SEJARAH KESULTANAN BANTEN

MASA PEMERINTAHAN KESULTANAN BANTEN

A. MAULANA HASANUDDIN (1552 – 1570)

Dalam Babad Banten menceritakan bahwa Sunan Gunung Jati dan putranya, Hasanuddin, datang dari Pakungwati (Cirebon) untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Mula-mula mereka datang di Banten Girang, lalu terus ke selatan, ke Gunung Pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang kemudian semuanya menjadi pengikut Hasanuddin. Di lereng Gunung Pulosari itu, Sunan Gunung Jati mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan keislaman kepada anaknya. Setelah ilmu yang dikuasai Hasanuddin sudah dianggap cukup, Sunan Gunung Jati memerintahkan supaya anaknya itu berkelana sambil menyebarkan agama Islam kepada penduduk negeri.

Hasanuddin berkeliling sambil berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Sesekali bertempat di Gunung Pulosari, Gunung Karang atau Gunung Lor, bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Setelah tujuh tahun melakukan tugasnya itu, Hasanuddin bertemu kembali dengan ayahnya, yang kemudian membawanya pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah (Djajadiningrat, 1983:34).

Dalam menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk pribumi, Hasanuddin menggunakan cara-cara yang dikenal oleh masyarakat setempat, seperti menyabung ayam ataupun mengadu kesaktian. Diceritakan, bahwa dalam acara menyabung ayam di Gunung Lancar yang dihadiri oleh banyak pembesar negri, dua orang ponggawa Pajajaran, Mas Jong dan Agus Jo — disebut juga Ki Jongjo — memeluk agama Islam dan bersedia menjadi pengikut Hasanuddin.[1]

Setelah Banten dikuasai oleh pasukan Demak dan Cirebon pada tahun 1525, atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah, pada tanggal 1 Muharram 1526 M. atau 8 Oktober 1526 M, pusat pemerintahan Banten, yang tadinya berada di pedalaman yakni di Banten Girang (3 km dari kota Serang) dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten. Dalam pemindahan pusat pemerintahan Banten ke pesisir tersebut, Syarif Hidayatullah pulalah yang menentukan dimana tempat dalem (istana), benteng, pasar, dan alun-alun harus dibangun. Semakin besar dan majunya daerah Banten, maka pada tahun 1552 Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Demak dengan Hasanuddin sebagai rajanya, dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan.

  1.  Konflik Bersenjata antara Banten dan Pajajaran

Masalah yang dianggap cukup penting dalam kesejarahan Banten adalah bagaimana usaha Maulana Hasanuddin dalam menjaga kestabilan politik dan keamanan negaranya. Hal ini ada kaitannya juga dengan keadaan negara tetangga, yakni Kerajaan Pajajaran, yang jaraknya tidak begitu jauh. Dari proses berdirinya Kerajaan Banten, yang secara kewilayahan sangat merugikan Pajajaran, dapatlah dipahami apabila kedua negara yang berbeda pandangan hidupnya ini saling curiga-mencurigai. Pemerintahan di Banten merasa terancam keamanannya kalau-kalau pasukan Pajajaran akan merebut kembali wilayah yang telah diduduki tentara Islam, demikian juga sebaliknya. Kecurigaan ini didukung dengan banyaknya pertempuran kecil, terutama di daerah perbatasan kedua negara, yang masih terus berlangsung sampai 5 tahun. Baru pada tahun 1531 tercapailah kesepakatan damai antara Pajajaran, Banten dan Cirebon. Perjanjian ini di tandatangani oleh Surawisesa, Fatahillah, Hasanuddin dan Cakrabuana.

Di dalam Kerajaan Pajajaran sendiri, setelah perjanjian damai antara Banten dan Pajajaran ini ditandatangi, Surawisesa, raja Pajajaran saat itu, berkesempatan untuk menumpas pemberontakan di 15 daerah kekuasaannya. Dan baru setelah 2 tahun pemberontakan ini berhasil ditumpas. Pada tahun 1535 Surawisesa meninggal dunia yang kemudian dikuburkan di Padaren. Surawisesa atau Ratu Sangiang dikenal dalam naskah babad dengan nama Guru Gantangan, sedangkan dalam pantun di sebut Mundinglaya Dikusuma. Penggantinya adalah Dewata Buana yang dikenal sebagai “raja resi”, karena dia lebih banyak hidup di pertapaan dari pada memperhatikan pemerintahan negaranya.

Dalam pada itu, mungkin karena kecurigaan kepada Pajajaran, Banten menyusun pasukan khusus yang mampu bergerak cepat, tanpa membawa nama Kerajaan Banten. Pasukan khusus yang dipimpin oleh Pangeran Yusuf, putra mahkota Banten, ditugaskan untuk menanggulangi kerusuhan-kerusuhan yang disebabkan oleh tentara Pajajaran atau pemberontak di perbatasan. Namun, karena alasan yang belum jelas, pasukan ini menyerang serta menguasai beberapa daerah perbatasan, bahkan akhirnya menyerang ibukota Pakuan. Hanya berkat kuatnya benteng yang dibangun Sri Baduga, pasukan penyerang tidak mampu memasuki kota. Akan tetapi dalam pertempuran ini gugur dua orang senapati tangguh yakni Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang. Gagal memasuki ibukota Pajajaran, pasukan ini mengalihkan sasaran dengan menguasai daerah Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri.

Ratu Dewata memerintah selama 8 tahun (1535 – 1543), penggantinya adalah Ratu Sakti yang memerintah secara kejam dan lalim. Banyak penduduk dihukum mati dan dirampas hartanya tanpa alasan. Raja ini dicap sebagai melanggar adat keraton kerena mengawini seorang putri larangan [2] dari keluaran [3]. yang dilarang adat secara keras. Bahkan, yang lebih parah, Ratu Sakti pun diketahui memperistri ibu tirinya sendiri. Ratu Sakti meninggal pada tahun 1551 dan digantikan oleh Sang Nilakenda atau Sang Lumahing Majaya.

Sang Nilakenda lebih banyak mementingkan hal-hal mistis. Upacara-upacara mistis ini menggunakan matra-mantra dalam ketidaksadaran (mabuk). Hal ini mendorong penghuni istana kepada ketagihan minuman keras. Pekerjaan raja hanya berfoya-foya dan menjurus ke arah kemaksiatan. Gejala demikian akhirnya menyebar ke seluruh penduduk negeri, sehingga membawa kelemahan negara, kekacauan pemerintahan dan penderitaan bagi rakyat Pajajaran. Keadaan yang tidak terkendali di Pajajaran ini dianggap berbahaya bagi keamanan penduduk Banten, di samping suatu kesempatan baik. Barangkali ini pulalah yang mendorong Maulana Hasanuddin untuk segera mengadakan serangan ke pusat pemerintahan Pajajaran. Pakuan dengan mudah dikuasai pasukan Pangeran Yusuf pada tahun 1567; walaupun Sang Nilakendra sendiri dapat meloloskan diri.

Raja Pajajaran terakhir adalah Ragamulya atau Prabu Surya Kencana. Raja ini tidak berkedudukan di Pakuan, melainkan di Pulosari, Pandeglang, sehingga disebut juga Pucuk Umun (Panembahan) Pulosari. Karena kedudukan Pulosari demikian sulit ditembus musuh, maka baru pada masa pemerintahan Maulana Yusuf — yang merasa tidak terikat perjanjian dengan Pajajaran — benteng Pulosari ini dapat direbut pasukan Banten dengan susah payah. Kejadian ini berlangsung pada Pajajaran sirna ing bhumi ekadaci weshakamasa sahasra limangatus punjul siji ikang sakakala (tanggal 11 suklapaksa bulan Wesaka tahun 1501 Saka). Dihitung dengan penanggalan Masehi dan Hijriah akan jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 atau 11 Rabiul awal 987, hari Jum’at Legi. Pasukan Banten ini dipimpin langsung oleh Maulana Yusuf yang berangkat dari Banten pada hari Ahad tanggal 1 Muharam tahun Alif dengan sangsakala bumi rusak rekeh iki atau tahun 1501 Saka.

Dari keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa penyerangan Banten ke Pajajaran, sedikitnya terjadi dalam 3 gelombang besar:

Pertama, pada masa pemerintahan Ratu Dewata Buana (1535 – 1543) yang dikisahkan : “Datang na bencana musuh ganal, tambuh sangkane, prangrang di burwan ageung, pejah Tohaan Ratu Sarendet jeung Tohaan Ratu Sangiang”  (Datang serangan pasukan tidak diketahui asal usulnya: perang di alun-alun, gugur Tohaan Ratu Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang).

Kedua, pada pemerintahan Nilakendra (1551 – 1567) yang dikisahkan: “Alah prengrang mangka tan nitih ring kadat-wan” (Kalah perang, karena itu tidak tinggal di keraton).

Ketiga, pada masa pemerintahan Ragamulya (1567 – 1579) yang dikisahkan: “tembey datang na prebeda, bwana alit sumurup ing ganal, metu sanghara ti Selam” (mulailah datang perubahan, budi tenggelam datang nafsu, muncul bahaya dari Islam).

2  Usaha Maulana Hasanuddin  dalam Pengembangan Banten

Usaha Hasanuddin untuk mengubah satu daerah nelayan kecil menjadi sebuah kota yang layak dijadikan ibukota negara, bukanlah satu perbuatan yang mudah. Dengan bantuan pasukan Demak, Cirebon dan juga penduduk di sekitar, pembangunan kotabaru ini dapat terlaksana dengan mulus. Kota Banten, berkembang dengan pesat.

Mengenai keadaan fisik kota Banten — yang kemudian lebih disebut Surosowan — di masa mula berdirinya ini, sangat sulit direkontruksikan karena terbatasnya data. Digambarkan oleh Diogo do Couto, yang juga mengikuti perjalanan Francisco de Sa, bahwa kota Banten terletak di pertengahan pesisir teluk, yang lebarnya sampai tiga mil, dengan kedalaman antara dua sampai 6 depa. Kota ini panjangnya 850 depa, di tepi pantai panjangnya 400 depa; masuk ke dalamnya lebih panjang. Melalui tengah kota ada sungai jernih, di mana kapal jung dan gale dapat berlayar masuk. Sepanjang pinggiran kota ada anak sungai yang hanya perahu kecil saja bisa masuk. Kota Banten dikelilingi benteng terbuat dari bata dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannya terbuat dari kayu, terdiri dari dua tingkat yang dilengkapi dengan meriam. Teluk itu di beberapa tempat berlumpur, dan di beberapa tempat lagi berpasir; dalamnya antara dua dan enam depa (Djajadiningrat, 1983:145).

Di tengah kota terdapat sebuah lapangan luas, disebut alun-alun, yang digunakan bukan saja untuk kepentingan kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat juga digunakan sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian selatan alun-alun, yang di sampingnya terdapat bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyat. Sedangkan sebelah barat alun-alun didirikan sebuah masjid agung (Ambary, 1988: 30).

Pemindahan pusat pemerintahan dari daerah pedalaman ke pesisir sangatlah menguntungkan baik dalam bidang politik maupun sosial-ekonomi; dengan kepindahan pusat kota itu hubungan dengan negara-negara lain di pesisir Jawa, Sumatra Barat dan Malaka, bahkan hubungan dengan negara di luar kepulauan nusantara pun akan lebih mudah. Pelabuhan Banten, yang pada masa Pajajaran hanya menjadi pelabuhan kedua setelah Kalapa, pada masa Maulana Hasanuddin telah berubah menjadi bandar besar yang menjadi persinggahan utama dan penghubung antara pedagang dari Arab, Parsi, India dan Cina dengan negara-negara di Nusantara. Situasi demikian berkaitan dengan keadaan peta politik di Asia Tenggara; setelah Malaka dikuasai Portugis. Dengan keadaan itu, Banten, yang berada di tengah perdagangan rempah-rempah ke dan dari Maluku, menjadi tempat untuk membeli bekal perjalanan, tempat perdagangan rempah-rempah dan barang dagangan lain dari luar negeri (Tjandrasasmita, 1975: 322). Pedagang-pedagang dari Arab, Persi, Gujarat, Birma, Cina dan negara-negara lain datang secara berkala di Banten; demikian juga pedagang dari Nusantara.

Maulana Hasanuddin, dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota Banten, lebih menitikberatkan pada pengembangan di sektor perdagangan, di samping memperluas daerah pertanian dan perkebunan. Ia berusaha mendorong peningkatan pendapatan rakyatnya dengan melalui pertumbuhan pasar yang cepat. Karena Banten menjadi tempat persinggahan perdaganan rempah-rempah dari Eropa maupun Asia dan juga daerah-daerah di nusantara, maka Banten pun harus mempunyai persediaan lada yang cukup, yang pada waktu itu menjadi hasil perdagangan utama. Hasil lada ini diambil dari daerah Banten sendiri dan daerah lain di bawah kuasa Banten, yaitu Jayakarta, Lampung dan Bengkulu. Perkebunan lada di daerah-daerah itu diperluas untuk memenuhi kebutuhan perdagangan yang berkembang (Tjandrasasmita, 1975: 323).

Untuk menggambarkan ramainya perdagangan di Banten ini diceritakan oleh Willem Lodewycks (1596) sebagai berikut (Chijs, 1889:53-56):

“Di Banten ada tiga pasar yang dibuka setiap hari. Yang pertama dan terbesar terletak di sebelah timur kota(Karangantu). Di sana banyak ditemukan pedagang-pedagang asing dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Quilon (India), Pegu (Birma), Melayu, Benggala, Gujarat, Malabar, Abesinia dan dari seluruh nusantara. Mereka berdagang sampai pukul sembilan pagi. Pasar kedua terletak di alun-alun dekat masjid agung, yang dibuka sampai tengah hari bahkan sampai sore. Di pasar ini diperdagangkan merica, buah-buahan, senjata keris, tombak, pisau, meriam kecil, kayu cendana, tekstil, kain putih untuk bahan batik, binatang peliharaan, kambing dan sayuran. Orang-orang Cina menjual benang sulam, sutra, damast, porselen dan lain-lain. Di sini juga dijual rempah-rempah dan obat-obatan. Demikian besarnya pasar kedua ini sehingga ujungnya hampir menyambung dengan pasar pertama di pelabuhan. Pasar ketiga terletak di daerah Pacinan yang dibuka setiap hari sampai malam”.

Cara jual-beli di Banten, pada saat itu, banyak yang masih menggunakan sistem barter; menukar barang dengan barang yang lain, terutama di daerah pedalaman. Di antara daerah yang dibawa dari daerah pedalaman berupa hasil bumi terutama beras dan lada, ditukar dengan kebutuhan sehari-hari seperti garam, pakaian, dan lain-lain. Hasil bumi di atas itulah yang kemudian oleh pedagang di jual kembali sebagai barang eksport. Selain sistem barter, di Banten juga dikenal adanya uang sebagai alat tukar. Tome Pires menceritakan bahwa mata uang yang biasa digunakan adalah real banten dan cash cina (caxa).

Jumlah penduduk kota Banten pada masa Maulana Hasanuddin belum ditemukan data yang pasti; namun melihat kemampuan Banten mengirimkan 7000 tentaranya ke Pasuruan tahun 1546 untuk membantu Demak menaklukkan daerah itu (Djajadiningrat, 1983:84), terlihat, betapa cukup padatnya kota ini. Kalau perbandingan antara banyaknya tentara dengan penduduk biasa 1 : 10 saja, maka paling tidak penduduk kota Banten saat itu ada sekitar 70.000 jiwa.

Karena banyaknya pedagang muslim yang, selain aktif berniaga juga aktif menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk negeri, maka di Banten terkumpul beberapa ulama yang meng-ajarkan Islam kepada siapa saja. Akhirnya, Banten pun menjadi pusat penyebaran ajaran Islam untuk daerah Jawa Barat dan sebagian Sumatra. Banyak santri (pelajar) dari luar daerah yang sengaja datang ke Banten untuk belajar ilmu-ilmu agama, sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam, seperti di Kasunyatan. Di tempat ini berdiri Masjid Kesunyatan yang umurnya lebih tua dari Masjid Agung Banten (Ismail, 1983: 35). Di sini pulalah tempat tinggal dan mengajar Kiyai Dukuh yang kemudian bergelar Pangeran Kesunyatan, guru Pangeran Yusuf (Djajadiningrat, 1983:163). Di samping membangun Mesjid Agung di dekat alun-alun, Maulana Hasanuddin juga memperbaiki mesjid di Pacinan dan Karangantu (Ambary, 1978:1 dan Michrob, 1984:5). Masjid Agung dan masjid di Pacinan ini mempunyai atap tumpang limasan dalam lima susun, dan ini menjadi model mesjid-mesjid kuno di Jawa, seperti Masjid Demak, Sendang Duwur dan sebagainya.

  1. Banten Melepaskan Diri dari Kuasa Demak

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fattah (Raden Patah) atau Pangeran Jinbun sekitar tahun 1500. Ia adalah putra Prabu Brawijaya Kertabhumi, raja Majapahit terakhir, dari seorang selir asal Cina (Djajadiningrat, 1983: 266; Muljana, 1968: 95).

Pada tahun 1478 terjadilah penyerbuan terhadap Majapahit oleh Kediri. Prabu Brawijaya gugur dalam pertempuran itu, dibunuh oleh Senapati Udara, seorang patih Kediri. Dengan demikian Prabu Giri Indra Wardhana, Raja Kediri, mengambil alih kekuasaan Majapahit. Tapi pada tahun 1498 Prabu Indra Wardhana dibunuh pula oleh Patih Udara dalam satu pemberontakan, yang kemudian, Patih Udara mengangkat dirinya menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara.

Perubahan politik di pusat pemerintahan Majapahit ini merupakan salah satu faktor yang mendorong semangat Raden Fattah untuk lebih giat lagi mengembangkan daerahnya, Bintaro, menjadi daerah kuat dengan santri-santrinya yang dididik keprajuritan. Di samping itu, penyebaran agama Islam lebih ditingkatkan sehingga sebagian besar masyarakat pesisir utara Jawa memeluk agama Islam. Hal ini dapat dikaitkan dengan dorongan moril Sunan Giri kepada Raden Fattah bahwa dialah yang lebih berhak menjadi raja Majapahit dibandingkan dengan Prabu Udara. Dengan kata lain, jika Raden Fattah menyerang Prabu Udara dalam rangka merebut pusat pemerintahan Majapahit, maka peristiwa tersebut ditafsirkan sebagai usaha untuk mengambil pusaka orang tuanya sendiri. Karenanya, beberapa raja di pesisir utara Jawa menganggap pemerintahan Prabu Udara atas Majapahit ini tidak sah.

Hubungan yang tidak harmonis antara daerah-daerah pesisir utara dangan pusat pemerintahan Majapahit, mengakibatkan ekonomi menjadi lemah. Karena sebagaimana telah dijelaskan, bahwa daerah-daerah pesisir utara Jawa adalah kota-kota pelabuhan dagang, yang merupakan sumber pemasukan devisa yang sangat potensial untuk kas negara, melalui perdagangan ekspor-impornya. Krisis ekonomi yang berkepanjangan ini pada gilirannya merusak kesatuan sosial kehidupan masyarakat dan secara tidak langsung ikut melemahkan kekuatan Majapahit.

Dalam keadaan kerajaan yang tidak menentu akibat penolakan rakyat secara the jure terhadap pemerintahannya, pengaruh Islam maju cukup pesat di pesisir utara Jawa, ditambah keadaan kehidupan sosial-ekonomi rakyat yang semakin memburuk — yang pada akhirnya menyebabkan kewibawaan pemerintah pusat menurun — maka Prabu Udara mengadakan hubungan persahabatan dengan Portugis di Malaka.

Dengan membawa hadiah-hadiah yang berharga, pada tahun 1512 berangkatlah utusan Majapahit menemui Alfonso d’Albuquerque di Malaka (Berg, 1952: 385). Mendengar tindakan Prabu Udara itu, Raden Fattah dibantu beberapa raja pesisir segera mengadakan penyerangan besar-besaran terhadap Majapahit pada tahun 1517. Melalui pertempuran hebat dan banyak memakan korban akhirnya Majapahit dapat dikalahkan. Prabu Udara dan beberapa pengikut setianya melarikan diri ke Bali, Pasuruan dan Blambangan. Semua barang kebesaran Majapahit dipindahkan ke Bintaro, yang selanjutnya menjadi ibu kota Kerajaan Demak. Maka pada masa Raden Fattah, di Pulau Jawa hanya ada dua kerajaan Hindu, yakni Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat dan Kerajaan Blambangan di Pasuruan.

Raden Fattah mempunyai tiga orang putra: Pangeran Muhammad Yunus, Pangeran Sekar Seda Lepen dan Pangeran Trenggono. Sebagai putra raja, mereka dilatih dalam urusan pemerintahan untuk dipersiapkan menjadi pemimpin negara sepeninggal orang tuanya. Dalam hal ini, Muhammad Yunus, sebagai putra tertua, diangkat menjadi Patih Demak, yang bertugas sebagai pendamping raja dalam segala urusan kenegaraan; sehingga ia disebut Patih Yunus atau Patih Unus.

Patih Yunus yakin bahwa Portugis adalah musuh besar umat Islam. Mereka selalu berusaha menghancurkan negara-negara Islam. Ini mereka buktikan sendiri dengan menjajah Kesultanan Malaka dan di Malaka pedagang-pedagang yang beragama Islam selalu dipersulit dengan berbagai peraturan dan pajak yang tinggi. Orang Portugis bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan Hindu untuk menghancurkan Kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan Hindu lebih senang bersahabat dengan bangsa asing, Portugis, dibanding bersahabat dengan kerajaan Islam di Jawa. Persahabatan Majapahit dengan Portugis lebih meyakinkan Patih Yunus untuk menyerang dan menghancurkan Portugis di Malaka.

Maka pada tahun 1512, setelah mendapatkan izin ayahnya, bersama dengan 90 buah kapal jung yang berkekuatan 12.000 prajurit dilengkapi dengan meriam-meriam buatan sendiri, berangkatlah armada Demak ke Malaka. Perang besar terjadi di Selat Malaka pada tahun 1513, tapi karena pertahanan armada Portugis lebih kuat dan lebih berpengalaman dalam pertempuran laut, maka pasukan Demak pulang dengan membawa kekalahan. Patih Yunus sendiri pulang dengan sebuah jung ke Jepara, bandar kerajaan Demak. Setelah penyerangan Malaka itu, Patih Yunus bergelar Pangeran Sabrang Lor (Berg, 1952: 385).

Raden Fattah meninggal pada tahun 1518, kemudian tahta Demak digantikan oleh Pangeran Muhammad Yunus. Muhammad Yunus meninggal dunia pada tahun 1521 dengan tidak meninggalkan putra, oleh karena itu adiknyalah yang berhak menggantikan sebagai raja Demak. Kedua adik Muhammad Yunus, yakni Pangeran Sekar Seda Lepen dan Pangeran Trenggono sama-sama ingin menjadi raja, maka terjadilah perebutan pengaruh di antara keduanya. Apabila hal demikian didiamkan, dikhawatirkan akan terjadi perang saudara yang akan menimbulkan perpecahan dan menelan banyak korban. Pikiran semacam inilah yang mendorong Pangeran Mu’min atau dikenal dengan nama Sunan Prawoto, anak sulung Pangeran Trenggono, membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen. Dengan demikian maka Pangeran Trenggono diangkat menjadi Raja Demak pada tahun 1521 sampai tahun 1546 (Hamka, 1976: 158-160).

Pada kurun pemerintahan Trenggono, perluasan pengaruh Islam mengalami kemajuan yang pesat di Jawa. Tahun 1527, dikuasainya wilayah Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1546 diadakan penyerangan ke Pasuruan, Panarukan, dan Supit Urang, sebagai daerah-daerah penting Kerajaan Blambangan. Dalam usaha memperluas pengaruh Islam di Jawa Timur ini, Banten mengirimkan 7.000 prajurit pilihan yang langsung dipimpin oleh Fatahillah untuk membantu pasukan Demak. Walaupun ketiga daerah tersebut dapat dikuasainya, tapi Trenggono sendiri gugur dalam satu pertempuran.

Tahta Demak kemudian dipegang oleh Sunan Prawoto, anak tertua Trenggono. Tapi baru satu tahun ia memerintah Demak, Sunan Prawoto dibunuh oleh misannya Arya Penansang, putra Pangeran Sekar Seda Lepen, sebagai tindakan balas dendam. Anak Sunan Prawoto, yaitu Pangeran Pangiri, juga akan dibunuhnya pula, namun tidak berhasil, karena Pangeran Pangiri lebih dahulu meloloskan diri dan berlindung kepada Pangeran Hadiri, Adipati Kalinyamat. Akhirnya, Pangeran Hadiri pun dibunuh oleh suruhan Arya Penansang (Berg, 1952: 390).

Krisis kepemimpinan di pusat kerajaan Demak ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 21 tahun (1547 – 1568). Kefakuman kepemimpinan Demak ini baru berakhir setelah Jaka Tingkir, menantu Trenggono, dapat membunuh Arya Penansang dalam suatu pertempuran sengit. Jaka Tingkir dinobatkan menjadi penguasa di Demak dengan gelar Sultan Adiwijoyo dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang; sedangkan Demak dijadikan kadipaten dengan Arya Pangiri sebagai bupatinya. Sultan Adiwijoyo memerintah selama 16 tahun (1568 – 1586), yang kemudian tewas dalam pertempuran melawan pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sutowijoyo.

