Kesultanan Banten di Masa Kekuasaan Penjajah

Akibat politik adu-domba yang dilakukan kompeni Belanda di Banten, maka perang dalam tubuh keluarga pun sulit terelakkan lagi. Dengan bantuan personil tentara kompeni, melalui tipu daya licik, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa dapat ditangkap dan dipenjarakan sampai meninggalnya. Sultan Haji mau tidak mau harus bersedia menandatangani perjanjian damai dan pembayaran kerugian perang yang telah dikeluarkan kompeni. Perjanjian “menentukan” ini terjadi pada tanggal 17 April 1684.

Untuk menjaga kelangsungan perjanjian itu, kompeni membangun sebuah benteng di pantai utara dekat Karangantu yang diberi nama Speelwijk pada tahun 1685. Semenjak ditandatanganinya perjanjian itu maka kedaulatan kesultanan Banten, secara bertahap dan pasti, terancam jatuh ke tangan penguasaan kompeni Belanda. Dalam kenyataannya, sampai kesultanan Banten dibubarkan Raffles, hutang kesultanan akibat perjanjian tahun 1684 itu tidak pernah lunas terbayar.

Dari sultan ke sultan, sejak digantikannya Sultan Haji kepada Sultan Abul Fadhal pada tahun 1687 yang dilanjutkan oleh sultan berikutnya, Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin pada tahun 1690, di Banten tidak terjadi hal-hal yang luar biasa, kecuali sesaat setelah Sultan Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1733. Masa pemerintahan sultan ini banyak diwarnai dengan pemberontakan rakyat yang tidak puas dengan tekanan-tekanan Belanda, seperti kerja rodi dan sebagainya. Pembesar kerajaan hanyalah sebagai perpanjangan tangan Belanda terhadap rakyat dengan kesewenang-wenangan, tanpa memperhatikan penderitaan rakyat. Hingga tahun 1740 sampai 1753 dimana Sultan Syarifuddin baru memerintah menggantikan Sultan Fathi terjadi banyak pemberontakan rakyat. Terlebih lagi ketika Sultan Fathi ditangkap dan dibuang ke Ambon oleh tentara Belanda atas hasutan permaisurinya sendiri, Ratu Syarifah Fatimah, pada tahun 1735.

Pengikut dan pengagum Sultan Ageng bersama dengan Ki Tapa, seorang ulama asal Gunung Munara, Pandeglang, dan Ratu Bagus Buang dengan pengikutnya menyerang dan melumpuhkan kekuatan kompeni di Banten. Melihat keadaan genting ini Belanda segera menangkap Syarifah Fatimah dan anaknya, Syarif Abdullah, yang kemudian diasingkan ke Banda. Pangeran Gusti, putra Sultan Zainal Arifin, dinobatkan kompeni menjadi raja Banten dan Arya Adi Santika sebagai Wakil Sultan. Dengan cara demikian, Belanda berhasil memecah belah persatuan kaum bangsawan dan memisahkannya dengan kaum perlawanan rakyat. Meski pun demikian, perlawanan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang terus berlanjut sehingga sangat merepotkan tentara kompeni.

Dari sultan ke sultan berikutnya, Banten semakin dalam tenggelam ke tangan penjajah. Pada tahun 1809, Deandels menyerang dan membakar habis keraton Surosowan.

Sultan Muhamad Syafiuddin, pada tahun 1813, dipaksa turun tahta oleh Raffles dan menyerahkan jabatan pemerintahan Banten kepada pemerintah Inggris; kesultanan Banten dihapuskan. Sultan Muhammad Syafiuddin ditangkap dan dibuang ke Ambon sedangkan patihnya dihukum pancung. Seluruh daerah Kesultanan Banten telah dikuasai Pemerintah Inggris dan dijadikan sebuah karesidenan. Dengan demikian, berakhirlah keberadaan Kesultanan Banten. Gelar “sultan” boleh dipakai terus dan kepada Sultan diberi 10.000 ringgit Spanyol setahun.

Pada tahun 1813, Raflles membagi wilayah Banten dari tiga daerah menjadi empat kabupaten yang masing-masing diperintah oleh seorang bupati:

1.              Kabupaten Banten Lor (Banten Utara) dengan ibukota Serang, diperintah oleh Pangeran Suramenggala.

2.              Kabupetan Banten Kulon (Banten Barat) dengan ibukota Caringin, diperintah oleh  Tubagus Hayudin.

3.              Kabupaten Banten Tengah dengan ibukota Pandeglang, diperintah oleh Tubagus Ramlan.

4.              Kabupaten Banten Kidul (Banten Selatan) dengan ibukota Lebak, diperintah oleh Tumenggung Suradilaga.

Setelah Kaisar Napoleon Bonaparte dikalahkan dalam pertempuran di Leipzig dan kemudian ditangkap, Pemerintah Inggris pada tahun 1814 memutuskan dalam Convention of London untuk menyerahkan kembali daerah bekas jajahan Belanda kepada pemerintah Kerajaan Belanda. Raffles, yang tidak setuju dengan keputusan itu meletakkan jabatannya, dan digantikan oleh Letnan Gubernur John Fendall. Pada tahun 1816 Fendall menyerahkan kepulauan Nusantara kepada pemerintah Belanda.

Kemudian  Sultan Muhyiddin meninggal pada tahun 1816 dan digantikan anaknya, Sultan Muhammad Rafi’uddin, — yang pada tahun 1832 diasingkan ke Surabaya karena dituduh berkomplot dengan bajak laut.

Penyerbuan Belanda terhadap keraton Surosowan memakan waktu lama sampai tahun 1832; gedung-gedung dihancurkan, lantai ubinnya dipindahkan ke gedung pemerintahan Belanda di Serang.

(Disunting dari sumber: “Catatan Masa Lalu Banten”,  Dr. Hilwany Michrob)

Allahu a’lam

Silahkan berbagi :

Silahkan berbagi Postingan ini !

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.