagi menurut pekerjaan

Silahkan berbagi :

PERAN ULAMA DI TUBUH KESULTANAN BANTEN

Dalam perkembangan kesejarahan Banten peran ulama sejak berdirinya Kesultanan Banten sangatlah menentukan. Bahkan berdirinya kesultanan Banten itu sendiri didahului dengan motif penyebaran agama dan menolak kehadiran Portugis ─ yang gigih menghancurkan Islam dalam semangat Perang Salib. Pendiri kesultanan Banten pun, Syarif Hidayatullah, adalah seorang ulama yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Hasanuddin, juga seorang da’i yang

Silahkan berbagi :

Kesultanan Banten di Masa Kekuasaan Penjajah

Akibat politik adu-domba yang dilakukan kompeni Belanda di Banten, maka perang dalam tubuh keluarga pun sulit terelakkan lagi. Dengan bantuan personil tentara kompeni, melalui tipu daya licik, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa dapat ditangkap dan dipenjarakan sampai meninggalnya. Sultan Haji mau tidak mau harus bersedia menandatangani perjanjian damai dan pembayaran kerugian perang yang telah dikeluarkan kompeni.

Silahkan berbagi :

SEJARAH KESULTANAN BANTEN

MASA PEMERINTAHAN KESULTANAN BANTEN A. MAULANA HASANUDDIN (1552 – 1570) Dalam Babad Banten menceritakan bahwa Sunan Gunung Jati dan putranya, Hasanuddin, datang dari Pakungwati (Cirebon) untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Mula-mula mereka datang di Banten Girang, lalu terus ke selatan, ke Gunung Pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang kemudian semuanya menjadi pengikut Hasanuddin. Di lereng Gunung

Silahkan berbagi :

SUNAN GUNUNG JATI DAN ISLAMISASI DI BANTEN

PROSES ISLAMISASI DI BANTEN A. MASUKNYA ISLAM KE BANTEN Islam adalah agama yang mula-mula tumbuh di jazirah Arab, tepatnya di kota Mekkah. Disampaikan oleh seorang rasul yang bernama Muhammad yang lahir pada tahun 570 M. Pokok ajaran agama Islam adalah Tauhid, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang ada di dunia ini; oleh karenanya manusia hendaknya

Silahkan berbagi :

BANTEN SEBELUM MASUKNYA ISLAM

BANTEN SEBELUM ISLAM A. TINGKAT KEHIDUPAN MASA PRASEJARAH Wilayah Banten yang terletak di ujung barat pulau Jawa, tepatnya antara 105°6` sampai 106°46` BT dan 5°46` sampai 7°1` LS. Dikelilingi Laut Jawa di sisi utara, Selat Sunda di sisi barat dan Samudra Hindia di sisi selatan. Pulau-pulau di sekitarnya antara lain: Pulau Panaitan, Pulau Rakata, Pulau

Silahkan berbagi :
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.