Kemelut berkepanjangan yang melanda pemerintahan ini menyebabkan kerajaan Demak menjadi lemah dalam segala bidang kehidupan. Keadaan ini mengakibatkan Demak kehilangan kewibawaannya di mata dunia internasional, sedang dalam waktu yang bersamaan, Banten, mengalami kemajuan dalam segala segi. Situasi demikianlah yang mendorong Hasanuddin mengambil keputusan untuk melepaskan Banten dari pengawasan Demak. Banten menjadi kerajaan yang berdiri sendiri, dengan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertamanya. Sedang wilayah kekuasaannya pada waktu itu meliputi Banten, Jayakarta sampai Kerawang, Lampung, Indrapura sampai Solebar (Djajadiningrat, 1983: 38).

Tindakan Hasanuddin melepaskan diri dari pengawasan Demak ini dianggap sangat penting, karena di samping untuk kemajuan pengembangan daerah Banten, juga, berarti Hasanuddin tidak mau ikut terlibat dalam keributan di pemerintahan Demak, yang masih terhitung famili dekat. Dengan ketidakterikatannya dengan Demak, maka dalam masa pemerintahan Maulana Hasanuddin selama 18 tahun (1552 – 1570), banyak kemajuan yang diperoleh Banten dalam segala bidang kehidupan (Djajadiningrat, 1983:181).

Dalam kehidupan pribadi Maulana Hasanuddin, dari pernikahannya pada tahun 1526 dengan putri Raja Demak, Trenggono, yang bernama Pangeran Ratu (Ratu Ayu Kirana), dikarunia anak : Ratu Pembayun, Pangeran Yusuf, Pangeran Arya, Pangeran Sunyararas, Pangeran Pajajaran, Pangeran Pringgalaya, Ratu Agung atau Ratu Kumadaragi, Pangeran Molana Magrib dan Ratu Ayu Arsanengah. Sedang anak dari istri yang lainnya: Pangeran Wahas, Pangeran Lor, Ratu Rara, Ratu Keben, Ratu Terpenter, Ratu Wetan dan Ratu Biru. Ratu Pembayun kemudian menikah dengan Ratu Bagus Angke putra Ki Mas Wisesa Adimarta yang selanjutnya mereka tinggal di Angke daerah Jayakarta (Djajadiningrat, 1983:128).

Maulana Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dikuburkan di samping Masjid Agung. Setelah kematiannya Maulana Hasanuddin dikenal dengan sebutan Sedakinkingkemudian sebagai gantinya dinobatkanlah Pangeran Yusuf menjadi Raja Banten ke-2.

B. MAULANA YUSUF (1570 – 1580)

Masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, pembangunan negara lebih dipusatkan pada bidang keamanan kota, perluasan wilayah perdagangan, di samping penyebaran dan pemantapan kepercayaan rakyat kepada ajaran Islam; sedangkan pada masa Maulana Yusuf strategi pembangunan lebih dititikberatkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Tahun 1579, pasukan Banten dapat merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran (Djajadiningrat, 1983:153). Ponggawa-ponggawa yang ditaklukkan lalu di-islamkan dan masing-masing dibiarkan memegang jabatannya semula (Djajadiningrat, 1983: 37). Dengan demikian, gangguan keamanan yang dikhawatirkan datang dari Pajajaran sudah berkurang. Maulana Yusuf dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pembangunan sektor ekonomi dan pertanian.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan sudah demikian maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang-barang dari segala penjuru dunia yang nantinya disebarkan ke seluruh kerajaan di Nusantara (Sutjipto, 1961:13). Situasi perdagangan di Karangantu, sebagai pelabuhan Banten, digambarkan sebagai berikut : Pedagang-pedagang dari Cina membawa uang kepeng yaitu uang yang terbuat dari timah, porselen, sutra, beludru, benang emas, kain sulaman, jarum, sisir, payung, selop, kipas, kertas, dan sebagainya. Pulangnya mereka membawa lada, nila, kayu cendana, cengkeh, buah pala, kulit penyu dan gading gajah. Orang Arab dan Persia membawa permata dan obat-obatan. Orang Gujarat menjual kain dari kapas dan sutra, kain putih dari Coromandel. Pulangnya mereka membeli rempah-rempah. Sedangkan orang Portugis mambawa kain-kain dari Eropa dan India.

Barang-barang dari luar negeri ini diambil oleh pedagang-pedagang dari Jawa, Makasar, Sumbawa, Palembang dan lainnya. Ke Banten pedagang-pedagang ini membawa garam dari Jawa Timur, gula dari Jepara dan Jayakarta, beras dari Makasar dan Sumbawa, ikan kering dari Karawang, Banjarmasin dan Palembang. Minyak kelapa dari Belambangan, rempah-rempah dari Maluku, lada dari Lampung dan Solebar, kayu cendana dari kepulauan Sunda kecil, gading gajah dari Andalas, tenunan dari Bali dan Sumbawa, timah putih dan timah hitam dari Perak, Kedah dan Ujung Selong di Malaka, besi dari Karimata, damar dari Banda dan Banjarmasin (Sanusi Pane, 1950:182).

  1.  Pengembangan Kota Banten

Dengan majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan, sejak pindahnya kota ini dari Wahanten Girang tanggal 8 Oktober 1526 M dikembangkan menjadi kota pelabuhan terbesar di Jawa (Michrob, dkk., 1990). Babad Banten pupuh XXII menyatakan: Gawe Kuta baluwarti bata kalawan kawis yang artinya: membangun kota dan perbentengan dari bata dan karang. Dari awal dinasti Maulana Yusuf inilah Banten menjadi ramai baik oleh penduduk pribumi maupun pendatang. Oleh karenanya dibuatlah aturan penempatan penduduk sesuai dengan keahlian dan asal daerah penduduk itu (Ambary, 1977:448). Sehingga tumbuhlah perkampungan untuk orang India, perkampungan orang Pegu, orang Arab, Turki, Persia, Siam, Cina dan sebagainya. Di samping ada pula perkampungan untuk orang Melayu, Ternate, Banjar, Bugis, Makasar, Bali (Tjandrasasmita, 1975:160).

Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota. Seperti Kampung Pekojan yang terletak di sebelah barat pasar Karangantu diperuntukkan bagi pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab, Gujarat, Mesir dan Turki. Kampung Pecinan terletak di sebelah barat Masjid Agung di luar batas kota, diperuntukkan bagi pendatang dari Cina. Kampung Panjunan tempat pemukiman tukang anjun (gerabah, periuk, belanga, dan sebagainya). Kampung Kepandean tempat pandai besi, Pangukiran tempat tukang ukir, Pagongan tempat pembuat gong dan gemelan, Sukadiri tempat pengecoran logam, dan pembuatan senjata perang (Tjandrasasmita, 1975:162). Demikian juga untuk golongan birokrasi tertentu, seperti : Kademangan tempat demang, Kesatrian, tempat para senopati, perwira dan para prajurit istana, Kefakihan tempat ulama-ulama hukum Islam, dan sebagainya (Michrob, 1981:74).

Pengelompokan pemukiman ini bukan saja dimaksudkan untuk kerapihan dan keserasian kota tetapi yang lebih penting adalah untuk keamanan. Setiap kampung secara bersama-sama dapat segera mencegah pencurian, perampokan dan kebakaran yang sering terjadi (Chijs, 1881:66). Yang akhirnya, ini pun dapat merupakan upaya penyebaran dan perluasan kota (Michrob, 1981:31).

Tembok keliling kota diperkuat dan dipertebal, demikian juga tembok benteng di sekeliling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat dari bata dan batu karang dengan parit-parit di sekelilingnya (Djajadiningrat, 1983:144, Michrob, 1983:31). Perbaikan Masjid Agung pun dikerjakannya, dan sebagai kelengkapan dibuatlah menara dengan bantuan Cek Ban Cut arsitek muslim asal Mongolia(Ismail, 1983).

Di samping mengembangkan pertanian yang sudah ada, Maulana Yusuf pun mendorong rakyatnya untuk membuka daerah-daerah baru bagi persawahan, sehingga sawah di Banten bertambah luas sampai melewati daerah Serang sekarang. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut, dibuatlah terusan-terusan irigasi dan bendungan-bendungan (Djajadiningrat, 1983:38 dan 59).

Bagi persawahan yang terletak di sekitar kota, dibangun satu danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian dibagi ke daerah-daerah di sekitar danau. Tasikardi juga digunakan bagi pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kebutuhan masyarakat di kota. Dengan melalui pipa-pipa yang terbuat dari terakota, setelah dibersihkan/ diendapkan di pengindelan abangdan pengindelan putih, air yang sudah jernih tersebut dialirkan ke keraton dan tempat-tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan tersebut terdapat pulau kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga keraton.

Dari permaisuri Ratu Hadijah, Maulana Yusuf mempunyai

dua anak yaitu Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad, sedangkan dari istri-istri lainnya baginda dikaruniai anak antara lain: Pangeran Upapati, Pangeran Dikara, Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina, Pangeran Aria Ranamanggala, Pangeran Mandura, Pangeran Seminingrat, Pangeran Dikara (lagi), Ratu Demang atau Ratu Demak, Ratu Pacatanda atau Ratu Mancatanda, Ratu Rangga, Ratu Manis, Ratu Wiyos dan Ratu Balimbing (Djajadiningrat, 1983:39).

Pada tahun 1580, Maulana Yusuf mangkat dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat Kampung Kesunyatan sekarang, karenanya setelah meninggal Maulana Yusuf diberi gelar Pangeran Penembahan Pekalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai penggantinya, diangkatlah Pengeran Muhammad, anak Maulana Yusuf yang pada waktu itu baru berusia 9 tahun (Djajadiningrat, 1983-163).

  1. Peristiwa menjelang wafatnya Maulana Yusuf

Ketika Maulana Yusuf sakit keras, datanglah Pangeran Aria Jepara dengan membawa pasukan besar ke Banten dengan maksud untuk menjeguk. Pangeran Aria Jepara dengan pasukannya yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana, kemudian ditempatkan di Pagebangan di luar tembok batas kota. Pangeran Jepara adalah adik dari Maulana Yusuf yang pendidikannya diserahkan kepada bibinya Ratu Kalinyamat di Jepara. Mendengar wafatnya Maulana Yusuf yang kemudian digantikan Pangeran Muhammad yang masih kecil itu, timbullah niat Pangeran Aria untuk menjadi pengganti Raja Banten. Keinginan ini mendapat sambutan baik dari Patih Mangkubumi yang semenjak Sultan sakit memegang kendali pemerintahan. Melihat keadaan demikian, Kadhi (hakim), Senapati Pontang, Dipati Jayanegara, Ki Waduaji dan Ki Wijamanggala yang ditunjuk sebagai Wali Sultan, mengirim surat kepada Mangkubumi supaya Mangkubumi tetap setia kepada raja yang baru saja mangkat. Sindiran halus ini dapat dipahami oleh Mangkubumi, sehingga diadakanlah rapat di antara pembesar-pembesar istana tanpa diketahui Pangeran Aria Japara. Akhirnya disetujuilah usul supaya Pangeran Muhammad tetap diangkat menjadi Raja, sedangkan roda pemerintahan untuk sementara tetap ditangani oleh Patih Mangkubumi sampai Putra Mahkota dewasa.

Diaturlah cara menyampaian berita itu kepada Pangeran Japara agar tidak terjadi pertumpahan darah diantara para saudara sepupu yang akan menambah kedukaan rakyat Banten. Mangkubumi pergi dengan membawa seekor gajah kerajaan menemui Pangeran Japara di luar kota, dan minta supaya Pangeran menaiki gajah tersebut dengan memakai pakaian kebesaran lengkap ke keraton, seolah-olah memang usul Pangeran Japara diterima rakyat. Dengan diapit oleh Mangkubumi dan Ki Demang Laksamana, Pangeran Japara dan pasukannya beriringan pergi ke keraton. Sampai di tepi sungai di luar tembok benteng keraton, sebelum darpalagi, Mangkubumi memberi aba-aba untuk berhenti. Di seberang sungai,  di bawah atap srimanganti, yaitu gerbang di luar istana, sudah menanti Putra Mahkota yang duduk dalam pangkuan Kadhi dikelilingi para ponggawa dan para menteri kerajaan dengan pasukan Banten yang cukup kuat. Selanjutnya, Mangkubumi menyeberangi sungai sendirian, untuk kemudian menyiagakan pasukan Banten supaya waspada apabila terjadi yang tidak dikehendaki.

Setelah persiapan beres, Mangkubumi kembali menemui Pangeran Jepara, dan mengatakan bahwa ia diperintahkan Putra Mahkota untuk menghalang-halangi Pangeran Jepara dan rombongan menyeberangi sungai, dan dengan segala hormat minta supaya Pangeran segera meninggalkan Banten dengan kapal-kapal yang telah disediakan. Mengetahui muslihat Mangkubumi itu, marahlah Pangeran Jepara dan memerintahkan pasukannya untuk menyerbu keraton. Maka terjadilah pertempuran hebat di luar benteng istana. Dalam pertempuran itu Ki Demang Laksamana tewas di tangan Mangkubumi sehingga akhirnya pasukan Pangeran Aria Japara melarikan diri kembali ke Jepara. Setelah kejadian tersebut dinobatkanlah Pangeran Muhammad menjadi Raja Banten ke-3 dengan gelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan. Kadhi menyerahkan perwaliannya kepada Mangkubumi (Djajadiningrat, 1983: 39-41).

C. MAULANA MUHAMMAD KANJENG RATU BANTEN SUROSOWAN (1580 – 1596)

Keadaan Banten pada masa Maulana Muhammad ini dapat kita ketahui dari kesaksian Willem Lodewycksz, juru tulis Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dari catatan mereka dapatlah diketahui keadaan kotaBanten secara lebih jelas.

Ketika itu, Banten telah mempunyai tembok-tembok yang tebalnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Tembok-tembok itu tidak mempunyai menara-menara, melainkan semacam tiang gantungan setinggi tiga stagie yang terbuat dari kayu besar (kira-kira 3 m). Orang dapat melayari kotaseluruhnya melalui banyak sungai. Diperkirakan besar Kota Banten sebesar kota Amsterdam pada tahun 1480 ketika kota itu dikelilingi tembok untuk pertama kalinya. (Chijs, 1881:18 dan Djajadiningrat, 1983:144).

Mulai dari pintu gerbang besar istana sampai di luar, terdapat bangunan-bangunan: made bahan, tempat tambak bayamelakukan jaga, made mundu dan made gayam, selanjutnya sitiluhur atau sitihinggil yang di dekatnya terdapat bangunan untuk gudang senjata dan kandang kuda kerajaan. Kemudian terdapat pakombalan yaitu penjagaan untuk “wong gunung”. Di sebelah utara terdapat tempat perbendaharaan dan di sebelah barat berdiri masjid dengan menara di sampingnya. Kemudian terdapat satu perkampungan yang disebut Candi Raras, yang di antaranya terdapat bangunan-bangunan made bobot dan made sirap. Di sebelah timur made bobot terdapat mandapa yaitu suatu bangunan terbuka yang di sana dipasang meriam Ki Jimat yang mengarah ke utara. Dekat srimanganti terdapat waringinkurungdan watugilang. Di tepi sungai terdapat panyurungan atau galangan kapal kerajaan. Di sebelah barat laut terdapat pasar dan di sebelah baratnya terdapat masjid besar kerajaan. Dekat panyurugan terdapat tonggak yang mengikat gajah raja yang bernama Rara Kawi. Di sebelahnya terdapat jembatan besar dari kayu jati melintasi sungai yang selanjutnya terdapat jalan raya dengan pagar kembar menuju ke arah utara ke perbentengan. Perbentengan sebelah dalam atau baluwarti dalem disebut lawang sademi atau lawang seketeng yang di sebelah baratnya berdiri pohon beringin besar dan perbentengan Sambar Lebu(Djajadiningrat, 1983:57).

Banten mempunyai kapal perang yang menyerupai kapal galai dengan dua tiang layar. Keistimewaan kapal ini mempunyai serambi yang sempit dengan geladak luas. Hal ini memungkinkan tentara lebih leluasa bergerak dalam perang. Di bagian depannya ditempatkan empat pucuk meriam. Sedangkan ruang pengayuh ditempatkan di bagian bawah. Untuk perjalanan jauh seperti ke Maluku, Banda, Kalimantan, Sumatra dan Malaka digunakan kapal jung besar dengan layar kecil di depannya. Di samping itu ada juga perahu-perahu lesung kecil yang bisa berlayar dengan cepat yang belum pernah dilihat oleh orang Belanda sebelumnya (Tjandrasasmita, 1975:17-18). Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk (Michrob, 1984:5).

Tentang pasar sebagai pusat perekonomian, dapat dilihat dari catatan Willem Lodewyckz yang mengatakan sebagai berikut: “Di sebelah timur kota yaitu daerah Karangantu, terdapat sebuah pasar yang pagi maupun siang terdapat pedagang-pedagang dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Bengali, Gujarat, Malabar dan Abesinia. Juga terdapat pedagang-pedagang dari Nusantara seperti dari Bugis, Jawa dan lain-lain. Pasar kedua terletak di Paseban, yang memperdagangkan keperluan sehari-hari. Dan pasar ke tiga terletak di Pacinan yang dibuka sebelum dan sesudah pasar-pasar lain tutup. Barang-barang yang diperdagangkan di pasar ketiga ini bermacam ragam, mulai dari kain sutra dari Cina dan Gujarat sampai sisir dan kipas. Diceritakan pula, bahwa barang-barang tekstil dari Gujarat ini 20 jenis. Transansi perdagangan di pasar ini berjalan mudah, karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal” (Tjandrasasmita, 1975: 218-231).

Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang shaleh[4]. Untuk kepentingan menyebaran agama Islam ia banyak mengarang kitab-kitab agama yang kemudian di-wakaf-kan kepada yang membutuhkan. Sultan sangat hormat kepada gurunya yang bernama Kiyai Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan di Kampung Kesunyatan (Djajadiningrat, 1983:39 dan 164). Untuk sarana ibadat dibangunnya masjid-masjid sampai ke pelosok-pelosok yang di sana terdapat banyak masyarakat muslim. Dalam shalat berjamaah terutama pada shalat Jum’at dan Hari Raya, Sultan yang selalu menjadi imam dan khotib. Mesjid Agung yang terletak di tepi alun-alun diperindahnya. Tembok masjid dilapisi dengan porselen dan tiangnya dibuat dari kayu cendana (Michrob, 1981:32). Untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawestrenatau pawadonan (Tjandrasasmita, 1975:131-132).

Peristiwa yang menonjol pada masa Maulana Muhammad adalah peristiwa penyerbuan ke Palembang. Kejadian ini bermula dari hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi raja di Palembang. Pangeran Mas adalah putra dari Aria Pangiri, putra dari Sunan Prawoto atau Pangeran Mu’min dari Demak. Aria Pangiri tersisih dua kali dari haknya menjadi raja di Demak, dan karena ketahuan hendak melepaskan diri dari kuasa Mataram, Sutawijaya, raja Mataram, hendak membunuhnya. Tapi atas bujukan  istrinya  hal  itu  tidak  dilakukannya setelah Aria Pangiri berjanji tidak akan kembali ke daerah Mataram untuk selamanya. Akhirnya dia menetap di Banten sampai meninggalnya.

Terdorong oleh darah muda dan pandainya Pangeran Mas membujuk, Sultan pun dapat dipengaruhinya. Saran Mangkubumi dan pembesar-pembesar senior lainnya tidak diindahkannya, sehingga akhirnya disiapkanlah pasukan perang untuk segera mengadakan penyerbuan ke Palembang. Dengan 200 kapal perang berangkatlah pasukan Banten dipimpin oleh Sultan Muhammad yang didampingi Mangkubumi dan Pangeran Mas. Lampung, Seputih dan Semangka diperintahkan untuk mengerahkan tentaranya menyerang dari darat. Maka terjadilah pertempuran hebat di Sungai Musi sampai berhari-hari lamanya. Dan akhirnya pasukan Palembang dapat dipukul mundur. Tapi dalam keadaan yang hampir berhasil itu, sultan yang memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri tertembak yang mengakibatkan kematiannya. Penyerangan ke Palembang ini tidak dilanjutkan, pasukan Banten kembali tanpa hasil (Djajadiningrat, 1983: 41-42). Peristiwa gugurnya Maulana Muhammad ini terjadi menurut sangsakala prabu lepas tataning prang atau tahun 1596 M (Djajadiningrat, 1983: 168).

Adapun tentang Pangeran Mas, diceritakan bahwa setelah pulang dari Palembang tidak berani lama-lama menetap di Banten karena rakyat menganggap dialah penyebab kematian sultan, sehingga ia pergi kepada Pangeran Ancol di Jayakarta untuk bisa menetap disana. Tetapi di Jayakarta pun Pangeran Mas tidak disenangi, akhirnya di suatu malam didapati Pangeran Mas dibunuh oleh anak kandungnya sendiri (Hamka, 1982:84).

Maulana Muhammad meninggal dalam usia yang sangat muda kurang lebih 25 tahun dengan meninggalkan seorang anak yang baru berusia 5 bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putri dari Mangkubumi. Anak inilah yang menggantikan pemerintahannya. Maulana Muhammad, setelah meninggalnya diberi gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana, dan dikuburkan di serambi Masjid Agung (Djajadiningrat, 1983:169).

D. SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD ABDUL KADIR (1596 – 1651)

Setelah Maulana Muhammad meninggal dunia, maka sebagai penggantinya dinobatkan anaknya, Abul Mafakhir, yang baru berusia 5 bulan. Karena itu, untuk menjalankan roda pemerintahan ditunjuk Mangkubumi Jayanagara sebagai walinya. Mangkubumi Jayanegara adalah seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya dalam hal pemerintahan. Setiap akan mengambil putusan yang dianggap penting, beliau selalu musyawarah dengan pembesar lainnya terutama dengan seorang wanita tua bijaksana yang juga ditunjuk sebagai pengasuh Sultan muda yang bernama Nyai Emban Rangkun (Djajadiningrat, 1983:169). Dalam masa pemerintahannya, negara banyak mengalami kemajuan terutama dalam bidang perdagangan. Pada masanya pulalah kapal dagang Belanda yang pertama mendarat di pelabuhan Banten.

Masa pemerintahan perwalian oleh Mangkubumi Jayanagara sebagai wakil Sultan Abul Mafakhir adalah masa yang paling pahit dalam pemerintahan Kesultanan Banten, karena adanya pertentangan di antara beberapa keluarga kerajaan yang saling berbeda kepentingan di samping adanya keinginan dari pihak yang hendak merebut tahta kerajaan karena Sultan masih kecil.

Mangkubumi Jayanagara meninggal pada tahun 1602 yang digantikan oleh adiknya. Tapi tidak lama kemudian, yaitu pada tanggal 17 Nopember 1602 ia dipecat dari jabatannya karena “berkelakuan tidak baik”. Dan karena dikhawatirkan akan menyebabkan perpecahan dan irihati di antara pangeran dan pembesar negara, maka diputuskan untuk tidak mengangkat Mangkubumi baru; sedangkan perwalian diserahkan pada ibunda Sultan, Nyai Gede Wanagiri (Djajadiningrat, 1983:170).

Tidak lama kemudian Nyai Gede Wanagiri menikah kembali dengan seorang bangsawan keraton. Atas desakannya pula, suaminya itu diangkat sebagai Mangkubumi. Dalam kenyataan sehari-hari, Mangkubumi yang baru ini di samping tidak mempunyai wibawa, juga banyak menerima suap dari pedagang-pedagang asing, hingga banyak peraturan dan perjanjian dagang yang lebih banyak menguntungkan pribadi mereka dibanding untuk kepentingan negara dan rakyat. Sehingga rakyat menderita, sedangkan raja tidak tahu apa-apa dan bahaya bangsa asing telah mengancam seluruh Banten. Keadaan ini menimbulkan rasa ketidakpuasan dari sebagian pembesar kerajaan, yang akibatnya menimbulkan kekacauan di dalam negeri. Keadaan demikian tidak segera dapat diatasi karena Mangkubumi disibukkan oleh ulah pedagang-pedagang Belanda yang banyak menimbulkan keributan dengan anak negeri, maupun dengan pedagang dari Inggris dan Portugis. Sebagian Pangeran memihak kepada pedagang Portugis dan sebagian lainnya membela pedagang Belanda. Padahal antara pedagang Belanda dan Portogis itu saling bermusuhan.

Peraturan-peraturan yang dikeluarkan Mangkubumi tidak dihiraukan oleh sebagian besar Pangeran. Kekuasaan Mangkubumi hanya terbatas di dalam istana saja, sedangkan di luar, pangeran-pangeran itulah yang berkuasa. Setiap Pangeran dapat mengeluarkan peraturan sendiri yang kadang-kadang saling bertentangan, dan bahkan berbeda dengan putusan Mangkubumi.

Pertentangan antar pembesar keraton ini akhirnya menimbulkan keributan serius pada bulan Oktober 1604, dimana Pangeran Mandalika, putra Maulana Yusuf, menahan sebuah jungdari Johor. Perintah Mangkubumi untuk melepaskan kembali jung itu tidak dihiraukan oleh Pangeran Mandalika; bahkan, untuk melawan tentara kerajaan yang diperintahkan menangkapnya, Pangeran Mandalika bergabung dengan pangeran-pangeran penentang lainnya, dan membuat benteng pertahanan di luar kota. Makin lama kedudukan dan jumlah mereka semakin kuat, sehingga sangat mengkha-watirkan pemangku kuasa. Lebih-lebih lagi banyak rakyat yang simpati terhadap tindakan mereka itu.

