SEJARAH PATRAH KESULTANAN BANTEN (PATRAH KBI)

Organisasi ini semula bernama OPEN (Organisasi Penelitian Nasab) yang dibentuk oleh Tubagus Zeinal Abidin Al-Bakrie (Tb. Zein) dan Tubagus Taufik Maulana SH, dan dideklarasikan pada tanggal 1 Muharram 1432H (25 Desember 2010) di Banten Lama dirumah kediaman KH. Tubagus Fathul Adzim Chatib yang menjabat sebagai Nadzir Kesultanan Hasanuddin pada saat itu. Agar visi misi organisasi menjangkau manfaat yang lebih luas, pada tanggal 20 Maret 2011 nama organisasi OPEN berubah menjadi “Paguyuban Trah Kesulthanan Banten” yang kemudian disingkat menjadi PATRAH untuk menjadi wadah silaturahmi  keluarga besar trah dzuriat Kesultanan Banten.

Pendirian PATRAH berawal dari keprihatinan para pendiri dan dzuriyat akan nasab trah kesultanan Banten yang kerap diselewengkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk kepentingan pribadi dan golongannya, sehingga pendiri berinisiatif membentuk suatu wadah khusus untuk melestarikan, mendata dan mencatat silsilah nasab keturunan Sultan-Sultan Banten. Berkat pertolongan Allah SWT dan izin-Nya,  organisasi ini kian berkembang hingga memiliki anggota dan cabang-cabang yang tersebar di Indonesia.

Pada tanggal 13 Dzulqaidah 1438 H bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 2017, melalui Musyawarah Pengurus Besar PATRAH Kesultanan Banten yang dipimpin oleh KH. Tubagus Ahmad Furqon Saifullah Zein, nama organisasi mengalami penyempurnaan dari “Paguyuban” menjadi “Persatuan” tanpa merubah akronim sebelumnya sehingga organisasi PATRAH atau PATRAH KBI adalah singkatan dari PERSATUAN TRAH KESULTANAN BANTEN INDONESIA” agar organisasi ini lebih menjadi wadah pemersatu ikatan darah keturunan (Trah) dan kekeluargaan (Dzuriat) Sultan Banten yang ada di wilayah Banten maupun wilayah lain di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Untuk mewujudkan misinya PATRAH membentuk beberapa divisi, diantaranya Naqobah Kesultanan Banten yang diketuai oleh salah satu pendiri PATRAH yaitu Tb. Zein bin KH Tubagus Muhammad Dudus bin Syeikh KH Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur) bin KH. Tb. Sayyida bin Qadhi’il Qudhat Kesultanan Banten (Syaikh Tb. Arsyid Ciekek Keraton Pandeglang). Qadhi’il Qudhat adalah jabatan Hakim Agung pada masa Kesultanan Banten dimana salah satu tugasnya membantu Sultan Banten dalam hal pedataan dan pencatatan silsilah dzuriat kesultanan Banten. Selain Naqobah, PATRAH diperkuat oleh divisi GARDA PATRAH yang diketuai Tubagus Naseh yang merupakan barisan pengamanan dan pelestari seni budaya warisan leluhur Banten seperti kesenian debus, pencak silat terumbu; bandrong; singa manda, dll yang berlandaskan akidah ahlussunnah waljamaah yang siap menjadi pembela Ulama, bangsa dan NKRI.

Organisasi PATRAH KBI diketuai oleh KH. Tubagus Ahmad Furqon Saifullah Zein dan berpusat di Banten Lama yaitu di kompleks Masjid Agung Kesultanan Maulana Hasanuddin Banten Lama Kasemen Kota Serang.

Legalitas Badan: SK Menkumham No. AHU-0000736.AH.01.07.Th.2018

LAMBANG ORGANISASI

  • 21 bintang ditepi atas lambang bermakna 21 Sultan Banten dalam sejarah kesultanan Banten.
  • Bintang berkaki 9 yang menaungi gambar mahkota Sultan Banten merepresentasikan Wali Songo
  • Garis-garis sinar berwarna hitam yang mengelilingi gambar mahkota Sultan Banten diadopsi dari lambang Naqobah PATRAH sebagai salah satu divisi PATRAH dalam bidang pencatatan, pendataan dan penelitian silsilah nasab trah dzuriat kesultanan Banten.
Silahkan berbagi :
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.