Pada bulan Juli 1605, Pangeran Jayakarta beserta beberapa pembesar negeri dengan pasukan besar dan kuat datang di Banten untuk menghadiri perayaan khitanan Sultan muda. Atas permintaan Mangkubumi, Pangeran Jayakarta bersedia membantu menumpas para pemberontak. Dengan bantuan orang Inggris, pasukan Pangeran Jayakarta ini memulai penyerangan dengan menerobos langsung ke kubu pertahanan para perusuh; sedangkan orang Inggris membantu dengan menembaki kubu pertahanan musuh dari kejauhan. Pertempuran hebat di luar kota ini akhirnya dapat memukul mundur pasukan pembangkang, maka diadakanlah perjanjian damai. Parapemimpin pasukan perusuh diharuskan meninggalkan Banten dalam waktu selambat-lambatnya 6 hari dan hanya boleh diikuti 30 orang anggota keluarganya (Djajadiningrat, 1983: 171-172).

Dengan diusirnya biang kerusuhan ini, keadaan Banten tidaklah semakin membaik, bahkan sebaliknya suasana semakin tegang. Pertentangan antar pembesar negara ini sudah demikian hebatnya, sehingga kerusuhan yang sama terjadi lagi pada bulan Juli 1608 yang dikenal dengan Peristiwa Pailir.

Pertentangan antar pembesar kerajaan yang kian memuncak ini menimbulkan persaingan tidak sehat di antara mereka. Masing-masing kelompok berusaha memperkuat kedudukan dirinya dalam segala segi. Untuk mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya bagi kepentingan mempersenjatai diri, para pangeran perusuh itu melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat bertentangan dengan hukum yang berlaku, sehingga tidak jarang terjadi perampokan kapal-kapal pedagang asing ataupun pribumi. Karena tindakan itu, otomatis perniagaan di Banten terhenti.

Salah satu sebab lagi yang menimbulkan rasa tidak senang para pangeran ini adalah sikap dan tindakan Mangkubumi. Diceritakan, Mangkubumi, yang juga adalah ayah tiri Sultan Muda, mendidik Sultan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang, sehingga hampir tidak sekejap pun Sultan muda ditinggalkan, baik dalam penghadapan dan dalam pertemuan-pertemuan dengan para ponggawa dan pejabat-pejabat tinggi istana maupun waktu memeriksa keadaan kota atau pun pada waktu sasapton, Sultan muda tidak lepas dari pangkuannya. Dengan demikian, orang-orang harus selalu bersembah sujud apabila bertemu Mangkubumi karena pasti dipangkuannya ada Sultan muda. Hal ini banyak mengundang ketidaksenangan dan iri hati pada beberapa pangeran dan bangsawan lainnya.

Beberapa bangsawan, di antaranya Pangeran Arya Ranamanggala, Pangeran Mandura, Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Ratu Bagus Kidul, Dipati Yudanagara dan lain-lain mengadakan pertemuan untuk mengatasi kekacauan itu. Dalam pertemuan itu diputuskan untuk segera membunuh Mangkubumi — yang dianggap sebagai biang keladi kerusuhan. Tugas membunuh itu diserahkan kepada Adipati Yudanagara atas jaminan dari Pangeran Runamanggala, Pangeran Mandura dan juga Kadhi.

Untuk melaksanakan tugasnya itu, Adipati Yudanagara mengadakan pembakaran di dalam istana, sehingga Mangkubumi keluar seorang diri tanpa membawa Sultan muda. Kesempatan itu dipergunakan Yudanagara untuk menyerang dan membunuh Mangkubumi dengan menggunakan sebilah tombak. Kejadian ini berlangsung pada tanggal 23 Oktober 1608.

Terbunuhnya Mangkubumi itu membuat kesedihan yang begitu mendalam pada Sultan muda, sehingga Pangeran Arya Ranamanggala dan Pangeran Upapatih merasa kasihan kepadanya. Maka bermusyawarahlah Pangeran Arya Rana-manggala, Pangeran Upapatih, Pangeran Mandalika dan beberapa bangsawan penting lainnya untuk membicarakan pembunuhan Mangkubumi; Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Ratu Bagus Kidul, dan Tubagus Prabangsa tidak mau mengikuti pertemuan itu. Dalam pada itu, mendengar adanya pertemuan demikian, Adipati Yudanagara merasa cemas kalau-kalau dirinya akan ditangkap dan hukum mati — karena dialah yang membunuh Mangkubumi. Oleh karena itu Adipati Yudanagara menemui Pangeran Kulon, dan menyatakan bahwa dirinya dan kawan-kawan lainnya akan mendukung Pangeran Kulon menjadi raja Banten. Dukungan Adipati ini menambah semangat Pangeran Kulon yang memang berambisi besar untuk menjadi raja Banten. Pangeran Kulon merasa dirinyalah yang paling berhak memegang kekuasaan di Banten, dibandingkan dengan Sultan Abdul Kadir. Pangeran Kulon adalah cucu Maulana Yusuf putra dari Ratu Winaon dengan Pangeran Gabang dari Cirebon. Ratu Winaon adalah putri sulung Maulana Yusuf dari permaisuri, kakak kandung Maulana Muhammad; adapun Sultan Abdul Mufakhir Muhammad Abdul Kadir adalah anak Sultan Muhammad dari seorang istri yang lain, karena permaisuri tidak berputra. Tekad Pangeran Kulon ini didukung oleh beberapa Pangeran dan bangsawan Banten, di antaranya Rangga Loleta, Adipati Keling, Pangeran Wiramanggala, Singajaya, Syahbandar, Tumenggung Anggabaya dan Panji Jayengtilem. Mereka mendirikan benteng pertahanan di hilir sungai dekat Pabean di daerah pesisir. Banyak rakyat yang simpati terhadap perjuangan mereka, terutama rakyat di daerah Kepalembangan. Diperkirakan pasukan yang dikumpulkan oleh Pangeran Kulon sekitar enam sampai delapan ribu orang (Djajadiningrat, 1983: 176).

Karena tindakan Pangeran Kulon dan pasukannya ini dianggap membahayakan negara, maka Pangeran Ranamanggala dan Pangeran Upapatih mengumpulkan pasukan kerajaan untuk menyerang kubu pemberontak. Mendengar rencana penyerangan ini, Pangeran Kulon segera menyiapkan pasukannya. Dengan dipimpin oleh Panji Jayengtilem dan Singajaya serta dibantu oleh dua puluh orang prajurit terbaiknya, pasukan perusuh mengadakan penyerbuan mendadak ke istana. Namun, pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Senopati Pangeran Upapatih telah menanti di luar benteng Keraton Surosowan, sehingga terjadilah perang saudara yang hebat.

Jalannya perang saudara itu digambarkan oleh Sajarah Banten sebagai berikut: “Diiringi dengan suara gong pengerah Kiyai Bicak, pasukan kerajaan menyambut serangan pasukan Pangeran Kulon. Pangeran Arya Ranamanggala dan Sultan Abdul Kadir mengawasi pertempuran itu dari atas perbentengan. Dilihatnya pasukan kerajaan bagaikan burung kerenda yang menyambar-nyambar mangsanya di sawah. Panji Jayengtilem akhirnya dapat dibunuh oleh Pangeran Upapatih, sedangkan Pangeran Singajaya gugur di tangan Ki Subuh, pembantu Pangeran Upapatih[5]. Dengan demikian maka pasukan pemberontak akhirnya mengundurkan diri kembali ke kubunya di hilir sungai”.

Untuk memancing kemarahan Pangeran Kulon dan juga membuat jera tentaranya, mayat-mayat pasukan pemberontak dihanyutkan di atas rakit-rakit yang terbuat dari batang pisang supaya dapat dilihat oleh Pangeran Kulon dan pasukannya di hilir sungai. Hal ini membuat marah Pangeran Kulon, sehingga tanpa perhitungan matang pada hari berikutnya ia memimpin sendiri penyerangan dengan mengerahkan semua pasukan yang ada.

Pada mulanya pasukan pemberontak dapat mendesak tentara kerajaan, sehingga meriam induk kerajaan yang bernama Ki Jajaka Tuwa dapat direbut. Dalam Babad Banten diceritakan, bahwa dengan menggunakan meriam itu Pangeran Kulon dapat mematahkan dahan waringinkurung yang ada di samping istana. Setelah Pangeran Arya Ranamanggala dan pasukannya datang membantu, tentara kerajaan akhirnya dapat memukul mundur pemberontak. Mereka kembali ke kubunya di hilir sungai untuk  mengatur serangan berikutnya.

Pada saat yang genting itu, datanglah Pangeran Jayakarta dengan pasukan yang besar, yang kemudian ditempatkan di Pagebangan. Melalui usaha Pangeran Jayakarta, akhirnya perang saudara ini dapat dihentikan dan perjanjian perdamaian dapat disepakati bersama. Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Tubagus Prabangsa dan pimpinan pemberontak lainnya — atas jaminan Pangeran Jayakarta — tidak dibunuh, tapi semuanya dibawa ke Jayakarta sebagai tempat pengasingan selama empat tahun[6].

Setelah kejadian itu Banten menjadi aman, Pangeran Ranamanggala diangkat menjadi Mangkubumi dan juga wali Sultan muda. Perang saudara yang kemudian dikenal dengan nama Pailir[7] terjadi pada sangsakala tanpa guna tataning prangatau tahun 1530 Saka atau sekitar tanggal 8 Maret 1608 sampai tanggal 26 Maret 1609 (Djajadiningrat, 1983: 43:46 dan 169-179).

  1.  Kedatangan Bangsa Belanda di Banten

Berbeda dari abad sebelumnya, pada abad XIV kekuasaan Kesultanan Turki tidak lagi menguasai sebagian besar Eropa dan Asia Timur. Daerah-daerah itu kini dikuasai negara-negara Kristen terutama Portugis, sehingga Lisabon kembali menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa. Pedagang-pedagang Inggris, Belanda dan sebagainya membeli rempah-rempah dari Lisabon. Apalagi daerah-daerah penghasil rempah-rempah itu hanya diketahui Portugis (Sutjipto, 1961).

Pengangkutan rempah-rempah dari Lisabon mendatang-kan keuntungan banyak bagi pedagang-pedagang Belanda; yaitu menyalurkannya kembali ke Jerman dan negara-negara lain di Eropa Timur. Tetapi karena pecahnya perang antara Nederland dengan Spanyol pada tahun 1568 yang dikenal dengan “Perang Delapan Puluh Tahun”[8]  mengakibatkan perdagangan Belanda di Eropa Selatan menjadi tidak lancar, lebih-lebih sesudah Spanyol berhasil menduduki Portugal pada tahun 1580. Raja Spanyol, Phillipos II, yang mengetahui bahwa kemakmuran Nederland sebagian besar didapat dari perdagangan di Portugal, memukul Nederland dengan melarang kapal-kapal dagang Belanda mengunjungi bandar-bandar di daerah kekuasaannya. Akibat tindakan itu, perdagangan rempah-rempah Belanda terhenti, kemajuan Lisabon terhambat dan harga rempah-rempah di Eropa menjadi tinggi, karena persediaan berkurang.

Situasi perang antara Spanyol dan Belanda itu banyak membuat pedagang-pedagang Belanda mengalami kesukaran, apalagi sering terjadi perampokan kapal-kapal dagangnya oleh pelaut Inggris dan juga penangkapan oleh armada Spanyol[9].  Hal-hal semacam inilah yang mendorong pedagang-pedagang Belanda untuk dapat langsung berhubungan dengan negara-negara di Asia sebagai peng-hasil cengkeh dan lada, tanpa diketahui patroli Spanyol.

Gagasan untuk mencari sumber rempah-rempah di Asia itu dilaksanakan melalui persiapan dan perencanaan yang cukup baik. Ahli-ahli ilmu bumi seperti Pancius, seorang pendeta di Amsterdam dan Mercator di Nederland Selatan diserahi menyusun peta dunia dan dimintai pandangan-pandangannya.

Ketika itu (1593) terbitlah sebuah buku Itineratio dalam bahasa Belanda karya Jan Huygen van Linschoten yang menceritakan tentang benua Asia dan mengenai Hindia (Indonesia), lengkap dengan adat istiadat, agama, barang dagangan yang disenangi penduduk, dan sebagainya mengenai daerah Asia itu. Pengarang buku ini pernah ikut dalam expedisi Portugis ke Asia dan pernah tinggal beberapa lama di Goa, India.

Untuk menghindari pengejaran tentara Portugis, beberapa pedagang Belanda, dibantu oleh pemerintah, dengan kapal yang dirancang khusus mencoba mengarungi Laut Es, sebelah utara benua Eropa dengan perhitungan akan memperoleh jalan tersingkat menuju Asia, tanpa melalui Tanjung Harapan. Tiga kali percobaan ekspedisi ini dilaksanakan, namun ketiga-tiganya mengalami kegagalan. Kapal mereka terjepit di tengah-tengah lautan es di dekat pulau Nova Zembla, sehingga separoh anak buah kapalnya meninggal karena kedinginan. Laksamana Jacob van Heemskerck yang memimpin pelayaran itu kembali ke Amsterdam dengan susah payah menghabarkan kegagalan ekspedisinya.

Akhirnya pedagang-pedagang Amsterdam memper-siapkan empat buah kapal untuk mencari jalan ke Indonesia melalui Tanjung Harapan. Pada tangga 2 April 1595 kapal-kapal tersebut bertolak dari pangkalan Tessel, Belanda Utara, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan Pieter de Keyser. Cornelis de Houtman mengepalai urusan perdagangan, dan Pieter de Keyser mengepalai urusan navigasi.

Karena adanya dua pimpinan dalam satu ekspedisi pertama ini, maka sering terjadi keributan yang berasal dari perbedaan pendapat di antara keduanya. Hal demikian akhirnya menimbulkan perkelahian di antara anak buah kapal, sehingga sebuah kapal hancur dan sebagian penumpangnya tewas. Namun demikian, ekspedisi ini akhirnya membuahkan hasil, yakni dengan keberhasilan mereka mendarat di pelabuhan Banten pada tanggal 23 Juni 1596.

Kedatangan kapal dagang Belanda itu disambut ramah oleh penduduk negeri dan seperti biasanya apabila ada kapal asing merapat, banyak penduduk pribumi yang naik ke kapal untuk menawarkan makanan ataupun dagangan lainnya. Hal ini disalah artikan oleh awak kapal, sehingga mereka bertindak kasar dan angkuh. Walau pun demikian, penduduk negri yang terkenal ramah itu masih menawarkan lada yang memang mereka butuhkan.

Bertepatan dengan kedatangan kapal dagang Belanda itu, Banten sedang bersiap-siap untuk mengadakan penyerangan ke Palembang. Oleh karenanya Banten minta orang Belanda itu meminjamkan kapalnya guna pengangkutan prajurit dengan sewa yang memadai. Permintaan itu ditolak dengan alasan mereka datang ke Banten hanya untuk berdagang dan setelah selesai akan cepat kembali pulang takut ada kapal Portugis yang datang.

Tapi sampai pasukan Banten kembali dari Palembang, mereka masih tetap belum pergi, karena menunggu panen lada yang tidak lama lagi; waktu panen lada harga akan jauh lebih murah. Alasan demikian membuat Mangkubumi Jayanegara marah. Lebih parah lagi, orang-orang Belanda itu pada suatu malam, menyeret dua buah kapal dari Jawa yang penuh dengan lada ke kapalnya dan memindahkan semua isinya. Dan dengan membawa muatan hasil rampokan itu mereka pergi sambil menembaki kota Banten.

Melihat kelakuan orang Belanda ini, rakyat Banten — yang baru saja kehilangan sultannya — sangat marah. Beberapa tentara Banten menyerbu ke kapal Belanda dan menangkap Houtman beserta delapan anak kapal. Dengan tebusan 45.000 gulden sebagai ganti kerugian, barulah de Houtman dilepaskan dan diusir dari Banten (2 Oktober 1596)[10].

Pada tanggal 1 Mei 1598 rombongan baru pedagang Belanda berangkat dari Nederland menuju Indonesia dengan delapan buah kapal yang di pimpin oleh Jacob van Neck dibantu oleh van Waerwijk dan van Heemskerck. Pada tanggal 28 Nopember 1598 rombongan kedua ini tiba di Banten. Mereka diterima baik oleh rakyat Banten karena tingkah lakunya berbeda dengan pendahulunya. Pengalaman pertama yang merugikan itu rupanya dijadikan pelajaran. Mereka pandai membawa diri dan sanggup menahan hati bila berhadapan dengan Mangkubumi, bahkan permohonan untuk menghadap Sultan pun dikabulkan. Dengan membawa hadiah sebuah piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan, van Neck menghadap kepada Sultan Abdul Mafakhir.

Mangkubumi Jayanagara membujuk van Neck untuk membantu tentara Banten dalam penyerangan ke Palembang — sebagai pembalasan atas kematian Sultan Muhammad — dengan imbalan lada sebanyak dua kapal penuh. Semula van Neck menyetujui usul Mangkubumi ini, tapi karena van Neck minta dibayar di muka satu kapal dan sisanya sesudahnya, sedangkan Mangkubumi menghendaki pembayaran sekaligus setelah penyerangan selesai, maka penyerangan ke Palembang tidak diteruskan. Van Neck kembali ke Belanda dengan tiga kapal yang penuh muatan, sedangkan van Waerwijk dan van Heemskerck melanjutkan perjalanannya ke Maluku dengan lima buah kapal (Tjandrasasmita, 1977:353 dan Djajadiningrat, 1983:164).

Dengan keberhasilan dua ekspedisi dagang ke Indonesia ini akhirnya berduyun-duyunlah orang-orang Belanda untuk berdagang. Tercatat pada tahun 1598 saja ada 22 kapal milik perorangan dan perikatan dagang dari Nederland menuju Indonesia. Bahkan tahun 1602 ada 65 kapal yang kembali dari kepulauan Indonesia dengan muatan penuh.

Suatu hari datanglah utusan khusus pemerintah Portugis dari Malaka dengan membawa hadiah uang 10.000 rial dan berbagai perhiasan yang bagus dan mahal. Mereka minta supaya Banten memutuskan hubungan dagang dengan Belanda dan apabila orang-orang Belanda itu datang supaya kapal-kapalnya dirusak atau diusir. Dikatakan pula, bahwa nanti akan datang armada Portugis yang akan mengadakan pembersihan terhadap kapal Belanda di perairan Banten dan negeri timur lainnya.

Mangkubumi Jayanagara menerima semua hadiah tersebut, tapi, secara rahasia, diutusnya kurir untuk menyam-paikan berita itu kepada pedagang Belanda, supaya mereka segera meninggalkan Banten karena armada Portugis akan menyergap mereka. Mendengar berita itu, kapal dagang Belanda pun segera meninggalkan Banten.

Tidak lama kemudian pada tahun 1598 sampailah angkatan laut Portugis dipimpim oleh Laurenco de Brito dari pangkalannya di Goa. Setelah dilihatnya tidak ada satu pun kapal Belanda yang berlabuh di Banten, marahlah mereka. Mangkubumi dituduh telah berhianat dan bersekongkol dengan Belanda karena membocorkan rahasia, dan menuntut supaya Mangkubumi mengembalikan semua hadiah yang sudah diberikan. Sudah tentu Mangkubumi tidak mau menuruti kemauan mereka, karena Portugis tidak ada hak dan wewenang untuk mengusir kapal-kapal asing yang sedang berlabuh di Banten.

Dengan kemarahan yang amat sangat, diserangnya pelabuhan Banten, barang-barang yang ada di sana dirampas dan diangkut ke kapalnya, bahkan lada kepunyaan pedagang dari Cina pun dirampasnya pula. Melihat kejadian itu, tentara Banten, yang memang sudah dipersiapkan, menyerang kapal-kapal Portugis itu, sehingga tiga buah kapal Portugis dapat dirampas dan seorang laksamananya tewas; sedangkan yang lainnya melarikan diri, setelah meninggalkan barang hasil rampasannya (Djajadiningrat, 1983: 164).

Karena persaingan ketat antar sesama pedagang Belanda yang berlomba-lomba untuk mendapat rempah-rempah dari negeri timur, maka keuntungan mereka pun sedikit, dan bahkan rugi — dari data-data yang dikumpulkan, ternyata kerugiannya mencapai 5 laksa gulden. Melihat kenyataan ini maka pada tahun 1602 dibentuknya persatuan dagang yang kemudian diberi nama “Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dengan modal pertama 6,5 juta gulden dan berkedudukan di Amsterdam; dan tujuannya adalah mencari laba sebanyak-banyaknya, di samping untuk memperkuat kedudukan Belanda melawan kekuasaan Portugis dan Spanyol.

Berdirinya VOC ini dibantu oleh pemerintah kerajaan Belanda, sehingga VOC diberi hak-hak sebagai berikut (Sutjipto, 1961:24):

1)       Hak monopoli untuk berdagang di wilayah antara Amerika dan Afrika.

2)       Dapat membentuk angkatan perang sendiri, mengadakan peperangan, mendirikan benteng dan bahkan menjajah.

3)       Berhak untuk mengangkat pegawai sendiri.

4)       Berhak untuk membuat peradilan sendiri (justisi).

5)       Berhak mencetak dan mengedarkan uang sendiri.

Sebaliknya VOC mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pemerintah kerajaan Belanda, yaitu :

1)       Bertanggung jawab kepada Staten General (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda).

2)       Pada waktu perang harus membantu pemerintah dengan uang dan angkatan perang.

Pembentukan VOC di samping untuk menyatukan langkah dalam perdagangan dan modal, juga didorong dengan adanya saingan baru yang dianggapnya berat, yaitu pedagang-pedagang Inggris yang telah membentuk satu kongsi dagang yang bernama EIC (East India Compagnie) pada tahun 1600.

Untuk memudahkan gerak dan siasat dagangnya, VOC membuka kantor-kantor cabang di Middelberg, Delft, Rotterdam,Hoorn dan Enkhuizen. Setelah dirasa kedudukan VOC sudah mapan, maka pada tahun 1610 dibuka pula kantor dagang untuk Hindia Timur atau Kepulauan Nusantara, dengan Pieter Both menjadi Gubernur Jendral yang dibantu Dewan Penasehat (Raad van Indie) yang anggotanya terdiri dari 5 orang.

Dicarinya daerah-daerah strategis untuk dijadikan pusat kegiatan di Hindia Timur ini. Alternatif pertama dipilihnya Johor, tetapi karena Johor terlalu dekat dengan Malaka yang duduki Portugis, maka dipilihnya alternatif kedua yakni Banten. Walaupun di Banten telah berdiri perwakilan dagang VOC sejak tahun 1603 — yang diketuai oleh Francois Wittert — tapi karena di Banten pun Mangkubumi Arya Ranamanggala selalu bertindak tegas dalam menghadapi orang-orang asing, pilihan ini dibatalkan. Akhirnya VOC menetapkan Jayakarta sebagai pusat kegiatannya, karena walau pun Jayakarta di bawah kuasa Banten, namun penguasa di sana tidak begitu kuat. Maka pada tahun 1610 berangkatlah Pieter Both dari Amsterdam menuju Jayakarta bersama dengan 8 buah kapal besar. Pada bulan Nopember 1611 VOC berhasil mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Untuk mengontrol tindakan VOC, Pangeran Jayakarta membolehkan perusahaan dagang Inggris yang tergabung dalam East India Company (EIC) membuat kantor dagangnya di Jayakarta, berhadapan dengan kantor dagang VOC.

  1.  Mangkubumi Arya Ranamanggala

Setelah Mangkubumi yang juga ayah tiri Sultan dibunuh orang, maka diangkatlah Pangeran Arya Ranamanggala menjadi penggantinya. Pangeran Arya Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf dari istri yang bukan permaisuri. Tentang tahun kelahirannya tidak jelas, tapi yang pasti dia lebih muda dari Maulana Muhammad (Djajadiningrat, 1983:190).

Tindakan pertama yang dilakukannya sebagai Mangkubumi adalah menertibkan keamanan negara. Yaitu dengan memberikan hukuman tegas kepada pangeran atau ponggawa yang melakukan penyelewengan, bahkan untuk kelancaran pemerintahan Sultan Muda pun tidak diizinkan mempengaruhi urusan pemerintahan. Hal ini berlangsung hingga Sultan mempunyai anak tiga (Djajadiningrat 1983:190). Dengan cara demikian barulah kerajaan Banten dapat diselamatkan dari kehancuran dan perpecahan, baik dari rongrongan di dalam maupun desakan-desakan dari negara asing. Peraturan-peraturan atau pun keputusan-keputusan Mangkubumi terdahulu diperbaharuinya. Peraturan yang berisi tentang keharusan pedagang Cina untuk menjual lada hanya kepada Belanda dicabutnya, kemudian dibuatlah peraturan yang isinya menyatakan bahwa siapa pun dapat membeli atau menjual lada kepada siapa saja dengan harga yang disetujui bersama.

Dalam menghadapi pedagang-pedagang asing Eropa, Mangkubumi tidak bertindak “berat sebelah”, tingkah laku mereka yang kadang-kadang menyinggung perasaan, terutama pedagang-pedagang dari Belanda, akan ia tanggapi dengan kepala dingin. Ini dapat dibuktikan sewaktu pedagang Belanda mengajukan perjanjian pada tahun 1609. Naskah perjanjian yang dibuat Belanda itu diajukan kepada Mangkubumi yang isinya adalah:

  1. Belanda bersedia membantu Banten apabila diserang oleh negara lain, tapi kalau Banten akan menyerang negara lain Belanda tidak akan membantu.
  2. Belanda dibolehkan berniaga dengan rakyat Banten. Dan apabila ada orang Belanda yang ingin menetap di Banten dia tidak dikenakan pajak.
  3. Bangsa Eropa selain bangsa Belanda tidak dibolehkan tinggal di Banten.

Perjanjian yang berat sebelah dan sangat menyinggung kewibawaan negara itu tidak ditolaknya dengan kasar, tapi diterimanya dengan senyum biar pun isinya tidak diterima. Bahkan tidak lama kemudian dikeluarkan peraturan tentang kenaikan pajak ekspor untuk lada dan ketentuan pajak import untuk barang-barang yang tadinya belum terkena peraturan pajak.

Dalam hal perpajakan di Banten pada tahun 1609, secara terperinci dicatat oleh pegawai Belanda dimana untuk membeli 8440 karung lada dikenakan pajak sebagai berikut :

Pajak kerajaan sebesar 8 % dari harga beli:

(4 real per karung)                                   f.     6.346,00

Ruba-ruba untuk raja, dengan ketentuan:

500 real untuk 6000 karung                      f      1.625,00

Ruba-ruba untuk Syahbandar

250 real untuk 6000 karung                      f         625,00

Beli-belian (suatu pajak khusus)

666 real tiap satu karung                          f      2.202,00

Panggoro, pajak khusus lain :

11,50% cash tiap satu karung                  f          14,00

Pajak untuk juru tulis

dihitung per 100 karung                            f         198,00

Pajak untu juru timbang

per 100 karung                                        f         198,00

Biaya mengangkut lada ke rumah timbang             f          98,00

Jumlah                                                               f     11.533,00

Jumlah f. 11.533,00 ini harus dibayar sebagai pajak ekspor barang seharga f. 33.760,00. Kain yang dimasukkan Belanda dikenakan pajak sebesar 3 % dari harga jual, bahkan untuk barang ekspor yang bukan hasil dalam negeri dikenakan pajak lebih besar (Tjandrasasmita, 1975:80).

Ternyata, pajak yang demikian besar itu hanya berlaku untuk orang Belanda. Karena dalam kenyatannya pedagang dari Cina hanya dikenakan pajak 5% dari harga beli dengan syarat mereka harus membawa hadiah berupa barang porselen Cina. De-ngan demikian tidaklah heran apabila penulis-penulis Belanda menceritakan Mangkubumi Arya Rana-manggala ini adalah orang yang paling jahat, curang dan rakus (Djajadiningrat, 1983:190).

Peraturan ketat semacam ini dilakukan Mangkubumi dengan maksud supaya pedagang-pedagang Belanda tidak lagi berniaga di Banten, karena setelah diperhatikan, mereka bukan saja datang semata-mata untuk berdagang, tapi juga berusaha menanamkan pengaruh dan mencampuri politik negara. Karena faktor Arya Ranamanggala ini pulalah maka VOC tidak memilih Banten sebagai pusat kegiatan dagangnya, tetapi dipilihnya Jayakarta.

Yang berkuasa di Jayakarta pada saat itu ialah Pangeran Jayakarta atau disebut juga Pangeran Wijayakrama, yang memerintah atas nama Kesultanan Banten. Pangeran Jayakarta ingin supaya pelabuhan Jayakarta ramai seperti Banten, sehingga tawaran L’Hermito untuk menjadikan Jayakarta sebagai pusat perdagangan Belanda diterima dengan senang hati. Maka pada tanggal 10-13 Nopember 1610, ditandatanganilah perjanjian antara VOC, yang diwakili oleh L’Hermito dengan Pangeran Jayakarta. Perjanjian tersebut kemudian disyahkan oleh Gubernur Jenderal Pieter Both pada bulan Januari 1611. Isi perjanjian antara lain adalah sebagai berikut:

1)              Orang Belanda dibolehkan membeli tanah di Jayakarta seluas 50 depa dengan harga 1.200 real.

2)              Barang-barang yang dibeli orang Belanda dikenakan pajak, kecuali barang tersebut dibeli dari pedagang Cina.

3)              Bahan makanan kebutuhan sehari-hari tidak dikenakan pajak.

4)              Belanda akan membantu Jayakarta apabila diserang musuh, tapi tidak kalau Jayakarta yang memulai penyerangan.

5)              Orang Portugis dan Spanyol tidak dibolehkan berdagang di Jayakarta.

6)              Belanda dibolehkan mengambil kayu untuk bahan pembuat kapal di pulau-pulau di depan teluk Jakarta.

7)              Pegawai-pegawai yang lari dari kedua belah pihak akan dikembalikan.

8)              Pangeran bersedia menagih piutang orang Belanda apabila dimintakan.

9)              Kedua belah pihak akan menghukum orang masing-masing apabila mereka bersalah.

Pada bulan Januari 1611, Pieter Both membujuk Pangeran Jayakarta untuk mengizinkan VOC membuat benteng, tetapi permintaan itu dengan tegas ditolak, bahkan Pangeran menginginkan bahan makanan yang dibeli VOC pun harus dikenakan pajak. Terpaksa keinginan itu dituruti Pieter Both. Karena izin mendirikan benteng tidak diperoleh, maka VOC mendirikanlah sebuah gedung batu yang digunakan sebagai kantor dan gudang di sebelah timur sungai Ciliwung (Sanusi Pane, 1950:193).

Dibukanya hubungan dagang dengan Belanda ini membuat semakin ramainya pelabuhan Jayakarta. Hubungan intim ini membuat gusar Mangkubumi Ranamanggala. Khawatir akan niat baik Belanda terhadap Jayakarta yang nanti akhirnya akan merembet ke daerah Banten lainnya. Maka Mangkubumi mengutus Nyai Emban Rangkum, seorang yang dianggap berwibawa bagi Pangeran Jayakarta, untuk menghadap Pangeran Jayakarta dan memberi peringatan agar hati-hati dengan orang-orang Belanda. Peringatan ini bukannya diterima baik oleh Pangeran Jayakarta tapi bahkan membuat curiga dan prasangka buruk terhadap Mangkubumi. Hal inilah yang membuat hubungan antara Jayakarta dan Banten agak sedikit renggang, bahkan kadang-kadang seperti bermusuhan.

Situasi panas antara Jayakarta dan Banten ini sengaja diperuncing lagi oleh Jan Pieterzoon Coen, presiden direktur kantor dagang Belanda di Banten dan Jayakarta yang baru, dengan memindahkan sebagian besar kegiatan dagang Belanda dari Banten ke Jayakarta, sehingga perdagangan di Banten sedikit menurun — walau pun, untuk menjaga membesarnya pengaruh Inggris di Banten, VOC masih tetap membuka kantor perwakilannya di Banten[11].

Pada tahun 1618, datanglah di Banten kapal berbendera Perancis tetapi awak kapal dan bahkan nahodanya orang Belanda, padahal ada larangan keras dari pemerintah Belanda, bahwa bagi orang Belanda yang bekerja di kapal asing tidak boleh membocorkan rahasia peta jalan menuju ke negara timur, tapi mungkin karena pembayaran yang tinggi, maka ada juga yang tidak mentaati. Semua awak kapal Perancis itu ditawan oleh Pieterzoon Coen — yang pada tahun itu (bulan Juni 1618) ia diangkat menjadi Gubernur Jendral VOC untuk Hindia Timur, menggantikan Pieter Both. Tetapi dengan pertolongan orang Inggris, di antara mereka itu ada yang dapat melarikan diri dan minta perlindungan kepada Mangkubumi Ranamanggala.

Jan Pieterszoon Coen mendesak Mangkubumi supaya menye-rahkan orang Belanda yang melarikan diri itu, tapi sebaliknya Mangkubumi pun mendesak supaya melepaskan kapal Perancis dan awaknya, karena Belanda tidak berhak menangkap kapal asing di pelabuhan Banten. Coen bukannya mengindahkan kehendak Mangkubumi, bahkan dibawanya kapal Perancis itu ke Jayakarta. Atas perbuatan Belanda itu Mangkubumi tidak dapat berbuat apa-apa karena memang Banten tidak ada kekuatan untuk menggempur kompeni Belanda.

Makin meruncinglah permusuhan antara Banten dan VOC. Untuk memperlunak sikap keras Mangkubumi dan juga mengacaukan perekonomian Banten, kompeni mengadakan blokade ekonomi; dimana VOC tidak lagi membeli lada dari Banten, bahkan, kapal-kapal asing pun dilarang berlabuh di Banten. Tindakan VOC ini sangat merugikan Banten, sehingga harga lada di pasar Banten menurun tajam.

Suatu hari datanglah kapal jung dari negeri Cina yang tujuannya hendak membeli lada di Banten, dan dengan mudah terjadilah transaksi jual beli dengan pedagang Banten. Kejadian ini terdengar oleh JP. Coen, sehingga dengan marah diancamnya pedagang Cina itu agar segera mengembalikan lada yang sudah dibelinya, dan apabila tidak maka kapalnya akan ditenggelamkan di tengah laut oleh Belanda. Mangkubumi memprotes tindakan rendah Belanda itu, tapi kembali beliau tidak bisa berbuat apa-apa.

Empat bulan embargo VOC atas Banten ini berlang-sung, sehingga pedagang-pedagang asing tidak dapat membeli lada dari Banten karena takut dengan ancaman Belanda, akibatnya pelabuhan Banten sepi dari kapal-kapal dagang. Sebaliknya pelabuhan Jayakarta semakin ramai. Perdagangan VOC semakin maju, sehingga untuk menampung barang dagangannya dibutuhkan tambahan gudang yang lebih luas. Maka dibangunnya lagi sebuah gudang baru di tepi sungai Ciliwung berhadapan dengan Nasau, gudang yang pertama. Gudang ini diberi nama Mauritius sesuai dengan nama raja Belanda, Prins Maurits. Selain itu dibuatnya pula sebuah rumah sakit dan sebuah kubu yang dikawal meriam dengan pasukan yang kuat di pulau Onrust di Teluk Jayakarta. Bahkan pada tanggal 22 Oktober 1618, VOC juga mulai membangun sebuah benteng kuat yang seluruh penjurunya dijaga meriam-meriam besar.

Pembangunan benteng ini ditentang keras oleh Pangeran Jayakarta, tetapi Belanda terus membangunnya juga. Terpukullah rasa harga diri Pangeran, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada kemampuan untuk mencegah niat Belanda itu. Maka sadarlah akan bahaya orang Belanda atas Banten dan Jayakarta khususnya. Tapi diingatnya pula akan ketergantungan Jayakarta dengan adanya pedagang Belanda itu, apalagi pangeran dan pejabat-pejabat tingginya sudah sering mendapatkan hadiah-hadiah dari orang Belanda. Khawatir dengan tindakan orang Belanda selanjutnya dan lemahnya kekuatan tentara Jayakarta, maka diambil kebijaksanaan bahwa semua orang asing yang tinggal di Jayakarta dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan. Dengan keizinan ini orang Inggris segera membuat benteng di tepi barat sungai Ciliwung, berhadapan dengan benteng Belanda. Demikian juga dengan pedagang-pedagang Cina.

Melihat pembangunan benteng Inggris itu Jan Piterzoon Coen mengajukan protes. Karena protesnya tidak ditanggapi, maka ia memerintahkan tentara Belanda menembak hancur benteng yang sedang dibuat Inggris. Orang Inggris tidak mampu melawan serangan Belanda itu karena kekuatannya jauh lebih kecil dibanding dengan tentara Belanda. Demikian juga dengan pedagang-pedagang Cina.

Pada tanggal 23 Desember 1618 berlabuhlah di Jayakarta 11 buah kapal Inggris. Melihat kenyataan bahwa benteng yang baru dibangun Inggris itu telah dihancurkan Belanda, mereka pun menyerang benteng Belanda dari laut, dan Belanda pun membalasnya dengan mengerahkan 7 buah kapal perangnya. Maka terjadilah pertempuran hebat di Teluk Jayakarta antara dua kekuatan yang seimbang. Tetapi akhirnya Belanda terdesak setelah Inggris mendatangkan lagi 3 buah kapal yang lain. JP. Coen memerintahkan sebagian pasukannya mundur dan melarikan diri ke Ambon untuk mencari bantuan. Hal ini terjadi pada tanggal 31 Desember 1618. Sedangkan di benteng kompeni sepeninggal JP. Coen, pimpinan benteng dipercayakan kepada Pieter van den Broecke, disertai 250 orang termasuk 25 orang Jepang dan 70 orang budak belian, mereka diperintahkan untuk tetap bertahan di dalam benteng.

Sementara itu di keraton Surosowan, mendengar adanya pertempuran di Teluk Jayakarta segera diadakan pertemuan pembesar-pembesar keraton untuk segera mengirimkan bantuan ke Jayakarta guna menghancurkan benteng Belanda. Jayakarta adalah daerah kuasa Banten, sehingga kehancuran Belanda sangat diharapkan Mangkubumi, meski pun tidak mengharapkan Inggris nantinya menggantikan Belanda. Maka berangkatlah 4000 orang tentara Banten, yang kemudian ditempatkan di Muara Angke sambil menunggu perintah selanjutnya.

Benteng Belanda telah dikepung dari tiga jurusan, di Teluk Jayakarta Inggris menempatkan 5 buah kapalnya, sebelah barat oleh pasukan Banten sedangkan di selatan oleh tentara Jayakarta. Dapat dipastikan bila ketiga kekuatan ini menyerang secara bersamaan, benteng Belanda tanpa kesulitan akan mudah direbut.

Tapi tidak demikian keadaannya. Inggris ingin agar benteng Belanda itu direbut dan dikuasai sebagai ganti benteng mereka yang dihancurkan Belanda. Sedangkan Pangeran Jayakarta dan orang-orang Banten menginginkan benteng Belanda tersebut dihancurkan dan semua penghuninya ditahan, karena, secara ekonomis, Jayakarta dan Banten masih membutuhkan kehadiran pedagang Belanda itu. Tujuan Pangeran Jayakarta dan Pangeran Ranamanggala pun berbeda. Pangeran Jayakarta menginginkan agar Pangeran Ranamanggala jangan terlalu dekat dengan pihak Belanda, sebab hal itu akan merugikan kedudukan Jayakarta. Sedangkan Pangeran Ranamanggala berprinsip bahwa Jayakarta adalah daerah taklukan Banten sehingga semua tindakan Jayakarta, apalagi tentang hubungan luar negeri, harus atas izin Banten. Dari perbedaan tujuan ini, akhirnya tidak ada satu pasukan pun yang mendahului menyerang benteng.

Setelah beberapa hari benteng Belanda itu dikepung, Pangeran Jayakarta memerintahkan agar perang ditangguhkan dan diajukan perdamaian. Maka pada tanggal 19 Januari 1619 terjadi kesepakatan antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda, dimana Belanda diharuskan membayar kerugian 6000 real kepada Pangeran Jayakarta, sedangkan komandan pasukan Belanda yang ada di benteng, Pieter van den Broecke, ditahan sebagai jaminan.

Pada waktu yang hampir bersamaan diadakan pula perjanjian antara Inggris dan Pangeran Jayakarta yang berisi:

1)       Inggris akan membayar kerugian perang kepada Pangeran Jayakarta sebanyak 2000 real.

2)      Orang Belanda dilarang berniaga di Jayakarta

3)   Inggris dan Jayakarta akan bersama-sama menyerang benteng Belanda. Kemudian benteng yang telah direbut itu akan diserahkan kepada Pangeran Jayakarta. Sedangkan harta bendanya dibagi dua antara Inggris dan Pangeran Jayakarta.

Dengan adanya perjanjian antara Pangeran Jayakarta dan pasukan Inggris ini pengepungan benteng diperketat. Diserukan kepada orang-orang Belanda agar menyerah secara baik-baik — yang nanti mereka akan dikirim ke Koromandel atas jaminan Inggris — atau benteng akan direbut secara paksa. Melihat banyaknya pasukan yang mengepung, maka komandan pasukan Belanda menyatakan diri akan menyerah.

Diaturlah tatacara pengambilalihan benteng dan pengamanan tawanan. Disepakati bahwa perjalanan orang Belanda ke Koromandel akan dikawal ketat oleh pasukan Inggris, supaya jangan diganggu tentara Banten dan Jayakarta. Rencana ini telah disetujui baik oleh Belanda, Inggris, maupun Jayakarta. Tiba-tiba ketika maksud tersebut akan dilaksanakan, datang sanggahan dari Banten. Pangeran Arya Ranamanggala tetap berprinsip Jayakarta adalah daerah kekuasaan Banten, oleh karenanya tidak ada hak untuk mengadakan perjanjian dengan orang asing tanpa persetujuan Banten. Di samping itu, Ranamanggala berpendapat bahwa orang Belanda dan orang Inggris sama saja, mereka ingin mengeruk kekayaan negara tanpa memperdulikan keadaan penduduk asli. Bila dalam keadaan lemah, mereka bersedia mentaati perjanjian, tapi bila sudah kuat dirobeklah perjanjian tersebut. Penghancuran benteng Belanda mutlak harus dilaksanakan, dan semua tawanan harus diserahkan serta menjadi wewenang Banten. Demikian juga dengan pihak Inggris, mereka harus segera pergi dari Jayakarta. Dan apabila mereka tidak mau, maka pemerintah Banten akan menghancurkan semua kapal dan loji Inggris yang ada di Banten.

Utusan Pangeran Ranamanggala, yaitu Tumenggung Pangeran Upapatih, beserta 4000 orang pasukannya mengepung orang-orang Inggris, sehingga mereka kembali ke pangkalannya di Banten. Orang-orang Belanda yang ditawan Pangeran Jayakarta diserahkan kepada Pangeran Upapatih. Dan atas perintah Mangkubumi Ranamanggala, Pangeran Jayakarta dipecat dari jabatannya, kemudian bersama Tumenggung dan lima puluh pengawalnya dikirim ke Tanahara untuk menjalani hukuman. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 15 Pebruari 1619 (Djajadiningrat, 1983:184)[12].

Selanjutnya, Banten mendesak agar Belanda menye-rahkan bentengnya untuk kemudian dihancurkan. Tetapi setelah dilihatnya tentara Banten tidak begitu kuat, pasukan Belanda tidak mau menyerah, mereka lebih baik bertahan di dalam benteng sambil menunggu bantuan.

Pada tanggal 10 Mei 1619 Pieter de Carpentier dan Andaris Soury dengan kapal Ceylon tiba di Jayakarta mendahului kapal yang ditumpangi JP Coen. Beberapa hari kemudian JP Coen menyusul dengan enam belas kapal dari Ambon. Dengan kekuatan 1000 orang tentara Belanda ini pengepungan benteng tidak ada artinya lagi. Maka pada tanggal 30 Mei 1619 benteng dan sekitarnya telah jatuh ke tangan kompeni Belanda (VOC). Mereka kemudian menamakan tempat tersebut menjadi Batavia, sebagai peringatan kepada nenek moyang bangsa Belanda, yaitu suku Bataaf.

Pada bulan April 1619, Jan Pieterszoon Coen memerintahkan tentaranya untuk merampas daerah-daerah di seberang sungai Ciliwung, yang termasuk wilayah Banten. Hanya dengan mengerahkan 1000 orang tentaranya saja Belanda dapat merebut seluruh kota Jayakarta. Tembok-tembok batas kota dan benteng Jayakarta dihancurkan dan dibakar habis. Dan sejak saat itu nama Jayakarta pun diganti dengan Batavia (Djajadiningrat, 1983:186). Dengan ancaman akan menyerang Banten, akhirnya Mangkubumi Ranamang-gala menyerahkan kembali orang-orang Belanda yang ditawanannya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Mei 1619 (Hamka, 1976:269).

Supaya dalam hal pengadaan beras jangan terlalu bergantung kepada Mataram, Belanda membuat sawah-sawah baru di sekitar Batavia. Dan karena penduduk pribumi selalu mengadakan perlawanan — dipimpin oleh beberapa ponggawa Pangeran Jayakarta orang-orang Banten — JP Coen pun mengambil beribu-ribu orang Cina untuk dipekerjakan. Orang-orang Cina itu diberi tanah untuk bertani, berdagang bahkan diperbantukan untuk membuat benteng-benteng di sekeliling kota. Di antara mereka diangkat menjadi kepala penduduk Cina, yang diberi wewenang untuk mengambil pajak tanah bagi penduduk pribumi, dan bahkan memelihara tentara sendiri[13]. Di luar benteng kota Batavia, rakyat Jayakarta di bawah pimpinan Pangeran Wijayakusumah, Tubagus Arya Suta dan Tubagus Wahas terus mengadakan perlawanan dengan bantuan prajurit-prajurit Banten[14].

Pada tahun 1619 itu pula diadakan perjanjian persahabatan antara kompeni Belanda (VOC) dengan Inggris dalam hal perdagangan di nusantara. Inggris dibolehkan berdagang di Batavia, meski dalam prakteknya, antara orang Inggris dan orang Belanda sering terjadi bentrokan, sehingga akhirnya orang Inggris pindah ke Banten.

Dalam pada itu, kekalahan pasukan Banten di Jayakarta, membuat rakyat Banten tidak pernah berhenti menentang VOC. Sering terjadi bentrokan antar kedua belah pihak. Pejuang-pejuang Banten sering mengadakan perampasan dan keributan di darat maupun di laut terhadap orang-orang Belanda. Kapal-kapal VOC sering dirampok, orangnya dibunuh dan kapalnya ditenggelamkan. Demikian juga perkebunan-perkebunan tebu yang ditangani Belanda dirusaknya, mereka membabat pohon-pohon tebu itu pada malam hari. Kejadian semacam ini sering dan sukar sekali ditumpasnya, karena mereka menggunakan sistim gerilya. Diserangnya rombongan Belanda pada malam hari kemudian apabila pasukan dari Batavia datang, mereka lari; sehingga tentara kompeni jarang dapat menangkap perusuh-perusuh itu.

Setelah perang pada tahun 1619 itu, Banten menempatkan pasukannya yang besar dan kuat di Tangerang. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung Wirautama dan Rangga Wirapatra dibantu oleh dua orang kepercayaan Mangkubumi. Pasukan khusus ini dipersiapkan bukan saja sebagai benteng penghalang antara Batavia dengan Banten, tapi juga dapat digunakan untuk menyerang Batavia. Dari Tangerang inilah kegiatan gerilya Banten di lancarkan (Djajadiningrat, 1983:50).

Karena gangguan-gangguan ini maka hubungan antara Batavia dan Banten menjadi tetap tegang. Sehingga tahun 1633 terjadilah perang besar antara dua kekuatan yang saling bermusuhan itu.

Kira-kira bulan Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala meletakkan jabatannya karena sakit, segala kewenangan diserahkan kepada Sultan Abdul Kadir yang memang sudah dewasa. Tapi walaupun demikian, Ranamanggala masih menjadi orang yang sangat dibutuhkan nasehatnya oleh Sultan dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Bahkan kadang-kadang pendapatnyalah yang dijadikan padoman kebijaksanaan Sultan. Hal ini dapat dibuktikan dengan keputusan tentang hubungan Banten dengan kompeni Belanda. Banten tetap tidak dapat bersahabat dengan Belanda, walaupun Sultan dengan pembesar lainnya cenderung untuk berdamai (Djajadiningrat, 1983:190). Barulah pada tanggal 16 Nopember 1624, Pangeran Arya Ranamanggala menyerahkan pemerintahan seluruhnya kepada Sultan.

Dua tahun kemudian yakni tanggal 13 Mei 1626 Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia. Dengan upacara kenegaraan jenazahnya dimakamkan di serambi barat Masjid Agung. Untuk memperingati kebesaran pahlawan besar ini, rakyat Banten kemudian menyebutnya dengan Pangeran Gede(Djajadiningrat, 1983:191).

 

  1. Penyerbuan Mataram ke Batavia

Setelah Sultan Sutawijaya meninggal, diangkatlah anaknya yang bernama Mas Jolang sebagai sultan di Mataram (1601 – 1613). Sedangkan putra sulungnya yaitu Pangeran Puger menjadi adipati Demak. Mas Jolang meninggal di desa Krapyak dan dimakamkan di Pasar Gede dengan gelar Sedo Krapyak. Sebagai penggantinya diangkatlah putra sulungnya Mas Rangsang dengan gelar Penembahan Agung Senopati Ing Ngalogo Ngamdurahman  (1613 – 1645), atau disebut juga Prabu Pandito Cokrokusumo. Kemudian ia memakai gelar Sultan sehingga dikenal dengan nama Sultan Agung.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung ini, Mataram mengalami zaman kejayaan. Hasil pertaniannya, terutama beras, melimpah sehingga menjadi hasil ekspor terbesar bagi Mataram. Ibu kota kerajaan semula di Karta (Kartosuro) yang kemudian dipindahkan ke Plered, yang kedua-duanya terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sekarang. Untuk menggambarkan bagaimana keadaan penduduk Kartosuro, dikatakan bahwa makanan yang dibutuhkan rakyat adalah 4000 ekor binatang sembelihan setiap hari dan kalau gong di pojok-pojok kota dipukul, maka dalam tempo setengah hari saja berkumpul 200.000 orang yang siap dengan senjata di tangan (Sanusi Pane 1950:197-198).

Sultan Agung bercita-cita untuk menyatukan Pulau Jawa dalam pemerintahannya dan mengusir Belanda. Untuk itu ia menyiapkan tentara yang kuat dengan penasehat yang cakap yaitu Kalifah Imam dan Kiyai Surodono. Dalam waktu yang relatif singkat direbutnya Wirosobo, Lasem, Pasuruan, Pajang dan Tuban. Demikian juga Madura (1624), Surabaya (1625) dan Blambangan (1639). Bahkan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat pun yaitu Cirebon, dan Priyangan mengakui kekuasaan Mataram. Sehingga otomatis hampir seluruh Jawa kecuali Batavia dan Banten, berada di bawah kekuasaan Mataram. Usaha penaklukan Banten sudah sering dilakukan Mataram; misalnya pada tahun 1596, Mataram pernah mengirimkan 15.000 tentaranya ke Banten dan menyerang dari laut; tapi tidak berhasil. Demikian juga pada tahun 1626 dengan bantuan dari Palembang, Mataram mengulangi lagi usahanya itu walau tanpa hasil apapun (Djajadiningrat, 1983:180-20).

Dorongan ingin menguasai seluruh Jawa inilah yang merisaukan kesultanan Banten, sehingga hubungan antara Banten dengan Mataram kelihatan selalu tegang. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mengapa Banten membiarkan orang-orang Belanda tetap diam di Jayakarta. Padahal pada permulaannya banyak pembesar Banten mengusulkan supaya kompeni Belanda itu diusir sebelum mereka kuat. Mangkubumi Arya Ranamanggala berpikir bahwa tempat kedudukan orang Belanda itu dapat dijadikan penghalang atau benteng pemisah antara Mataram dan Banten (Djajadiningrat, 1983:47).

Di pihak lain, musuh terbesar Mataram adalah kompeni Belanda, tapi rasanya Sultan Agung belum cukup kuat untuk menyerang Batavia. Tapi apabila Banten sudah berada di bawah kuasanya, barulah saat penyerbuan ke Batavia ini akan dimulai. Hal demikian sukar sekali terwujud, karena jalan ke Banten terhalang oleh kekuasaan Belanda di Batavia. Oleh karenanya diajukan usul kepada kompeni; bahwa apabila kompeni bersedia membantu penyerbuan Mataram ke Banten, maka kompeni akan dibolehkan membeli beras dari Mataram sebanyak-banyaknya. Usul itu ditolaknya karena kompeni sudah mengetahui maksud yang tersimpan dalam tawaran perjanjian itu.

Baru setelah Surabaya dapat dikuasai Mataram (1625), Sultan Agung merencanakan penyerangan ke Batavia. Untuk perbekalan bagi pasukannya, disiapkan di tempat-tempat yang dilalui, seperti di Jepara, Tegal, Kendal, Pekalongan, Ciasem, Cirebon dan Kerawang — yang direbutnya dari Banten. Karawang terkenal penghasil beras yang besar bagi Banten (Djajadiningrat, 1983:200).

Dalam pada itu Jan Pieterszoon Coen diberhentikan sebagai Gubernur Jendral VOC pada tahun 1623. Akan tetapi pada tahun 1627 dia diangkat kembali setelah didengar berita bahwa Mataram akan menyerbu Batavia.

Pada tahun 1628 berangkatlah pasukan Mataram untuk menyerang Batavia. Pasukan ini dibagi dalam tiga kelompok. Pasukan pertama dipimpin oleh Baurekso yang akan menyerang Batavia pertamakali dari laut. Pasukan kedua dipimpin oleh Tumenggung Sura Agulagul, Dipati Mandureja, Dipati Upasanta, Dipati Tohpati dan Tumenggung Anggabaya. Pasukan ini lebih banyak dari pasukan pertama dan akan berperang apabila Baurekso terdesak. Sedangkan pasukan ketiga dipimpin oleh Adipati Juminah dan Pangeran Singaranu. Pasukan ketiga ini jumlahnya sama dengan pasukan kedua, mereka akan menyerang apabila diperlukan (Djajadiningrat, 1983:50 dan 186).

Mendengar adanya pemberangkatan pasukan Mataram secara besar-besaran itu, Sultan Banten merasa cemas, diperintahkannya supaya memperkuat pasukan penyanggah di Tangerang. Dikhawatirkan kalau-kalau pasukan Mataram ini kemudian akan menyerang Banten.

Pasukan Mataram yang dikerahkan untuk menyerbu Batavia ini adalah pasukan terbesar dalam sejarah Jawa. Karena pasukan ini adalah gabungan dari prajurit-prajurit Surabaya, Demak, Pasuruan, Ponorogo, Madura, Priyangan dan lain-lain (Sanusi Pane, 1950:204).

Sore hari tanggal 26 Agustus 1628 datanglah 59 kapal Mataram di pelabuhan Batavia dengan menyamar sebagai kapal dagang dengan membawa 80.000 prajurit yang dipimpin Baurekso. Maka terjadilah perang besar yang banyak memakan korban di kedua belah pihak. Pasukan Mataram tidak dapat menembus benteng pertahanan Belanda, karena memang Belanda telah menyiapkan meriam-meriam besar untuk menghadapi pasukan Mataram. Pertempuran itu berlangsung sampai berminggu-minggu, sehingga Mataram harus mengakui kekuatan senjata yang dimiliki VOC. Pengepungan pasukan Mataram dibuat tidak berdaya lagi, bahkan akhirnya Tumenggung Baurekso sendiri gugur dalam pertempuran 21 Oktober 1628 (Djajadiningrat 1983:186).

Melihat keadaan pasukan Baurekso itu maka pada tanggal 21 September 1628 pasukan kedua bergabung untuk menyerang Batavia dari segala arah. Hampir Batavia dapat direbutnya. Tembok-tembok kota diruntuhkan dan benteng-benteng kecil di sekitar kota dapat direbut. Sehingga serdadu kompeni Belanda hanya dapat bertahan di dalam benteng induk di tepi sungai Ciliwung saja.

Untuk memaksa pasukan Belanda keluar dari bentengnya, Tumenggung Sura Agul-agul memerintahkan untuk memben-dung sungai Ciliwung dan mengalihkan alirannya, sehingga di perbentengan akan mengalami kesulitan air. Dan memang hal ini terjadi. Penyakit kolera berjangkit dalam benteng, bahkan akhirnya Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sendiri mati terkena penyakit ini (Djajadiningrat, 1983:187).

Dalam situasi yang sangat menentukan itu, ternyata pertempuran yang berjalan hampir lima bulan tersebut banyak menghabiskan tenaga, dana, kecerdikan dan keberanian, juga persediaan makanan. Persedian makanan pasukan Mataram sudah semakin menipis, sedangkan orang-orang Banten tidak ada yang mau membantunya. Hal ini dapat dipahami, karena memang antara Banten dan Mataram sedang ada dalam situasi permusuhan dan saling curiga. Sehingga banyak prajurit Mataram yang meninggal karena kelaparan atau karena penyakit. Melihat keadaan yang menyedihkan ini, maka pada tangga 3 Desember 1628 Tumenggung Sura Agul-agul memerintahkan pasukannya kembali pulang ke Mataram (Djajadiningrat, 1983:186).

Tapi baru saja orang Belanda mengira bahwa pertempuran sudah selesai, datanglah pasukan Mataram yang lebih besar. Pasukan ketiga dipimpin oleh Pangeran Juminah, Pangeran Singaranu, Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Dikepungnya kembali benteng Belanda itu. Karena banyaknya pasukan Mataram ini, maka orang Belanda tidak ada yang berani menyerang keluar dari perbentengan.

Pengepungan ini berjalan berbulan-bulan. Tapi karena kelaparan, penyakit dan banyaknya prajurit Mataram yang meninggalkan barisan, maka makin lemahlah pasukan penyerang. Pengepungan ini pun mengalami kegagalan yang tragis. Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1629, pasukan Mataram menghentikan pengepungannya dan mereka kembali ke Mataram dengan meninggalkan prajurit-prajuritnya yang mati dan sakit diperjalanan (Djajadiningrat, 1983:51 dan 187).

Sultan Agung sangat marah mendengar kekalahannya itu. Direncanakannya lagi penyerangan ke Batavia yang akan dipimpinnya sendiri. Untuk supaya kejadian kekalahan itu jangan terulang lagi, maka harus dibuat lumbung-lumbung padi di beberapa tempat di dekat Batavia; dan tugas ini diserahkan kepada Kerawang. Namun maksud besar Sultan Agung ini tidak terlaksana, karena Belanda telah mendengar rencana itu, dan lumbung-lumbung yang sudah dibuat, dibakar oleh Belanda. Sampai meninggalnya Sultan Agung, rencana penyerbuan selanjutnya ke Batavia tidak pernah terwujudkan.

  1. Keadaan Banten setelah Mangkubumi Arya Ranamanggala

Setelah meninggalnya Mangkubumi Arya Ranamanggala, kesultanan Banten sepenuhnya di tangan Sultan Abdul Kadir. Pada masa itu hubungan Banten dengan Batavia sedang memburuk. Banyak perampokan dan pengrusakan yang dilakukan orang Banten terhadap milik kompeni. Karena gangguan-gangguan ini, kompeni mengadakan ekspedisi pembersihan ke daerah-daerah kuasa Banten. Daerah yang menjadi sasaran ekspedisi antara lain Tanahara, Anyer dan beberapa daerah di Lampung. Maka terjadilah pertempuran-pertempuran sengit di daerah tersebut pada sekitar bulan Nopember 1633. Pertempuran-pertempuran tersebut lebih banyak dimenangkan pasukan Banten, karena kekuatan kompeni sedang melemah akibat serbuan Mataram yang memakan waktu sangat lama (Djajadiningrat, 1983: 189).

Pada tanggal 5 Januari 1634 dikirimnya lagi pasukan laut kompeni yang lebih kuat untuk mengepung kota Banten, maka diadakanlah blokade menyeluruh atas daerah Teluk Banten. Pengepungan Belanda di perairan Tanahara dapat digagalkan oleh pasukan yang dipimpin Tubagus Singaraja, kuasa Banten di sana. Sedangkan pengepungan di perairan pelabuhan Banten, baru dapat digagalkan setelah digunakan taktik baru. Atas usul Wangsadipa, prajurit-prajurit Banten memuat sampah dan rumput-rumput kering di atas beratus-ratus perahu kecil yang kemudian dibasahi dengan minyak bakar. Pada malam hari perahu-perahu tadi diluncurkan dekat dengan kapal-kapal kompeni. Dalam jarak yang sudah dekat, barulah rumput kering tersebut dibakar. Dengan cara ini banyak kapal kompeni yang ikut juga terbakar, dan akhirnya pengepungan Belanda dapat juga digagalkan. Peristiwa pembakaran kapal-kapal kompeni itu disebut dalam sejarah Banten dengan istilah Pabaranang (Djajadiningrat, 1983:189).

Pertempuran-pertempuran kecil maupun besar antara Batavia dan Banten terus berlangsung. Semuanya ini lebih banyak merugikan kompeni, padahal kompeni sedang sibuk menghadapi perang dengan Mataram dan Makasar. Oleh karenanya diadakanlah genjatan senjata dengan Banten pada bulan Juli 1636; tapi dalam prakteknya baru bisa dilaksanakan pada bulan Maret 1639.

Sultan Abdul Kadir, dari permaisurinya (putri Pangeran Rangga Singasari) mempunyai 5 orang anak: Pangeran Pekik, Ratu Dewi, Ratu Mirah, Ratu Ayu dan Pangeran Banten. Sedangkan dari istri yang lain, Sultan mempunyai lebih dari 30 anak (Djajadiningrat, 1983:50). Pangeran Pekik atau Pangeran Kilen diasuh oleh paman tuanya yaitu Mangkubumi Arya Ranamanggala. Dialah yang kemudian diangkat menjadi Putra Mahkota.

Islam mengajarkan supaya ummatnya bersatu baik dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang. Mereka diwajibkan menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dalam kesempatan haji itulah mereka berkumpul saling memberikan informasi tentang keadaan negaranya dan menentukan apa yang harus dikerjakannya untuk kebesaran Islam di negaranya masing-masing. Mereka secara tidak tertulis mengadakan koordinasi di antara negara-negara Islam. Terbentuklah satu kekhalifahan Islam yang luas, yang dipimpin oleh khalifah yang mengurusi/menguasai kota suci Mekkah. Semangat Pan Islamisme dari ummat Islam — yang merasa kedaulatannya terusik oleh kolonialis — sedang tumbuh dengan suburnya.

Dalam masa pemerintahan Sultan Abdul Kadir, antara  tahun 1633 atau 1634, diutuslah beberapa pembesar istana ke Mekkah. Utusan ini dipimpin oleh Labe Panji, Tisnajaya dan Wangsaraja. Dalam rombongan ini ikut pula Pangeran Pekik, sebagai wakil ayahnya, sambil menunaikan ibadah haji.

Sekitar tanggal 21 April dan 4 Desember 1638, rombongan yang diutus ke Mekkah sampai kembali di Banten. Mereka disambut dengan upacara kebesaran kenegaraan. Diceritakan upacara penyambutan ini dalam Sajarah Banten sebagai berikut: “Di Banten, Sultan memerintahkan kepada Tumenggung Wira Utama untuk membuat persiapan secukupnya bagi keperluan penyambutan itu. Pada hari yang ditentukan, semua persiapan telah sempurna. Setiap orang telah siap di tempatnya masing-masing. Sultan duduk bersama pengiringnya di srimanganti. Yang menerima surat dari khalifah Mekkah adalah Ki Pekih, di atas kapal. Ketika kapal akan merapat, dari atas kapal ditembakkan meriam sebelas kali, yang kemudian dibalas dengan jumlah yang sama dari perbentengan. Gemelan ditabuh dan sekali lagi meriam ditembakkan sebagai penghormatan. Bendera dari Mekkah dibawa oleh Kiyai Rangga Paman, sedangkan hadiah-hadiah lainnya dibawa oleh Tumenggung Indrasupati”. Dari Mekkah Sultan mendapat gelar kebesaran Sultan Abdulmafakhir Mahmud Abdul Kadir sedangkan Pangeran Pekik mendapat gelar Sultan Ma’ali Akhmad. Untuk utusan yang baru datang dari Mekkah itu, Sultan memberi hadiah dan gelar kebangsawanan. Demang Tisnajaya mendapat gelar Haji Wangsaraja (Djajadiningrat, 1983:53 dan 193 – 196). Labe Panji, kepala rombongan yang pertama meninggal dunia dalam perjalanan ke Mekkah.

Tidak lama setelah kedatangan rombongan dari Mekkah itu, ibunda Sultan yakni Nyai Gede Wanagiri meninggal dunia. Dan atas perintah Sultan, ibundanya dikuburkan di Desa Kenari, karena di tempat itulah Nyai Gede Wanagiri senang beristirahat menenangkan hati. Di Desa Kenari ini, Sultan memerintahkan untuk dibuatkan taman yang indah dengan rusa-rusa dan binatang peliharaan lainnya, dan Sultan sering beristirahat di taman ini setelah berziarah ke makam ibundanya.

Apabila Sultan sedang berada di istana setelah selesai penghadapan para ponggawa, baginda duduk dengan muka menghadap ke selatan dengan sebuah kitab di sampingnya. Sultan mengajarkan ilmu agama kepada para istrinya, pedekan tundan, pedekan jawi, para nyai dan istri-istri para ponggawa dan para istri mentri[15]. Sedangkan di ruang lain berkumpul pula para nyai sambil mengajar mengaji al-Qur’an kepada para pangeran kecil dan putri-putri istana. Nyai-nyai ini dipimpin oleh Nyai Mas Eyang.

Memang dalam Sejarah Banten, Sultan Abdul Kadir terkenal sebagai seorang ulama yang saleh. Sultan mengarang beberapa kitab ilmu agama yang kemudian disebarkan secara cuma-cuma kepada rakyatnya. Salah satu kitab karangannya “Insan Kamil” yang kemudian diambil Dr. Snuock Hurgronje, pegawai pemerintah Hindia Belanda (Roesjan, 1950:29). Sultan sering memeriksa kompleks istana dan keadaan rakyatnya pada malam hari dengan ditemani oleh Ki Cili Duhung. Apabila ditemukan rakyat yang sakit atau penderitaan lainnya, maka keesokan harinya Sultan memerintahkan Ki Gula Geseng dan Ki Gula Ngemu (nama orang) untuk memberikan bantuan. Sultan pun sering seserangan yaitu mengontrol sawah-sawah kerajaan yang terletak di daerah Serang sekarang (Djajadiningrat, 1983: 58-61). Hasil sawah ini di samping untuk memenuhi kebutuhan istana juga sewaktu-waktu dijual untuk pengontrol harga beras di pasaran. Dengan demikian kebutuhan rakyat akan beras dapat dipenuhi (Lombart, 1986:97).

Sultan Abulma’ali Ahmad mempunyai putra sebagai berikut: Dari perkawinan dengan Ratu Martakusuma (Putri Pangeran Jayakarta), dikaruniai 5 orang anak : Ratu Kulon (Ratu Pembayun), Pangeran Surya, Pangeran Arya Kulon, Pangeran Lor, dan Pangeran Raja. Dari perkawinannya dengan Ratu Aminah (Ratu Wetan), mempunyai anak: Pangeran Wetan, Pangeran Kidul, Ratu Inten dan Ratu Tinumpuk. Sedangkan dari istri yang tidak dikenal namanya, berputra: Ratu Petenggak, Ratu Tengah, Ratu Wijil, Ratu Pusmita, Pangeran Arya Dipanegara atau Tubagus Abdussalam atau Pangeran Raksanagara, Pangeran Aryadikusuma atau Tubagus Abdurahman atau Pangeran Singandaru (Djajadiningrat, 1983:59).

Dalam pada itu, Cirebon biar pun tidak pernah diserang Mataram, tapi pada tahun 1619 keadaannya sudah seperti jajahan Mataram saja (Djajadiningrat, 1983:200). Sehingga atas desakan Mataram, Sultan Cirebon mengancam Banten agar supaya mengakui kuasa Mataram; dan apabila tidak maka Banten akan diperanginya. Peringatan seperti ini ditegaskan lagi pada tahun 1637. Karena desakan dan ancaman dari Mataram pula, maka pada tahun 1650 yakni setelah Pangeran Girilaya menjadi Sultan Cirebon menggantikan ayahnya, Penembahan Ratu, karena Banten tidak mau tunduk pada ancaman Cirebon, Sultan merencanakan penyerbuan ke Banten.

Dengan menggunakan 60 buah kapal, berangkatlah pasukan Cirebon ke Banten dipimpin oleh Senopati Ngabehi Panjangjiwa. Setelah sampai diperairan Sumur Angsana, mereka memutuskan berlayar ke hulu sungai untuk membakar Tanahara. Rencana penyerangan pasukan ini sudah didengar Sultan Abdul Kadir. Maka dikirimnya satu pasukan yang dipimpin oleh Lurah Astrasusila, Demang Narapaksa dan Demang Wirapaksa. Mereka berangkat dengan menggunakan 50 buah kapal perang. Sultan menjanjikan hadiah sebanyak 2000 real dan baju kebesaran kepada siapa saja yang sangat berjasa dalam peperangan itu.

Sesampainya di Tanahara, pasukan dibagi tiga bagian. Pasukan pertama dipimpin oleh Lurah Astrasusila, bersembunyi di Tanjung Gede. Sedangkan pasukan kedua dan ketiga masing-masing dipimpin oleh Demang Narapaksa dan Demang Wirapaksa, menanti di Muara Pasilian.

Pagi-pagi sekali pasukan Cirebon sudah mendarat di Pelabuhan Tanahara. Senopati Panjangjiwa bersama sebagian kecil pasukannya berlayar masuk ke hulu sungai untuk menyelidiki keadaan. Tapi karena sebab yang belum jelas, Senopati Panjangjiwa meletakkan senjatanya dan menyerahkan diri kepada Demang Wirapaksa, diikuti oleh pasukannya. Selanjutnya, Senopati Panjangjiwa dibawa menghadap Sultan di Surosowan; karena tindakannya itu Sultan memberi ampun dan hadiah-hadiah kepada mereka semua.

Sedangkan pasukan Cirebon yang lain — yang sedang menunggu kabar dari Senopati Panjangjiwa di hilir — melihat banyak senjata yang hanyut di sungai. Mereka menyangka di hulu sungai sedang terjadi pertempuran hebat antara pasukan Panjangjiwa dengan pasukan Banten. Dengan segera mereka berlayar ke hulu untuk membantu temannya. Secara tiba-tiba Lurah Astrasusila dan pasukannya menyergap pasukan Cirebonitu. Serangan mendadak ini tidaklah mereka duga sama sekali. Pertempuran ini berlangsung dengan hebat. Tapi akhirnya dari 60 buah kapal tinggal satu kapal yang dapat melarikan diri dan kembali ke Cirebon, sedangkan yang lainnya dapat ditawan atau gugur. Tentara Cirebon yang menyerah dan ditawan semuanya dibunuh tanpa terkecuali.

Kejadian ini diberitakan kepada Sultan yang baru selesai khutbah hari raya di Banten. Betapa marahnya Sultan mendengar berita pembantaian tersebut. Sultan menginginkan semua yang sudah menyerah tidak boleh dibunuh. Karena kejadian itu, hadiah yang sudah dijanjikan ditarik kembali dan Lurah Astrasusila diusir dari istana. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Pagarage atau Pacerebonan, yang terjadi pada tahun 1650 (Djajadiningrat, 1983: 68-69 dan 205).

Untuk memperingati kemenangan pasukan Banten dalam peristiwa Pagarage tersebut, diadakan upacara sasapton. Jalannya pesta kemenangan ini diceritakan sebagai berikut :

Sepanjang tepi sungai rakyat dan ponggawa ditempatkan dalam kemah-kemah yang berjajar rapi. Sebagai tanda pengenal, mereka menggunakan bendera-bendera yang berbeda yang berwarna-warni. Para ponggawa duduk di bawah pohon beringin dekat srimanganti, menghadap candi rasmi menantikan sultan keluar dari istana. Sepanjang jalan yang akan dilalui sultan, berjejer menyambut para priyayi: di mande mundu ditempatkan priyayi medang sebanyak dua puluh orang, di made gayam ditempatkan priyayi parasara empat puluh orang dan panyendekan ada priyayi kalamisani dengan kereta-keretanya.

Sebagai kepala penjaga ialah Ki Suraita. Sedangkan sitinggildiurus oleh Ki Naraita yang juga menjadi kepala penyimpanan senjata dan kuda. Empat ekor kuda telah disiapkan namanya Sekardiyu, Kalisahak, Sumayuda, dan Layarwaring. Pembawa tanda kebesaran istana berjalan di muka, barulah sultan keluar dengan diiringi tabuhan gemelan sekati.

Sultan duduk di lampit yang digelar di tanah dikelilingi para mentri. Gamelan mesa patra ditabuh dan menperdengarkan lagu-lagunya. Para ponggawa telah siap di tempatnya masing-masing dan bersamaan dengan itu terdengar pula gamelan dari kemah-kemah. Pangeran Adipati Anom mengendarai kuda diiringi oleh para ponggawa dengan kudanya pula. Dan sasapton pun dimulai.

Yang menjadi bintang pada sasapton itu ialah Ratu Bagus Komala yang menunggang kuda Sekar Tinggal, demikian juga saudaranya Ratu Bagus Kencana; keduanya anak Pangeran Upapati. Mereka itu lawan Pangeran Adipati Anom yang menunggang kuda Layarwaring, kuda dari Bali.

Menjelang malam hari, sasapton itu berhenti dan sultan pun kembali ke keraton dengan diiringi lagu gemelan sekati. Ratu Bagus Kencana kemudian mendapat gelar Tubagus Singawangidan Ratu Bagus Komala bergelar Tubagus Ewaraja (Djajadiningrat, 1983:70).

Tidak lama setelah Peristiwa Pagarage ini, Putra Mahkota Pangeran Pekik atau Sultan Abulma’ali Ahmad meninggal dunia, setelah ia menderita sakit yang cukup lama (1650). Putra Mahkota dimakamkan di pekuburan Kenari (Ismail, 1980:18). Sebagai penggantinya, jabatan Putra Mahkota diserahkan kepada anaknya Sultan Abulma’ali Ahmad, yakni Pangeran Surya, dengan gelar Pangeran Adipati Anom[16]  (Tjandrasasmita, 1975: 269).

Tidak lama setelah itu yakni pada tanggal 10 Maret 1651, Sultan Abumafakhir Mahmud Abdul Kadir meninggal dunia. Jenazahnya dikuburkan di Kenari, berdekatan dengan makam ibundanya dan putra kesayangannya, Sultan Abulma’ali Akhmad (Ismail, 1980:18 dan Djajadiningrat, 1983:199). Sebagai penggantinya diangkatlah Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya menjadi Sultan Banten ke-5.

 

E.    SULTAN AGENG TIRTAYASA (1651 – 1672)

Setelah kegagalan Sultan Agung menduduki Batavia, keadaan Mataram tidak lagi sekuat semula. Banyak dana, perbekalan, dan prajurit yang dikorbankan dalam pertempuran itu. Kemunduran ini ditambah lagi dengan kelesuan di bidang perdagangan, terutama perdagangan antar negara, Malaka sudah dikuasai kompeni Belanda pada tahun 1641, demikian juga daerah-daerah Indonesia Timur seperti Ambon, Maluku, kepulauan Saparua, dan sebagainya. Sedangkan daerah bagian barat seperti Banten, Lampung dan Bengkulu — yang masuk kuasa Banten — sedang bermusuhan dengan Mataram, dan juga Laut Jawa hampir sudah dikuasai oleh kompeni, sehingga hubungan dagang Mataram dengan Palembang dan Jambi pun otomatis terhenti.

Dalam keadaan demikian, Sultan Agung pun wafat, tahun 1645 dan dikuburkan dipemakaman Imogiri. Penggantinya Pangeran Aryo Prabu Adi Mataram yang bergelar Amangkurat I tidak sekuat Sultan Agung, sehingga banyak daerah yang memberontak melepaskan diri dari Mataram. Situasi yang kacau ini memaksa Amangkurat I mengadakan perjanjian persahabatan dengan kompeni Belanda pada tahun 1647, yang isinya sebagai berikut (Sanusi Pane, 1950: 206-207):

1)              Belanda akan mengirimkan utusan ke Mataram setiap tahun.

2)              Orang-orang Mataram harus memakai kapal kompeni apabila hendak keluar negeri.

3)              Orang-orang mataram boleh berdagang bebas kecuali dengan daerah Ternate, Ambon dan Banda.

4)              Orang-orang Mataram yang akan berlayar dan melalui Selat Malaka harus mendapat izin terlebih dahulu dari kompeni.

Dengan perjanjian ini konfrontasi antara Belanda dengan Mataram berakhir, namun, akhirnya Mataram sangat bergantung dengan Kompeni. Bandar-bandar Mataram menjadi sepi karena kapal mereka sukar sekali mendapat izin untuk melintasi Malaka, sedangkan rempah-rempah yang sangat digemari orang-orang asing tidak mereka miliki karena mereka dilarang berdagang di Maluku. Di lain pihak Kompeni mendapat banyak keuntungan karena dengan perjanjian ini kompeni dapat mengontrol segala kegiatan Mataram; dan yang lebih penting lagi, Kompeni dapat beristirahat, menyatukan kekuatannya untuk menghadapi perlawanan di daerah lain.

Di Maluku, Belanda pun mendapat keuntungan besar, karena sejak tahun 1605 Kompeni merebut Ambon dan Tidore dari tangan Portugis, demikian juga Banda (1609) dan akhirnya Ternate pun dapat dikuasainya sehingga di daerah-daerah itu Belanda dapat memonopoli perdagangan lada dan cengkeh. Untuk menjaga harga cengkeh tetap tinggi, maka Kompeni menghancurkan kebun-kebun cengkeh di kepulauan Ambon dan sekitarnya. Usaha penghancuran inilah yang dikenal dengan Pelayaran Hongi yang banyak merugikan rakyat di daerah itu (Burger, 1962:53).

Daerah rempah-rempah yang masih bebas dari pengaruh Kompeni hanyalah Makasar. Orang-orang Makasar menjual rempah-rempah pada siapa saja yang datang ke sana, seperti orang Portugis, Denmark, Belanda, Perancis dan Inggris. Hal ini dianggap oleh kompeni sangat merugikannya, karena itu Makasar pun harus diperangi. Diadakanlah blokade di sekitar perairan Makasar pada tahun 1633. Baru pada tahun 1636 diadakan perjanjian perdamaian, tapi pada tahun 1640 kembali terjadi pertempuran. Prajurit Makasar yang dipimpin rajanya Sultan Hasanuddin berperang dengan gagah berani. Peperangan ini berlangsung lama, baru pada tahun 1655 diadakan perdamaian, tapi karena saling berbeda kepentingan akhirnya kembali terjadi perang hingga tahun 1660 dan pada tahun 1666. Karena penghianatan Aru Palaka, anak Raja Sopeng, akhirnya kompeni dapat menguasai Makasar, dan diadakan perjanjian di Bongaya pada tahun 1667 (Sanusi Pane, 1950: 207-210) :

1)              Makasar melepaskan kuasanya atas Negeri Bugis (Bone, Luwu, dan Gowa) serta Bima dan Sumbawa.

2)              Perahu Makasar hanya boleh berlayar dengan suratizin kompeni.

3)              Makasar tidak boleh berdagang dengan bangsa lainya kecuali dengan Belanda.

4)              Hanya kompeni saja yang boleh memasukkan kain-kain dan barang-barang dari Cina.

5)              Makasar harus membayar semua biaya perang, menyerahkan salah satu bentengnya dan mengirim tawanan ke Batavia sebagai jaminan.

Meskipun perjanjian Bongaya telah ditandatangani, perlawanan bersenjata kepada kompeni berlangsung terus. Baru setelah benteng Sombaopu dikuasai kompeni tahun 1669, Makasar sepenuhnya di tangan kompeni. Dengan kekalahan Makasar ini banyak patriot dari Bugis yang pergi ke Banten dan Jawa Timur untuk melanjutkan perjuangannya melawan Belanda (Sagimun, 1975:259).

Pada abad ke-17 ini, Belanda telah menguasai beberapa daerah kerajaan besar seperti: Mataram, Maluku, Batavia dan Makasar. Sedangkan dalam bidang ekonomi, Belanda telah memegang monopoli perdagangan rempah-rempah secara luas, bahkan Belanda pun berhasil memperoleh monopoli di Sumatera Tengah yakni di Palembang (1642) dan Jambi (1643) (Burger, 1962:60). Di pihak lain, rakyat nusantara sebagian besar berada dalam kemiskinan dan penindasan akibat keserakahan Belanda ini.

Setelah Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdul Kadir wafat, Pangeran Adipati Anom dinobatkan menjadi Sultan Banten ke-5 pada tanggal 10 Maret 1651 (Djajadiningrat, 1983:205). Untuk memperlancar sistem pemerintahannya Sultan mengangkat beberapa orang yang dianggap cakap sebagai pembantunya. Jabatan Patih atau Mangkubumi dipercayakan kepada Pangeran Mandura dan wakilnya Tubagus Wiratmaja, sebagai Kadhi atau Hakim Agung diserahkan kepada Pangeran Jayasentika, tapi karena Pangeran Jayasentika meninggal tidak lama setelah pengangkatan itu dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, maka jabatan Kadhi diserahkan kepada Entol Kawista yang kemudian dikenal dengan nama Faqih Najmuddin. Pangeran Mandura dan Pangeran Jayasentika adalah Putra Sultan ‘Abulmafakhir Mahmud Abdul Kadir, jadi masih terhitung paman, sedangkan Faqih Najmuddin adalah menantu Sultan Abulmufakhir yang menikah dengan Ratu Lor.

Untuk memudahkan pengawasan daerah-daerah yang tersebar luas seperti Lampung, Solebar, Bengkulu, dan lainnya, diangkatlah ponggawa-ponggawa dan nayaka-nayaka di bawah pengawasan dan tanggung jawab Mangkubumi. Dalam waktu-waktu tertentu nayaka-nayaka ini diharuskan datang ke Banten dan berkumpul di kediaman Mangkubumi di Kemuning, di seberang sungai, untuk melaporkan keadaan daerahnya masing-masing. Biasanya setelah itu para ponggawa dan nayaka ini dibawa menghadap Sultan di istana Surosowan, untuk menerima petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan yang harus disampaikan kepada rakyat di daerahnya masing-masing (Djajadiningrat, 1983:71).

Mangkubumi Pangeran Mandura diserahi tugas mengatur dan mengawasi kesejahteraan prajurit karajaan, baik tentang perumahannya di Kanari maupun tentang persenjataannya. Rumah-rumah senopati dan ponggawa ditempatkan sedemikian rupa sehingga, di samping mereka dapat cepat mengetahui keadaan prajurit-prajuritnya, tetapi dengan mudah mereka pun dapat segera menerima instruksi sultan (Djajadiningrat, 1983:71 dan Tjandrasasmita, 1967:11).

Memang Pangeran Surya yang bergelar Pangeran Ratu Ing Banten adalah seorang ahli strategi perang yang dapat diandalkan. Hal ini dibuktikan sewaktu masih menjabat Putra Mahkota, Pangeran Surya-lah yang mengatur gerilya terhadap pendudukan Belanda di Batavia.

Seperti juga kakeknya, Pangeran Ratu tidaklah melepaskan jalur hubungan dengan kekhalifahan Islam yang berpusat di Mekkah, yang biasanya dilakukan sambil menunaikan ibadah haji. Persiapan untuk mengadakan pertemuan dengan pusat kekhalifahan di Mekah itu, Sultan mengadakan musyawarah dengan beberapa pembesar kerajaan yang antara lain: Pangeran Mandura, Pangeran Mangunjaya dan Mas Dipaningrat; yang selanjutnya diputuskan supaya Santri Betot beserta tujuh orang lainnya diutus ke Mekah. Delegasi ini ditugaskan untuk melaporkan penggantian sultan di Banten, juga menceritakan keadaan nusantara dan Kesultanan Banten khususnya dalam hubungannya dengan kompeni Belanda. Di samping itu pula, untuk memperdalam pengetahuan rakyat Banten kepada agama Islam, dimintakan supaya Khalifah mengirimkan guru agama ke Banten.

Setiba kembali utusan ini dari Mekkah, Khalifah Makkah menyampaikan sepucuk surat untuk Sultan bersama tiga orang utusan yang bernama Sayid Ali, Abdunnabi, dan Haji Salim. Dari khalifah Makkah pula Pangeran Ratu Ing Banten mendapat gelar Sultan ‘Abulfath Abdulfattah. Santri Betot kemudian diberi nama Haji Fattah dan mendapat hadiah-hadiah dari sultan, demikian juga ketujuh orang pengiringnya.

1.    Perang Melawan Kompeni Belanda

Dalam masalah politik kenegaraan, Sultan ‘Abulfath Abdulfattah dengan tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya. Mengembalikan Jayakarta ke pangkuan Banten merupakan cita-cita utama dan karenanya Sultan tidak akan pernah mau berbaikan dengan kompeni Belanda. Sultan melihat bahwa perjanjian damai antara Sultan Abulmufakhir dengan kompeni pada tahun 1645 sudah tidak lagi dipatuhi kompeni. Kompeni Belanda masih selalu mencegat kapal-kapal dagang asing yang hendak berlabuh dan mengadakan transaksi dagang di bandar Banten, sehingga pelabuhan Banten mengalami banyak penurunan, karena pedagang-pedagang asing segan berlabuh di Banten takut diserang kapal-kapal kompeni, baik waktu datang maupun setelah mereka meninggalkan Banten. Membalas tindakan kompeni ini Sultan pun memerintahkan tentaranya untuk selalu mengadakan perusuhan pada intalasi milik kompeni, di mana saja; diharapkan orang-orang Belanda itu segera meninggalkan Banten. Sultan pun memperkuat pasukannya di Tangerang dan Angke, yang telah lama dijadikan benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi kompeni Belanda. Dari daerah ini pulalah pada tahun 1652 pasukan Banten mengadakan penyerangan ke Batavia (Tjandrasasmita, 1967:12).

Melihat situasi yang semakin panas itu, kompeni mengirimkan utusan ke Banten untuk menyampaikan usulan pembaharuan perjanjian tahun 1645. Dibawanya hadiah-hadiah yang menarik untuk melunakkan hati Sultan, tapi Sultan ‘Abulfath menolak usulan tersebut. Utusan kedua dikirimnya pula pada bulan Agustus 1655, tapi seperti utusan yang pertama, Sultan pun menolaknya; Banten bertekad hendak meleyapkan penjajah Belanda walau apapun resikonya.

Pada tahun 1656 pasukan Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang mengadakan gerilya besar-besaran, dengan mengadakan pengrusakan kebun-kebun tebu dan penggilingan-penggilingannya, pencegatan serdadu-serdadu patroli Belanda, pembakaran markas patroli, dan beberapa pembunuhan orang-orang Belanda, yang semuanya dilakukan pada malam hari. Di samping itu perahu-perahu ramping prajurit Banten sering mencegat kapal kompeni, dan membunuh semua tentara Belanda dan merampas semua senjata serta kapalnya. Sehingga kapal kompeni yang hendak melewati perairan Banten haruslah dikawal pasukan yang kuat.

Untuk menghadapi kompeni dalam pertempuran yang lebih besar, Sultan ‘Abulfath memperkuat pertahanannya baik dalam jumlah maupun kwalitasnya. Diadakanlah hubungan yang lebih baik dengan negara-negara lain seperti Cirebon, Mataram dan lain-lain (Tjandrasasmita, 1967:13). Bahkan dari Kerajaan Turki, Inggris, Perancis, dan Denmark, banyak didapatkan bantuan berupa senjata-senjata api yang sangat dibutuhkan (Chijs, 1881: 58-59). Diadakanlah kesatuan langkah dan penyatuan pasukan di daerah kuasa Banten; Lampung, Bangka, Solebar, Indragiri, dan daerah lainnya mengirimkan pasukan perangnya untuk bergabung dengan pasukan Surosowan.

Demikian juga keadaan kompeni di Batavia, pasukan perang kompeni diperkuat dengan serdadu-serdadu sewaan dari Kalasi, Ternate, Bandan, Kejawan, Melayu, Bali, Makasar dan Bugis. Memang serdadu yang berasal negeri Belanda sendiri sangat sedikit, mereka sengaja mengambil penduduk pribumi untuk menghadapi orang pribumi lainnya; dalam pertempuran pun, orang Belanda selalu berada di belakang sedangkan yang maju perang selalu serdadu pribumi. Diperkuatnya penjagaan-penjagaan dan benteng-benteng di perbatasan Angke, Pesing, Tangerang; tapi karena kompeni sedang sibuk berperang dengan Makasar, mereka tidak bisa banyak menyiapkan pasukan.

Setelah terjadi beberapa kali pertempuran yang banyak merugikan kedua belah pihak, maka sekitar bulan Nopember atau Desember 1657 Kompeni mengajukan usul gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata ini tidak segera dapat disepati, karena syarat-syarat perjanjian itu belum semuanya disepakati; kepentingan Belanda dan kepentingan Banten selalu berbeda. Tanggal 29 April 1658 datanglah utusan Belanda ke Banten membawa surat dari Gubernur Jendral Kompeni yang berisi rangcangan perjanjian persahabatan. Usul perdamaian ini terdiri dari 10 pasal:

1)              Kedua belah pihak harus mengembalikan tawanan perangnya masing-masing.

2)              Banten harus membayar kerugian perang berupa 500 ekor kerbau dan 1500 ekor sapi.

3)              Blokade Belanda atas Banten akan dihentikan setelah Sultan Banten menyerahkan pampasan perang.

4)              Kantor perwakilan Belanda di Banten harus diperbaiki atas biaya dari Banten.

5)              Sultan Banten harus menjamin keamanan dan kemerdekaan perwakilan kompeni di Banten.

6)              Karena banyaknya barang-barang kompeni dicuri dan digelapkan oleh orang Banten, maka kapal-kapal kompeni yang datang di Banten dibebaskan dari pemeriksaan.

7)              Setiap orang Banten yang ada di Batavia harus dikembalikan ke Banten, demikian juga sebaliknya.

8)              Kapal-kapal kompeni yang datang ke pelabuhan Banten dibebaskan dari bea masuk dan bea keluar.

9)              Perbatasan Banten dan Batavia ialah garis lurus dari Untung Jawa hingga ke pedalaman dan pegunungan.

10)          Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, warga kedua belah pihak dilarang meliwati batas daerahnya masing-masing.

Dari rancangan naskah perjanjian yang diajukan kompeni ini Sultan ‘Abulfath dapat melihat kecurangan dan ketidaksung-guhan kompeni atas pedamaian; kompeni hanya mengharapkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyat Banten. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658, Sultan mengirimkan utusan ke Batavia untuk mengajukan perubahan atas rancangan naskah perjanjian itu :

1)              Rakyat Banten dibolehkan datang ke Bataviasetahun sekali untuk membeli senjata, meriam, peluru, mesiu, besi, cengkeh dan pala.

2)              Rakyat Banten dibebaskan berdagang di Ambondan Perak tanpa dikenakan pajak dan cukai.

Usul Sultan ini dengan serta merta ditolaknya, kompeni hanya menginginkan supanya orang Banten membeli rempah-rempah dari kompeni dengan harga yang ditentukan dan harus membayar pajak. Monopoli rempah-rempah di Ambon dan Maluku adalah suatu yang sangat menguntungkan kompeni, sehingga apabila Banten dibolehkan berdagang di sana, hapuslah monopoli ini. Demikian juga apabila orang Banten dibolehkan membeli alat-alat perang, ini akan memungkinkan Banten memperkuat diri dan dengan mudah akan merebut kembali Batavia.

Penolakan Gubernur Kompeni atas usul ini membuat Sultan sadar bahwa tidaklah mungkin akan ada persesuaian pendapat antara dua musuh yang berbeda kepentingan ini, bahkan dengan perdamaian ini kompeni berkesempatan untuk menyusun kekuatan. Karena berpikiran demikian maka pada tanggal 11 Mei 1658 dikirimnya surat balasan yang menyatakan bahwa Banten dan kompeni Belanda tidak akan mungkin bisa berdamai. Tiada jalan lain yang harus ditempuh kecuali perang. Sejak itulah Sultan Abulfath Abdulfattah mengumumkan “perang sabil” menghadapi kompeni Belanda. Seluruh kekuatan angkatan perang Banten dikerahkan ke daerah-daerah perbatasan, maka terjadilah pertempuran besar di darat dan laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti-hentinya sejak bulan Mei 1658 sampai dengan tanggal 10 Juli 1659 (Djajadiningrat, 1983:71 dan Tjandrasasmita, 1967: 12-16).

Satu peristiwa yang mempercepat meletusnya perang antara Banten dan kompeni Belanda, dalam situasi yang demikian panas, adalah peristiwa dibunuhnya Lurah Astrasusila oleh patroli Belanda; Lurah Astrasusila adalah salah seorang ponggawa Banten yang kena marah Sultan karena peristiwa pagarage di Sumur Angsana. Karena perbuatannya itu ia merasa bersalah dan berdosa kepada Allah, maka untuk menebus dosanya ini dia ingin ikut berperang dan mati sahid, dengan cara demikian mudah-mudahan Sultan pun akan memaafkannya.

Suatu hari, seusai shalat Magrib, Astrasusila berlayar dengan sebuah kuting ke arah timur menuju Tanjung Kahit, dan berusaha mencegat kapal Belanda yang biasa berlayar dari Tong-Jawa atau Batavia. Ia melihat sebuah selup kompeni, dan bersama dua orang temannya ia berpura-pura menjadi penjual kelapa yang dengan mudah dinaikkan ke atas selup kompeni. Di atas selup, Lurah Astrasusila dan kedua temannya mengamuk hingga banyak serdadu Belanda yang dibunuhnya, tapi akhirnya ketiga orang itupun gugur. Peristiwa terbunuhnya Luruh Astrasusila ini disampaikan kepada Sultan ‘Abulfath. Sultan merasa terharu bercampur marah atas pengorbanan punggawanya itu, demikian juga dengan para pembesar lainnya. Sejak saat itulah Sultan menyatakan perang kepada kompeni (Djajadiningrat, 1983:73).

Untuk lebih jelasnya tentang persiapan prajurit Banten dalam menghadapi perang ini, “Sajarah Banten” menceritakan:

a.    Angkatan laut

(1)      Armada laut yang menjaga perairan Karawang dipimpin oleh Pangeran Tumenggung Wirajurit.

(2)      Armada laut yang berkedudukan di dekat pelabuhan Untung Jawa dipimpin oleh Aria Suranata.

(3)      Armada laut yang berkedudukan di dekat Tanahara dipimpin oleh Pangeran Ratu Bagus Singandaru.

(4)      Armada laut yang bertugas di dekat perairan Tanjung Pontang dipimpin oleh Ratu Bagus Wiratpada.

(5)      Armada laut yang berkedudukan di dekat Pelabuhan Ratu dipimpin oleh Tumenggung Saranubaya.

b.    Angkatan darat

(1)      Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi Wirasaba dan Ngabehi Purwakarti dikirim ke Caringin untuk menjaga musuh yang masuk dari daerah selatan.

(2)      Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi Tanuita ditempatkan di kota Surosowan sebagai penjaga ibukota Kesultanan.

(3)      Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi Tanujiwa ditugaskan sebagai pasukan penghubung antara garis depan Angke dan Tangerang dengan kotaSurosowan.

(4)      Pasukan yang dipimpin oleh Raden Senopati Ing Ngalaga (Panglima Perang) dan Rangga Wirapatra ditugaskan menjadi pasukan penyerang dan menjadi pasukan induk dengan kekuatan 5000 prajurit pilihan.

c.    Pasukan meriam

Pasukan meriam ini ditempatkan di pantai sekitar ibukota Kesultanan, untuk menjaga musuh yang datang dari Teluk Banten. Tiap meriam dipercayakan kepada 10 orang prajurit khusus dengan seorang pimpinan kelompok. Sejarah Banten mencatat nama-nama meriam itu dengan pimpinan kelompoknya sebagai berikut: Jajaka tua dipercayakan kepada Pangeran Upapatih, Jaka Pekik kepada Pangeran Kidul, Kalantaka kepada Pangeran Lor, Nilantaka kepada Pangeran Kulon, Kalajaya kepada Pangeran Wetan, Ki Muntabkepada Tubagus Suradinata, Urangayu kepada Pangeran Wirasuta, Pranggisela kepada Pangeran Prabangsa, Danamarga kepada Pangeran Sutamanggala, Jaka Dalemkepada Pangeran Gusti; sedangkan lima puluh buah meriam lagi dipercayakan kepada ponggawa lainnya. Disusunnya meriam-meriam itu dari Sunya Gagak, Kuta Karang hingga tepi sungai. Dari Pabean Barat hingga Pabean Timur, dari Kuta Jagabaya sampai Kadongkalan dan Kapatihan.

Pada hari yang sudah ditentukan, yaitu pada hari Senin tahun kadi ula pandawa iku atau tahun 1580 Saka atau tahun 1657/1658 M (Djajadiningrat, 1983:73 dan 212), pasukan perang Banten itu berangkat ke pos penyerangannya masing-masing seperti yang sudah diintruksikan. Pada hari pemberangkatan itu Sultan menyuruh membagi-bagikan hadiah berupa uang dan pakaian kepada prajurit serta keluarganya sebagai tanda kenang-kenangan dan penguat tekad.

Pembesar kerajaan yang ikut dalam pasukan perang itu antara lain: Kartiduta, Haji Wangsaraja, Demang Narapaksa, dan Kanduruhan Wadoaji. Ki Haji Wangsaraja dan Raden Senopati Ing Ngalaga duduk dalam sebuah tandu. Demikian banyak pasukan yang berangkat pada hari itu, sehingga barisan terdepan sudah sampai di Pangapon sedangkan barisan belakang masih berada di alun-alun Surosowan.

Setelah berjalan delapan hari sampailah mereka di Tangerang dan bergabung dengan pasukan yang sudah berada di sana. Untuk tempat peristirahatan, dibuatlah barak-barak baru di Tangerang dan Angke sebagai pusat pertahanan dan basis penyerangan.

Mendengar pemberangkatan pasukan Banten ini, kompeni segera mempersiapkan pasukan yang dibagi menurut asal daerah masing-masing, orang Ternate dipimpin oleh orang Ternate, begitu juga orang Kalasi, Kejawan, Bandan, Bali dan Ambon. Dan setelah berjalan kaki selama satu hari pasukan kompeni ini sampai di Angke, berhadapan dengan pasukan Banten.

Tujuh hari tujuh malam kedua pasukan yang bermusuhan itu saling berhadap-hadapan tanpa ada salah satu yang mendahului menyerbu. Baru setelah Senopati Ing Ngalaga memberikan aba-aba untuk menyerang, bersiap-siagalah semuanya. Raden Senapati Ing Ngalaga naik kuda berkeliling sambil menantang musuh, sedangkan Ki Rangga Wirapatra berjalan di barisan terdepan. Setelah Haji Wangsaraja berdo’a mohon perlindungan Allah untuk menghancurkan orang kafir penindas, berangkatlah pasukan ke medan laga.

Sepanjang hari pertempuran berlangsung hebat tanpa henti-hentinya. Tidak dapat dipastikan siapa yang paling hebat. Baru setelah hari senja, pertempuran itu mulai reda, dan kedua belah pihak menarik diri dari garis perang, kembali ke kubunya masing-masing.

Selama tiga hari tidak terjadi pertempuran, masing-masing pihak beristirahat sambil mengatur taktik penyerangan selanjutnya. Raden Senopati Ing Ngalaga memanggil para ponggawa untuk merundingkan taktik dan strategi perang serta memberi instruksi lainnya. Kemudian ditetapkan supaya penyerangan dilakukan dengan formasi burung dadali (format penyerangan menyebar), karena musuh memakai formasi papak(saff tempur melingkar disatukan). Untuk mengacaukan mental pasukan kompeni dan menghancurkan tempat-tempat persem-bunyian mereka, Ngabehi Wira Angun-angun dan Prayakarti ditugaskan untuk membakar desa di sekeliling kubu musuh dan juga membakari tanaman tebu milik kompeni. Dan nanti, bersamaan dengan pembakaran-pembakaran itu, Senopati Ing Ngalaga dengan 500 prajurit pilihan bergerak melingkar dan menyerang musuh dari belakang.

Keesokan harinya, setelah tanda penyerangan dibunyikan mulailah mereka menjalankan tugasnya masing-masing. Ngabehi Wira Angun-angun, Prayakarti dan beberapa serdadu pilihan secara diam-diam membakar kampung-kampung, tanaman tebu dan pabrik penggilingan tebu serta menghancurkan segala tempat yang mungkin menjadi sarang musuh. Sedangkan Raden Senopati Ing Ngalaga dengan 500 tentaranya bergerak ke arah timur dengan tujuan menyerang musuh dari belakang. Adapun prajurit lainnya dipimpin oleh ponggawa dan senopati yang gagah berani menyerang dari depan dengan penyerangan diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan tiap prajurit berperang satu lawan satu.

Pasukan yang dipimpin oleh Demang Narapaksa dan Demang Wirapaksa banyak menimbulkan kerugian jiwa di pihak kompeni. Banyak pimpinan mereka yang dapat dibinasakan, di antaranya Kapiten Drasti, Kapiten Perancis, Kapiten Terus, dan Kapiten Darus. Pertempuran pada hari itu berlangsung hebat, sehingga banyak mengambil korban dari kedua pihak, dan baru setelah senja tiba pertempuran pun dihentikan.

Hari berikutnya Raden Senopati memanggil Prayakarti untuk menyampaikan berita tentang keadaan medan perang, sambil menyerahkan barang-barang rampasan perang kepada Sultan di Surosowan. Bersama empat puluh orang pengawal berangkatlah Prayakarti ke ibukota Banten. Membaca surat dari Raden Senopati, terlihat wajah Sultan mencerminkan perasaan gembira bercampur sedih dan gemas. Sultan sangat mengharapkan kehancuran kompeni secepatnya. Kemudian Sultan berdiri dan memberikan maklumat: “Barang siapa yang dapat menyerahkan satu kepala kompeni Belanda akan diberikan hadiah 10 real dan barang siapa yang dapat menyerahkan satu telinga Belanda akan diberi hadiah 5 real.” Kepada Prayakarti atas jasa-jasanya Sultan menghadiahkan sebuah desa serta sebuah lampit dengan kotaknya, demikian juga keempat puluh pengawalnya semua mendapat hadiah (Djajadiningrat, 1983: 73-75).

Dalam pada itu, pertempuran di laut pun telah terjadi dengan hebat. Diceritakan, Ratu Bagus Wangsakusuma ketika sedang melakukan patroli di perairan dekat Pontang, dilihatnya sebuah kapal besar milik kompeni di Selat Pulo Pemujan yang sedang menurunkan sebuah slup penuh berisi senjata menuju ke pantai. Ratu Bagus Wangsakusuma dan prajuritnya bersembunyi di belakang Pulau Dua dan menyergap kapal kompeni itu, sehingga semua serdadu kompeni dapat dibinasakan dan senjatanya dapat dirampas. Berita keberhasilan ini disampaikan kepada Sultan berikut semua senjata rampasannya.

Sarantaka dan Sacantaka bersama dua pacalang berhasil menghancurkan sebuah kapal kompeni di Tanjung Balukbuk. Pangeran Ratu Bagus Singandaru dapat menghancurkan sebuah kapal jung besar milik kompeni yang baru datang dari Malaka di dekat Tanjung Barangbang. Demikian juga dengan pasukan Kyai Haji Abbas, mereka dapat menghancurkan kapal kompeni di dekat perairan Gosong Bugang, semua barang rampasan diserahkan kepada Sultan.

Armada-armada Banten di perairan jauh pun mencatat kemenangan yang menggembirakan. Pasukan yang dipimpin oleh Rangga Natajiwa, Surantaka dan Wiraprana dapat menghancurkan armada kompeni di Krawang yang mengangkut pasukan dari Jawa Timur. Sedangkan di perairan Pelabuhan Ratu, pasukan Saranurbaya dapat menghancurkan kapal kompeni, walaupun Saranurbaya sendiri luka parah yang mengakibatkan ia meninggal dunia lima hari kemudian.

Di perairan Teluk Banten, di depan kota Surosowan, datang 11 kapal perang kompeni, dalam formasi mengepung dari Pulau Lima di timur sampai ke Pulau Dua. Di Surosowan, pasukan meriam yang sudah disiapkan, segera mengarahkan sasarannya ke kapal-kapal itu, maka terjadilah tembak menembak yang seru dari kedua pasukan (Djajadiningrat, 1983: 75-76). Beberapa meriam Banten banyak yang tepat mengenai sasaran; si Jaka Pekik, si Muntab dan si Kalantaka selalu tepat mengenai kapal-kapal kompeni itu, sehingga armada penyerang melarikan diri dan kembali ke Batavia dengan meninggalkan kapal-kapal yang rusak dan tenggelam (Tjandrasasmita, 1967:21). Pertempuran hebat di darat dan di laut ini terus menerus berlangsung sampai tujuh belas bulan lamanya (Djajadiningrat, 1983:76).

Pada suatu malam yang sunyi tapi tegang itu Arya Mangunjaya, salah seorang ponggawa yang memimpin pasukan perang di front Tangerang – Angke, menghadap Sultan tanpa melalui prosedur biasa, melaporkan tentang keadaan medanperang. Dilaporkan bahwa keadaan prajurit dan ponggawa-ponggawanya masih dalam kondisi baik dan mereka siap untuk bertempur, tapi keadaan mereka pun perlu diperhatikan karena sudah lebih satu tahun mereka berperang tanpa henti; maka alangkah lebih baik lagi apabila Sultan mengganti mereka dengan pasukan yang lebih segar. Setelah Sultan berunding dengan pembesar lainnya, diperintahkannya Mangkubumi untuk menyiapkan pasukan pengganti. Maka keesokan harinya, Mangkubumi dan Pangeran Mandura menyiapkan prajurit-prajurit Banten di Surosowan untuk diberangkatkan ke Tangerang dan Angke. Arya Mangunjaya diangkat sebagai panglima perang dengan Arya Wiratmaja sebagai wakilnya. Pasukan pengganti ini diberangkatkan pada tahun mantri kunjara tataning jurit atau pada tahun 1581 Saka/1659 M. Bersama pasukan itu ikut pula Sayyid Ali, utusan dari Mekkah, untuk menggantikan Kyai Haji Wangsaraja yang bertugas untuk memelihara semangat juang dan keyakinan agama prajurit. Sedangkan Pangeran Senopati bersama seluruh pasukannya dipanggil pulang kembali ke Surosowan (Tjandrasasmita, 1967:22).

Kedatangan pasukan pengganti ini diketahui oleh kompeni Belanda. Maka untuk mengimbangi kekuatan pasukan Banten itu, dikirimnya lagi pasukan tambahan dari Batavia.

Setelah kedua pasukan itu saling berhadapan, diadakan perang tanding antara pemimpin kedua pasukan. Arya Mangunjaya ditantang oleh seorang Kapten Belanda, yang kemudian dapat dibunuhnya. Prayakarti ketika hendak memenggal kepala kapten musuh yang sudah dibunuhnya, tiba-tiba dibokong oleh empat orang musuh sehingga ia gugur. Maka serentak kedua pasukan itu mengadakan serangan, dan perang besar dimulai, sampai senja hari. Keesokan harinya Arya Mangunjaya memerintahkan beberapa orang prajurit untuk pergi ke Surosowan melaporkan jalannya perang, sambil membawa prajurit-prajurit yang terluka, tawanan perang dan juga harta rampasan.

Pertempuran baru dilanjutkan selang beberapa hari kemudian. Banyak prajurit dari kedua pihak yang gugur dan terluka. Prajurit Banten yang terluka segera dikirim ke Surosowan, tapi banyak pula yang meninggal di perjalanan karena lukanya yang parah.

Karena penyerangan pasukan Banten ini dilakukan terus menerus dan tanpa mengenal takut, akhirnya kedudukan kompeni semakin terdesak sampai mendekati batas kota Batavia. Penduduk dan pejabat kompeni segera mengungsi ke daerah lain, khawatir kalau-kalau pasukan Banten dapat menembus benteng pertahanan kota; tambahan tentara tidak mungkin diharapkan, karena pada waktu itu kompeni pun sedang sibuk berperang dengan Makasar. Karena keadaan terdesak inilah kompeni berusaha mengadakan perdamaian dengan Sultan ‘Abulfath di Surasowan, dan sudah tentu Sultan menolak usul perdamaian tersebut. Untuk melunakkan hati Sultan, kompeni minta tolong kepada Sultan Jambi untuk tercapainya perjanjian persahabatan itu. Sultan Jambi mengirimkan utusannya Kiyai Damang Dirade Wangsa dan Kiyai Ingali Marta Sidana ke Surosowan. Akhirnya pada tanggal 10 Juli 1659, ditandatangani perjanjian damai antara Sultan ‘Abulfath Abdulfattah dengan Gubernur Jendral Joan Matsuiyker. Dengan ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata ini, maka berakhirlah untuk sementara perang besar antara Banten dan kompeni Belanda.

Perjanjian gencatan senjata tanggal 10 Juli 1659 itu, dijadikan kesempatan yang baik oleh Sultan Abulfath untuk membenahi diri guna persiapan menghadapi kompeni selanjutnya. Untuk tujuan itulah, Sultan mulai mengadakan pembangunan-pembangunan dalam segala bidang yang pada waktu sebelumnya tertunda karena perang.

Guna memenuhi kebutuhan senjata api dan senjata berat lainnya, Sultan mengadakan hubungan dengan negara Inggris, Portugis dan Perancis yang bersedia menjual senjata-senjata yang dibutuhkan Banten — pada waktu itu antara Belanda, Inggris, Portugis dan Perancis sedang terjadi persaingan dagang yang keras. Dalam pada itu, hubungan Banten dengan kerajaan Islam di Turki berjalan baik, sehingga orang-orang Banten yang pergi haji, pulangnya dapat membawa senjata-senjata yang dibelinya dari Turki.

Senjata-senjata perang ini, selain diperoleh dengan cara membeli dari luar negeri, Banten pun sebenarnya sudah mampu membuatnya sendiri. Hal ini terbukti dari hasil penggalian di situs Kampung Sukadiri dan Kepandean, di sana ditemukan seperangkat alat-alat pengecoran logam dan juga wadah pencetak senjata (Mundardjito, 1977:546). Itulah sebabnya mengapa Banten pun mampu mengirimkan meriam dan senjata api lainnya, lengkap dengan peluru serta mesiunya sebanyak beberapa kapal kepada pasukan Trunojoyo di Jawa Timur (Sanusi Pane, 1950:212).

Dalam pengadaan kapal perang, Sultan memesan dari beberapa galangan kapal di Jawa, seperti di Jepara dan Gresik. Sedangkan kapal perang yang besar dan khusus, dibuat sendiri di galangan kapal di Banten dengan bantuan orang-orang Portugis dan Belanda yang sudah Islam (Tjandrasasmita, 1975:17).

Untuk memperkuat ketahanan angkatan perangnya, Sultan juga mengangkat prajurit-prajurit muda yang kesemuanya dilatih guna menghadapi medan perang yang berat. Mereka dipersiapkan untuk menempati pos terdepan di Tangerang dan Angke, karenanya pada tahun 1660 Sultan pun memerintahkan membuat perkampungan prajurit di sebelah barat Untung Jawa, yang diperkirakan mampu menampung 5000 sampai 6000 prajurit (Tjandrasasmita, 1967:28). Kemudian untuk tempat pengungsian bagi kaum wanita apabila terjadi peperangan, terutama untuk wanita kraton, Sultan membuat tempat perlindungan di Banten Girang (Djajadiningrat, 1983: 125).

Selain di Tangerang, Sultan juga membuat perkampungan prajurit pilihan di Pontang, bahkan akhirnya Sultan menyuruh membuat istana yang nantinya digunakan sebagai pusat pengontrol kegiatan di Tangerang dan Batavia, di samping untuk tempat peristirahatan. Maka dengan demikian Pontang dijadikan penghubung antara Surosowan dan benteng pertahanan di Tangerang, yang juga mempersingkat jalur komunikasi dari medan perang. Untuk menghubungkan Surosowan, Pontang dan Tangerang, digunakan dua jalur, di samping jalan darat yang sudah ada dari Surosowan ke Pontang, juga dibuat saluran tembus yang digali sepanjang jalan kuno, yakni dari sungai Untung Jawa (Cisadane), Tanahara hingga ke Pontang — dari Tanahara, dengan menyusuri sungai Cisadane sampailah ke pantai Pasilian. Saluran tembus antara Pontang dan Tanahara ini dibuat cukup lebar, sehingga dapat dilayari kapal perang ukuran sedang. Proyek pembuatan saluran ini dimulai pada tahun 1660 dan selesai sekitar tahun 1678. Melalui sungai buatan ini, Sultan dapat segera mengirimkan bantuan ke Tangerang baik dari pos Pontang maupun dari Surosowan (Tjandrasasmita, 1967:27).

Sungai buatan ini — yang pasti dikerjakan dengan kemauan dan biaya raksasa — bukan saja dimaksudkan untuk kepentingan militer tetapi juga untuk pertanian. Sehingga dengan dibangunnya saluran tembus itu berarti daerah sekitarnya menjadi daerah subur, maka tumbuhlah daerah sekitar Pontang sebagai daerah penghasil padi yang dapat diandalkan untuk Banten. Rupanya inilah yang dituju oleh Sultan, yaitu mempersiapkan daerah strategis untuk pos pembantu penyerangan ke Batavia, di samping juga menjadi “daerah kantong” atau penyedia bahan makanan bagi prajurit di medan perang.

Selain itu, Sultan pun berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan di dalam ibukota kerajaan. Dengan bantuan ahli bangunan dari Portugis dan Belanda, yang sudah masuk Islam, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel, diperbaiki pula bangunan-bangunan istana Surosowan. Benteng istana diperkuat dan diberi bastion, bangunan berbentuk setengah lingkaran di setiap mata angin, yang dilengkapi dengan 66 buah meriam diarahkan ke segenap penjuru (Chijs, 1881:39)[17]. Sungai di sekeliling benteng dan irigasi di sekitar ibukota pun diperlebar dan ditingkatkan daya jangkaunya, sehingga areal sawah yang mendapat pengairan semakin luas. Daerah yang tadinya selalu kekurangan air menjadi subur; padi dan tanaman produksi lainnya sangat menunjang kemakmuran rakyat Banten, diperkirakan produksi merica rata-rata 3.375.000 pon pada tahun 1680 – 1780 (Chijs, 1881:70).

Dengan ditandatanganinya gencatan senjata antara Banten dan Batavia, berarti blokade Kompeni atas pelabuhan Banten pun berakhir. Kapal-kapal dagang asing yang tadinya takut berlabuh di Banten, sekarang mereka dapat berniaga dengan aman dan bebas. Maka ramailah pelabuhan Banten dengan kapal-kapal dagang dari berbagai negara, seperti dari Manila, Jepang, Cina, India, Persia dan Arab, bahkan pedagang-pedagang dari Ingris, Perancis, Denmark, Belanda dan Portugis pun membuka kantor perwakilannya di Banten. Karena Mataram dalam situasi perang dengan kompeni, maka pusat perdagangan di bagian timur pun beralih ke Banten; otomatis wilayah dagang Banten ini meliputi hampir seluruh daerah nusantara. Sehingga dapat dikatakan bahwa Banten mencapai puncak kejayaannya — dan pada masa itu pun dikeluarkan uang emas Kesultanan Banten (Burger, 1962:63).

Dalam masa itu pula perkembangan pendidikan agama Islam maju dengan pesat. Di komplek Masjid Agung dibangun sebuah madrasah yang dimaksudkan untuk mencetak pemimpin rakyat yang saleh dan taat beragama, demikian juga di beberapa daerah lainnya. Untuk mempertinggi ilmu keagamaan dan membina mental rakyat serta prajurit Banten didatangkan guru-guru dari Aceh, Arab dan daerah lainnya. Salah satunya adalah seorang ulama dari Makasar, Syekh Yusuf Taju’l Khalwati, yang kemudian dijadikan Mufti Agung, guru dan mantu Sultan Abulfath (Hamka, 1982:38).

Sultan membina hubungan baik dengan beberapa negara Islam seperti dengan Aceh dan Makasar, demikian juga dengan negara Islam di India, Mongol, Turki dan Mekkah. Sultan menyadari bahwa, untuk menghadapi kompeni yang kuat dan penuh dengan taktik licik tidaklah mungkin dihadapi oleh Banten sendiri. Dalam kegiatan diplomatik, Sultan pernah mengirimkan utusan ke Ingris yang terdiri dari 31 orang dipimpin oleh Naya Wipraya dan Jaya Sedana pada tanggal 10 Nopember 1681. Utusan ini bukan saja sebagai kunjungan persahabatan tetapi juga sebagai upaya mencari bantuan persenjataan (Russel Jones, 1982).

#Demikian pesatnya usaha yang dilakukan Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah dalam membangun kemakmuran Banten, sebagai persiapan mengusir penjajah Belanda, sehingga Gubernur Jendral Ryklop van Goens, pengganti Gubernur Jendral Joan Matsuiyker, menulis dalam suratnya yang ditujukan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda tanggal 31 Januari 1679, bahwa “Yang amat perlu untuk pembinaan negeri kita adalah penghancuran dan penghapusan Banten. … Banten harus ditaklukkan, bahkan dihancur leburkan, atau kompeni yang lenyap” (Tjandrasasmita, 1967:35).

2.    Politik Adu-domba Belanda

Dari perkawinannya Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah dikaruniai anak:

1)              Dari istri Ratu Adi Kasum, puteri Pangeran Arya Iwardaya, dikarunia anak seorang yaitu Abdul Kohar.

2)              Dari istri Ratu Ayu Gede, berputera: Pangeran Arya Abdul ‘Alim, Pangeran Arya Ingayuja Pura dan Pangeran Arya Purbaya.

3)              Dari istri Ratu Siti, berputera: Pangeran Sugiri.

4)              Dari istri yang tidak disebut namanya. berputra: Tubagus Raja Suta, Tubagus Rajaputra, Tubagus Husen, Raden Mandaraka, Raden Saleh, Raden Arum, Raden Mesir, Raden Muhammad, Tubagus Muhasim, Tubagus Wetan, Tubagus Muhammad ‘Arif, Tubagus Abdul, Ratu Jamiroh, Ratu Ayu, Ratu Kidul, Ratu Marta, Ratu Adi, Ratu Ummu, Ratu Majidah, Ratu Habibah, Ratu Fatimah, Ratu Asyithoh, dan Ratu Nasibah.

Seperti kebiasaan yang dilakukan sultan-sultan sebe-lumnya, Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah mengangkat putra pertamanya menjadi putra mahkota. Jabatan ini biasanya dikaitkan sebagai Mangkubumi pembantu atau Mangkubumi kedua dalam struktur pemerintahan. Wewenang putra mahkota rupanya cukup besar, sehingga semua kebijaksanaan Sultan haruslah hasil musyawarah antara sultan, mangkubumi dan putra mahkota. Oleh karenanya putra mahkota pun mempunyai pembantu-pembantunya sendiri, seperti juga mempunyai pasukan dan sebagainya. Pengangkatan Abdul Kohar menjadi Pangeran Gusti (Putra Mahkota) terjadi pada tanggal 16 Pebruari 1671, bertepatan dengan datangnya surat dari Syarif Mekkah, yang isinya antara lain bahwa Pangeran Gusti diberi gelar Sultan Abu’n Nasr Abdul Kohar (Djajadiningrat, 1983: 55, 208).

Putra Mahkota Sultan Abu’n Nasr Abdul Kohar diberi kuasa untuk mengatur semua urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri masih sepenuhnya wewenang Sultan Abdul Fattah. Semenjak itu Sultan ‘Abulfath Abdul Fattah pindah ke istana yang baru di Pontang (kira-kira 13 km ke arah timur Surosowan, yang sekarang desa Tirtayasa) — karena itu diberi sebutan Sultan Ageng Tirtayasa. Keputusan ini diambil (mungkin) Sultan ingin memusatkan perhatian pada bidang pertahanan di Tangerang dan Angke; karena dari Tirtayasa keadaan di garis depan akan lebih mudah dikontrol, demikian juga keadaan di Surosowan pun akan cepat diketahui karena perhubungan antara kedua daerah sudah cukup baik. Tapi dengan pindahnya Sultan ‘Abdulfath ke Tirtayasa ini, Belanda semakin mendapat kesempatan baik, karena sewaktu beliau masih di Surosowan, kompeni tidak dapat berbuat banyak karena memang Sultan dikenal dengan keteguhan sikapnya; Sultan ingin supaya kompeni Belanda hancur dan enyah dari bumi nusantara.

Dengan segala rayuan dan bujukan halus, kompeni berusaha mendekati Putra Mahkota, dan akhirnya, Putra Mahkota pun dapat dipengaruhinya. kompeni Belanda men-dapat banyak kemudahan, baik dalam bidang perdagangan maupun bidang lainnya. Bahkan dalam setiap acara penting di istana Surosowan, wakil kompeni selalu diundang hadir. Kedekatan hubungan dengan kompeni ini sampai-sampai mempengaruhi cara pikir dan tingkah laku Putra Mahkota. Dalam kehidupan sehari-hari, cara berpakaian, makanan dan sebagainya, Putra Mahkota banyak meniru kebiasaan-kebiasaan orang Belanda, yang dirasa asing oleh rakyat Banten. Sehingga tidaklah aneh apabila sebagian besar rakyat dan pembesar kerajaan tidak menyenanginya (Tjandrasasmita, 1967 : 35).

Melihat keadaan demikian itu, Sultan Ageng Tirtayasa sangatlah prihatin. Dibujuknya Putra Mahkota untuk menu-naikan ibadah haji ke Mekkah, yang nanti pulangnya meninjau beberapa negara Islam. Diharapkan dengan cara demikian, kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak selaras dengan adat keislaman sedikit banyak dapat dihilangkan. Di samping itu pula Putra Mahkota dapat memperluas wawasan berpikirnya, demi kemajuan Kesultanan Banten (Hamka, 1976: 303). Maka pada tahun 1674 berangkatlah Putra Mahkota Sultan Abu’nasr Abdul Kahar beserta rombongannya ke Mekkah, sekalian melawat ke negeri-negeri Islam lainnya. Perjalanan ini memakan waktu dua tahun pulang pergi.

Selama Putra Mahkota pergi ke Mekkah, pemerintahan di Surosowan dipercayakan kepada adiknya, Pangeran Purbaya. Mengingat sifat Pangeran Purbaya yang jauh lebih baik dari kakaknya, Sultan Ageng Tirtayasa banyak menyerahkan tanggung jawab kerajaan ke pundaknya. Sehingga begitu Putra Mahkota pulang dari Mekkah, didapatinya Pangeran Purbaya lebih banyak mendapatkan kekuasaan dari ayahnya. Karena itulah terjadi adanya ketegangan hubungan antara Putra Mahkota — yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji — dengan Pangeran Purbaya. Demikian juga antara Sultan Haji dengan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.

Keadaan demikian dimanfaatkan oleh kompeni untuk menghasut Sultan Haji dan berusaha mengadu-dombakan antara ayah dan anak. Sehingga timbullah keberanian Sultan Haji untuk menentang kebijaksanan ayahnya. Dan karena dianggapnya semua orang di istana memusuhinya, Sultan Haji lebih percaya kepada kompeni yang dianggapnya sebagai kawan sejati, dan dijadikannya orang-orang Belanda itu sebagai penasehatnya.

Dalam situasi yang demikian itu, datanglah tiga orang pangeran dari Cirebon. Mereka adalah Pangeran Martawijaya, Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Wangsakerta[18].  Ketiganya diterima baik oleh Sultan dan dijanjikan untuk menjadikan mereka sultan di Cirebon yang merdeka atas jaminan Banten. Dengan bantuan beberapa prajurit pilihan dari Banten, mereka ditugaskan untuk menyusun kekuatan rakyat Cirebon yang nanti disiapkan menyerang kompeni dari arah timur[19]. Tindakan Sultan membantu ketiga pangeran Cirebon itu ditentang oleh Sultan Haji, yang dianggapnya mencampuri urusan kompeni, dan ini berbahaya bagi rakyat Banten.

Biar pun perjanjian persahabatan telah ditandatangani, Sultan masih melihat adanya usaha kompeni untuk memak-sakan monopoli perdagangan di Banten; bahkan mereka pun berusaha mengadu-domba antara rakyat dan pembesar istana. Karena itulah, secara diam-diam, Sultan membantu perlawanan rakyat terhadap kompeni Belanda. Sultan membina hubungan baik dengan Trunojoyo di Jawa Timur dan Sultan Hasanuddin di Makasar[20]. Dan, setelah perlawanan Trunojoyo dan Hasanuddin dapat dikalahkan Belanda, Sultan menerima prajurit-prajurit mereka bergabung untuk bersama-sama memerangi kompeni. Sultan membantu mereka dalam mengadakan kekacauan-kekacauan di perbatasan Batavia. Pasukan ini pun berkali-kali mengadakan serangan gerilya pada pos-pos kompeni antara Cirebon dan Citarum, bahkan juga menyerang benteng kompeni di Tanjung Pura dekat Krawang (Sanusi Pane, 1950:216).

3. Tahap Akhir Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa

Hubungan Sultan Haji dengan kompeni Belanda sudah sedemikian dekatnya sehingga dalam pasukan pertahanan Surosowan pun ditempatkan satu barisan pasukan kompeni sebagai pasukan tambahan, yang pada hakekatnya mereka adalah mata-mata yang ditanam kompeni di Banten (Chijs, 1881 : 38). Memang inilah yang dituju kompeni, Sultan Haji sudah terbiasa dengan segala yang berbau Belanda. Ia lebih percaya kepada kata-kata kompeni dari pada petuah-petuah ayahnya. Karena hasutan kompeni ini pulalah maka hubungan Sultan Haji dengan ayahnya semakin renggang, bahkan kedua sultan ini saling curiga mencurigai. Sehingga pada diri Sultan Haji tumbuh keinginan yang kuat untuk segera memegang kekuasaan penuh di Kesultanan Banten, tanpa adanya campur tangan ayahnya.

Keinginan demikian terlihat dari tindakan Sultan Haji yang pada bulan Mei 1680 mengirimkan utusan ke Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk menawarkan perdamaian sambil menegaskan bahwa yang berkuasa di Banten sekarang adalah dirinya. Ia menyatakan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa sudah menyerahkan seluruh kekuasaannya. Sudah tentu tawaran itu ditolak, kompeni tahu bahwa Sultan Ageng Tirtayasa belum meletakkan jabatannya. Keadaan ini dijadikan senjata oleh kompeni mendorong Sultan Haji untuk segera memperoleh kuasa penuh di Banten.

Satu hal lagi yang mengecewakan Sultan Ageng Tirtayasa, adalah surat ucapan selamat yang dikirimkan Sultan Haji atas diangkatnya Speelman menjadi Gubernur Jendral VOC menggantikan Rijklof van Goens pada tanggal 25 November 1680, padahal saat itu kompeni baru saja menghancurkan pasukan gerilya Banten di Cirebon yang kemudian dapat menguasai Cirebon seluruhnya. Melihat keadaan anaknya yang sudah sedemikian keadaannya, Sultan Ageng Tirtayasa memobilisasikan pasukan perangnya untuk digunakan sewaktu-waktu. Rakyat dari daerah Tanahara, Pontang, Tirtayasa, Caringin, Carita dan sebagainya banyak yang mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit. Demikian juga tentara pelarian dari Makasar, Jawa Timur, Lampung, Solebar, Bengkulu dan Cirebon bergabung dengan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan sudah tidak peduli lagi dengan tentara dan bangsawan yang berpihak kepada Sultan Haji yang dianggap berpindah adat dan berbeda haluan.

Dalam suasana yang sudah demikian panas, Sultan Ageng mendengar khabar bahwa beberapa kapal Banten yang pulang dari Jawa Timur ditahan kompeni kerena dianggap kapal perompak. Tuntutan Sultan supaya mereka dibebaskan tidak dihiraukan kompeni. Hal ini membuat kemarahan Sultan menjadi-jadi. Rasa harga dirinya sebagai Sultan dari suatu negara merdeka terasa diremehkan. Maka diumumkannya bahwa Banten dan kompeni Belanda dalam situasi perang.

Pernyataan perang Sultan Ageng Tirtayasa kepada kompeni ini ditentang oleh anaknya, Sultan Haji. Sultan Haji menyatakan bahwa keputusan itu terlalu ceroboh, dan, karena tidak dimusyawarahkan dahulu dengannya maka keputusan itu tidak syah. Bahkan dengan bermodalkan bantuan pasukan kompeni, yang dijanjikan kepadanya, Sultan Haji memak-zulkan ayahnya, dengan alasan bahwa ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, sudah terlalu tua dan sudah mulai pikun sehingga mulai saat ini kekuasaan Banten seluruhnya dipegang oleh Sultan Haji.

Melihat tingkah laku anaknya yang sudah keterlaluan ini, habislah sudah kesabaran Sultan Ageng Tirtayasa. Musuh besarnya adalah kompeni Belanda, tapi untuk menggem-purnya harus ada kesatuan kata dari semua rakyat Banten. Oleh karenanya sebelum menyerang Batavia, terlebih dahulu harus menyatukan Banten, yaitu mengganti Sultan Haji. Sultan Ageng bukanlah akan berperang dengan anaknya, tetapi yang diperangi adalah antek penjajah.

Pada tanggal 26 malam 27 Pebuari 1682, dengan dipimpin sendiri oleh Sultan Ageng Tirtayasa, mulailah diadakan penyerbuan mendadak ke Surosowan, yang berhasil mematahkan perlawanan Surosowan, sehingga dalam waktu singkat, pasukan Sultan Ageng dapat menguasai istana. Sultan Haji melarikan diri dan minta perlindungan kepada Jacob de Roy, bekas pegawai kompeni (Tjandrasasmita, 1967 : 41).

Keadaan Surosowan ini segera dapat diketahui Batavia, maka pada tanggal 6 Maret 1682 dipimpin oleh Saint Martin kompeni mengirimkan dua kapal perang lengkap pasukan tempurnya. Pasukan ini tidak segera dapat mendarat di pelabuhan Banten, karena hebatnya perlawanan pasukan Banten. Maka Kapten Sloot dan W. Caeff, wakil kompeni di Banten, segera mengirim utusan ke Batavia agar kompeni mengirimkan pasukan darat yang lebih banyak lagi.

Setelah mempelajari keadaan medan perang, kompeni segera mengirim pasukan bantuan dari darat dan laut. Penyerangan dari laut dipimpin oleh Kapten Francois Tack yang, nanti bersama-sama dengan pasukan Saint Martin mengadakan serangan di depan pelabuhan Banten. Sedangkan pasukan darat dipimpin Kapten Hartsinck, berkekuatan 1000 orang, mengadakan penyerangan dari arah Tangerang; nanti dalam serbuan ke Tirtayasa, pasukan ini bergabung dengan pasukan laut, sehingga Tirtayasa diserang dari dua arah, demikian taktik kompeni.

Melalui pertempuran yang banyak memakan korban, akhirnya pasukan Kapten Tack dan Saint Martin dapat menguasai Surosowan. Sultan Ageng Tirtayasa dan pasukannya mundur ke arah barat sungai Ciujung. Pertempuran ini berlangsung terus menerus sampai akhirnya pasukan Sultan Ageng hanya dapat bertahan di benteng Kedemangan.

Dalam pada itu, pasukan Banten di Tangerang dan Angke berusaha menahan serangan pasukan Kapten Hartsink. Di sebelah timur Sungai Angke, kompeni hanya dapat bertahan di bentengnya saja, sedangkan benteng di sebelah baratnya, pada tanggal 30 Maret 1682, sudah dapat dikuasai pasukan Banten yang dipimpin Pangeran Dipati. Tapi setelah melalui pertempuran yang lama, pada tanggal 8 Desember 1682 kubu pertahanan Banten di Tangerang dan Angke dapat dikuasai kompeni. Benteng di Kedemangan pun akhirnya dapat dihancurkan pasukan Kapten Tack pada tanggal 2 Desember 1682. Dengan demikian ruang gerak prajurit Sultan Ageng Tirtayasa semakin kecil. Di sebelah barat pasukan kompeni yang dibantu pasukan Sultan Haji menguasai sampai Kademangan, sedangkan dari arah timur pasukan Kapten Hartsinck sudah sampai di perbatasan daerah Tanahara. Sehingga daerah induk yang masih dikuasai Sultan Ageng hanyalah Tanahara, Tirtayasa dan Kademangan saja (Sanusi Pane, 1950:216).

Untuk mempertahankan Tirtayasa, benteng di Kademangan dan Tanahara merupakan kubu pertahanan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa yang terkuat. Di Tanahara, Sultan Ageng menempatkan pasukan darat yang dipusatkan di benteng Tanahara, dan juga pasukan lautnya di Pulau Cangkir. Karena kuatnya pertahanan di Tanahara ini, maka kompeni menambah lagi pasukan tempurnya dari Batavia dipimpin Kapten Jonker. Setelah mengerahkan pasukan penyerang dari darat dan laut, barulah pada tanggal 28-29 Desember 1682 Tanahara pun dapat direbut kompeni.

Dalam usaha untuk menguasai daerah Tirtayasa, kompeni melakukan penyerangan serentak dari dua jurusan: pasukan Kapten Tack dan Sultan Haji menyerang dari Pontang, sedangkan pasukan Hartsinck dan Kapten Jonker menyerang dari Tanahara. Seluruh barisan pertahanan Sultan Ageng dikerahkan untuk melawan kekuatan kompeni ini. Sultan Ageng, Pangeran Purbaya, Syekh Yusuf dan seluruh pembesar negeri semuanya turut berperang memimpin pasukan. Pertempuran berlangsung hebat, tapi akhirnya pasukan Sultan Ageng sedikit demi sedikit dapat dipukul mundur. Karena Sultan memperkirakan bahwa pasukannya tidak akan mampu mempertahankan Tirtayasa lebih lama lagi, maka diperintahkan pasukannya untuk segera mengundurkan diri, meninggalkan Tirtayasa dan mundur ke arah selatan yaitu hutan Keranggan. Tapi sebelumnya, Sultan memerintahkan supaya istana dan bangunan lainnya dibakar. Sultan tidak rela bangunan-bangunannya itu diinjak oleh orang kafir dan pendurhaka. Memang, akhirnya kompeni dan Sultan Haji dapat menduduki Tirtayasa, tetapi di sana mereka hanya mendapati puing-puing bekas istana saja, bahkan penduduknya pun banyak yang ikut Sultannya ke hutan (Tjandrasasmita, 1976:44).

Dari hutan Keranggan, Sultan Ageng Tirtayasa dan seluruh pasukannya melanjutkan perjalanan ke Lebak. Satu tahun mereka melakukan perang gerilya dari sana. Tapi akhirnya, Lebak pun dapat dikepung pasukan kompeni, sehingga pasukan Sultan Ageng terpecah menjadi dua bagian: Pangeran Purbaya dan sejumlah tentaranya bergerak ke sekitar Parijan, di pedalaman Tangerang. Sedangkan Sultan Ageng, Pangeran Kidul, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf beserta sisa pasukannya bergerak ke daerah Sajira, di perbatasan Bogor.

Sultan Haji berusaha keras agar ayahnya dapat kembali ke Surosowan. Dengan petunjuk serta nasehat kompeni, yang ingin melakukan tipu daya halus, maka Sultan Haji mengirimkan suratkepada Sultan Ageng Tirtayasa di Sajira. Surat itu berisikan ajakan Sultan Haji supaya ayahnya kembali ke Surosowan dan hidup bersama dengan damai, di samping itu dapatlah dirundingkan kedudukan prajurit dan rakyat Banten yang mendukung perjuangan Sultan Ageng. Tanpa perasaan curiga sedikit pun, Sultan yang kala itu usianya sudah lanjut, — ditambah pula kesedihan atas gugurnya Pangeran Kulon pada tanggal 7 Maret 1683 — maka pada tanggal 14 Maret 1683 tengah malam, Sultan Ageng datang ke Surosowan setelah lama bertahan di hutan.

Sultan Ageng Tirtayasa dengan beberapa pengawalnya sampailah di Surosowan dan langsung menemui putranya yang telah menantikan kedatangan sang ayah. Penerimaan Sultan Haji sangat baik meski pun di belakangnya telah ada maksud tertentu atas bujukan kompeni. Tetapi setelah beberapa saat lamanya tinggal di istana Surosowan ia ditangkap oleh kompeni dan segera dibawa ke Batavia. Memang itulah maksud dan tipudaya kompeni atas kerja sama dengan Sultan Haji. Jika Sultan Ageng Tirtayasa dibiarkan berada di Surosowan maka dikhawatirkan oleh kompeni akan dapat mempengaruhi Sultan Haji, yang sudah erat bekerjasama dengan kompeni.

Sultan Ageng Tirtayasa dimasukkan ke dalam penjara berbenteng di Batavia dengan penjagaan ketat serdadu kompeni hingga meninggalnya di penjara pada tahun 1692 (Tjandrasasmita, 1967:46). Jenazahnya oleh Sultan Abdulmahasin Zainul Abidin, anaknya Sultan Haji, dan terutama oleh rakyat Banten yang amat mencintainya dimintakan kepada pemerintah tinggi kompeni Belanda untuk dikirim kembali ke Banten. Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan ia dimakamkan di samping sultan-sultan pendahulunya, di sebelah utara Masjid Agung Banten[21].

4. Perjuangan Gerilya Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf

Ketika Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap atas tipu daya Belanda dan kerja sama Sultan Haji, serta gugurnya Pangeran Kulon, semangat perjuangan menentang dominasi Belanda tidaklah berkurang. Hal mana menjadikan motivasi pejuang yang pro Sultan Ageng Tirtayasa semakin meningkat karena kekuasaan Banten di bawah Sultan Haji telah ada dalam pengaruh politik Belanda. Jajaran penjuang terdiri dari keluarga kerajaan, para ulama dan sebagian besar rakyat Banten. Mereka masih terus berjuang di hutan-hutan menentang kolonialisme Belanda. Tokoh gerilya itu di antaranya adalah Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kulon. Syekh Yusuf adalah seorang ulama Banten asal Makasar yang diangkat mufti kerajaan Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa.

Walaupun Sultan Ageng Tirtayasa sudah dapat ditangkap dan dipenjarakan kompeni, Syekh Yusuf dan pasukannya tetap meneruskan perjuangan di sekitar Tangerang. Bersama pasukan Banten lainnya mereka menyusuri hutan dan tepi sungai dengan tujuan ke Cirebon, dengan harapan di sana ia mendapat bantuan dari Sultan Cirebon yang pernah jadi sahabat Banten. Dalam pada itu kompeni segera mengetahui tentang rencana Syekh Yusuf itu, maka dikirimkannya sejumlah pasukan kompeni yang dipimpin oleh Van Happel ke Cirebon. Kompeni khawatir kalau-kalau Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul serta tentaranya ini akan terus ke Jawa Tengah dan bergabung dengan pasukan Kartasura.

Sampai di Cikaniki, pasukan Syekh Yusuf selanjutnya menuju Cianten lewat jalan Cisarua dan Jampang, sedangkan pasukan Pangeran Purbaya melanjutkan perjalanannya ke daerah Galunggung untuk bergabung dengan Tumenggung Tanubaya. Pasukan gerilya Banten ini berjumlah kira-kira 4000 orang atau 5000 orang, termasuk 1000 orang Makasar, Bugis dan Melayu. Dari Jampang, Syekh Yusuf dan pasukannya terus menuju ke Pamotan yang kemudian ke Cilacap dengan menggunakan perahu. Tapi karena tentara kompeni yang dipimpin oleh De Ruys dan Eigel berada di sana, Syekh Yusuf pun pergi ke Padaherang dengan menyusuri sungai Citandui. Dari daerah inilah Syekh Yusuf kemudian mengadakan serbuan-serbuan ke benteng perta-hanan Belanda. Tapi tidak lama kemudian, tanggal 25 September 1683, Belanda mengadakan serangan besar-besaran terhadap Padaherang, sehingga dalam pertempuran itu Pangeran Kidul gugur demikian juga banyak pembesar Banten dan Makasar yang gugur, dan istri Syekh Yusuf ditawan musuh, sedangkan Syekh Yusuf beserta sisa pasukannya dapat meloloskan diri dan pergi hingga sampai di Mandala, daerah Sukapura.

Karena kompeni sudah merasa kesulitan untuk menangkap Syekh Yusuf, maka diaturlah strategi penipuan untuk dapat memperdayakan Syekh Yusuf. Mula-mula, kompeni menangkap anak perempuan Syekh Yusuf, yang bernama Asma, kemudian dengan menggunakan putrinya itu, Van Happel pergi ke Mandala untuk minta supaya Syekh Yusuf menjemput putrinya dan berunding dengan kompeni. Karena bujukan dan janji-janji Van Happel, akhirnya Syekh Yusuf menerima untuk berunding; tapi dengan siasat licik  ini, Syekh Yusuf ditangkap kompeni pada tanggal 14 Desember 1683. Syekh Yusuf dibawa ke Cirebon yang kemudian dipindahkan ke Batavia, dan, akhirnya pada tanggal 12 Desember 1684 dibuang ke Ceylon. Karena di Ceylon pun Syekh Yusuf masih terus mengadakan hubungan perjuangan dengan orang-orang Banten yang pulang dari menunaikan ibadah haji, maka keputusan Pemerintah Tinggi Kompeni pada tanggal 7 Juli 1693 Syekh Yusuf dipindahkan pengasingannya ke Tanjung Harapan, sampai meninggalnya pada tanggal 23 Mei 1699.

Dalam pada itu, Pangeran Purbaya, Pangeran Sake dengan sekitar 800 orang pasukannya yang masih setia melanjutkan perjuangannya di daerah Cikalong, Bogor Selatan. Dengan menggunakan Untung Surapati, yang berhasil dibujuk untuk masuk tentara kompeni, bupati Sukapura dan demang Timbanganten, kompeni membujuk Pangeran Purbaya agar menyerahkan diri. Di samping mengutus Untung Surapati, pemerintah kompeni sebelumnya telah mengirimkan pula sepasukan tentara kompeni lainnya yang dipimpin Kuffeler. Ketika Surapati sedang mengadakan perundingan dengan Pangeran Purbaya, datanglah Kuffeler dan pasukannya yang bertindak kasar kepada Pangeran Purbaya. Untung Surapati menjadi marah karena merasa direndahkan martabatnya, berbalik menyerang tentara kompeni. Dalam pertempuran itu tentara kompeni dapat dikalahkan dan mereka melarikan diri kembali ke Sukapura dengan meninggalkan 20 orang Belanda yang mati terbunuh. Untung Surapati selanjutnya meneruskan perlawanan terhadap kompeni Belanda di daerah Priyangan yang selanjutnya ke Kartasura. Dalam pertempuran di Cikalong itu, tanggal 28 Januari 1684, walau pun Belanda menderita kekalahan tapi bersama mereka yang melarikan ke Sukapura, kompeni pun berhasil menangkap Pangeran Mohammad Sake, saudara Pangeran Purbaya, yang kemudian ditahan di Sukapura. Dengan tipu muslihat yang sama, Pangeran Purbaya bersedia menyerahkan kerisnya dari Cileungsir, sebagai jaminan, untuk dikirimkan ke Batavia, baru kemudian Pangeran Purbaya sendiri menyusul ke Batavia. Setibanya di Batavia, Pangeran Purbaya disambut baik oleh kompeni dan kerisnya diserahkan kembali kepadanya, namun kemudian ia ditangkap dan dipenjarakan di Batavia, hingga wafatnya.

F.    PEMERINTAHAN SULTAN-SULTAN BANTEN SESUDAH SULTAN AGENG TIRTAYASA

Dengan ditangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan pengikut-pengikut setianya ini membawa Banten ke ambang pintu penjajahan kompeni. Peperangan sudah mulai berkurang, tapi rakyat di sana-sini masih mengadakan perlawanan walau pun semuanya tidaklah begitu berarti. Sementara itu, dengan restu kompeni Belanda pulalah Sultan Haji dikukuhkan menjadi Sultan Banten dengan beberapa persyaratan. Tapi dengan demikian, kedaulatan kerajaan Banten telah runtuh, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian pada tanggal 17 April 1684, yang isinya sebagai berikut (Tjandrasasmita, 1967:53):

1)  Perjanjian 10 Juli 1659 tetap masih berlaku dengan utuh kecuali beberapa hal yang diubah dalam perjanjian ini. Di samping itu untuk kedamaian antara Banten dan kompeni Belanda, maka Banten dilarang memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada musuh-musuh kompeni. Demikian juga Banten tidak boleh turut campur dalam politik di Cirebon.

2)  Penduduk Banten tidak boleh datang ke Batavia, demikian juga sebaliknya, kecuali ada keperluan khusus dengan mendapat surat izin dari yang berwenang. Apabila memasuki daerah-daerah tersebut tanpa surat izin, maka orang itu dianggap sebagai musuh dan boleh ditangkap atau dibunuh.

3)   Sungai Untung Jawa (Cisadane) dan garis sambungnya ke selatan dan utara sampai laut Kidul, menjadi batas daerah Banten dan kompeni.

4)  Apabila ada kapal milik kompeni atau milik Banten atau warganya terdampar atau mendapat kecelakaan di laut Jawa dan Sumatra, maka haruslah mendapat pertolongan baik penumpang-nya atau pun barang- barangnya.

5)  Untuk kerugian-kerugian perang dan perampokan oleh penduduk Banten atas kompeni, maka Sultan harus menggantikan kerugian sejumlah 12.000 ringgit kepada kompeni.

6)  Tentara ataupun penduduk sipil atau siapa saja yang berani melanggar hukum yang telah disepakati ini akan ditangkap dan diserahkan kepada kompeni.

7)  Sultan Banten harus melepas tuntutannya atas Cirebon dan harus menganggap sebagai negara sahabat yang bersekutu di bawah lindungan kompeni.

8)  Sesuai dengan isi perjanjian tahun 1659 pasal 4 yang menyatakan bahwa kompeni tidak memberikan sewa tanah atau rumah yang digunakan untuk loji, maka menyimpang dari hal itu kompeni akan menentukan pembayaran kembali dengan cara debet.

9)  Sultan berkewajiban untuk waktu yang akan datang tidak mengadakan perjanjian atau persekutuan, perserikatan dengan kekuatan atau bangsa lain, kerena hal itu bertentangan dengan isi perjanjian ini.

10) Karena perjanjian ini harus tetap terpelihara dan berlaku terus hingga masa yang akan datang, maka Paduka Sri Sultan Abdul Kahar Abu Nasr beserta seluruh keturunannya haruslah menerima seluruh pasal perjanjian ini, dimaklumi serta dianggap suci, dipercayai dan benar-benar akan dilaksanakan oleh segenap pembesar kerajaan tanpa penolakan, demikian pula dari pihak kompeni.

Perjanjian ini ditandatangani di Keraton Surosowan dan dibuat dalam bahasa Belanda, Jawa dan Melayu yang sama maksud dan isinya. Penandatangan dari pihak kompeni adalah Komandan dan Presiden Komisi Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wonderpoel, Evenhart van der Schuere serta kapten bangsa Melayu Wan Abdul Bagus. Sedangkan dari pihak Banten ditandatangani oleh Sultan Abdul Kahar, Pangeran Dipaningrat, Kiyai Suko Tajuddin, Pangeran Natanagara dan Pangeran Natawijaya (Tjandrasasmita, 1967:54).

Dengan ditandatanganinya perjanjian ini, lenyaplah kejayaan dan kemajuan Banten, ditelan monopoli dan penjajahan kompeni Belanda. Bahkan akibat perjanjian ini pulalah akhirnya Kesultanan Banten menjadi hancur dan lenyap.

Bertumpuk-tumpuklah penderitaan rakyat bukan saja karena pembersihan atas pengikut Sultan Ageng, pajak yang tinggi — karena Sultan harus membayar biaya perang — tapi juga karena monopoli perdagangan kompeni. Rakyat dipaksa untuk menjual hasil pertaniannya terutama lada dan cengkeh kepada kompeni melalui pegawai kesultanan yang ditunjuk dengan harga yang sangat rendah. Raja seolah-olah hanya sebagai pegawai kompeni dalam hal pengumpulan lada dari rakyat. Pedagang-pedagang bangsa Inggris, Perancis dan Denmark, karena dianggap banyak membantu Sultan Ageng Tirtayasa dalam perang yang lalu, diusir dari Banten dan mereka pindah ke Bangkahulu (Chijs, 1881:59).

Dengan demikian maka tidaklah mengherankan apabila pada waktu itu terjadi banyak kerusuhan dan pemberontakan yang ditimbulkan oleh rakyat. Perampokan-perampokan dan pembunuhan-pembunuhan sering dialami pedagang-pedagang dan patroli kompeni di luar atau pun di dalam kota. Bahkan pernah terjadi pembakaran yang menghabiskan 2/3 bangunan-bangunan di dalam kota. Ketidakamanan pun terjadi di lautan, banyak kapal-kapal kompeni yang dibajak oleh “bajak negara” yang bersembunyi di sekitar perairan Bojonegara sekarang (Michrob, 1981:39). Kemungkinan dalam operasinya banyak dibantu oleh pelaut-pelaut asal Sumatra yang dipimpin oleh Ibn Iskandar (Soeroto, 1965:212).

Untuk memperkuat pertahanan dan kuasanya atas Banten, maka kompeni Belanda membuat sebuah benteng di pantai utara dekat pasar Karangantu. Benteng ini diberi nama Spelwijk — sebagai peringatan kepada Speelman — pada tahun 1682, dan kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1685 (Chijs, 1881:25).

Akibat perang saudara yang berkepanjangan itu, banyak bangunan di dalam kota yang rusak berat, seperti istana dan benteng Surosowan. Untuk memperbaiki semuanya itu, Sultan meminta kepada Hendrik Laurenszoon van Steenwijk Cardeel, seorang arsitek bangsa Belanda yang dikatakan sudah beragama Islam — yang juga membangun benteng Spelwijk (Chijs, 1881:36). Diratakannya dulu semua bekas benteng dan istana, kemudian di atas fondasi yang lama dibangunlah kembali seperti semula. Pekerjaan ini berjalan hampir dua tahun penuh (Michrob, 1981:37).

Masa pemerintahan Sultan Haji dipenuhi dengan pemberontakan-pemberontakan dan kekacauan di segala bidang. Sebagian besar rakyat tidak mengakui dirinya sebagai Sultan. Oleh sebab itu, kehidupan Sultan Haji selalu ada dalam keadaan kegelisahan dan ketakutan. Bagaimana pun juga sebagai seorang manusia, penyesalannya terhadap perlakuan buruknya terhadap ayah, saudara, sahabat dan prajurit-prajuritnya yang setia selalu ada. Tapi semuanya sudah terlanjur. Kompeni yang dulu dianggap sebagai sahabat dan pelindungnya, sekarang bahkan menjadi tuan yang harus dituruti segala kehendaknya. Karena tekanan-tekanan itu akhirnya Sultan Haji jatuh sakit sampai meninggal pada tahun 1687. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Sedakingkin sebelah utara Masjid Agung, sejajar dengan makam ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa (Ismail, 1983:7).

Melihat sejarah Sultan Haji yang demikian memalukan itu, maka timbullah cerita-cerita rakyat yang hampir semuanya jauh dari data sejarah yang ada. Diceritakan bahwa yang melawan Sultan Ageng Tirtayasa bukanlah Sultan Haji, anaknya, tapi orang lain yang berasal dari Pulau Putri atau Pulau Majeti. Sewaktu Sultan Haji pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, ia singgah di suatu pulau yang dinamakan Pulau Putri atau Pulau Majeti. Di sana Sultan bertemu dengan seorang putri cantik yang kemudian ia jatuh cinta dan menikahinya. Dan atas permintaan sang putri, semua pakaian dan perhiasan Sultan diserahkan sebagai mahar. Pakaian dan perhiasan ini kemudian diberikan kepada kakak sang putri yang kebetulan berwajah mirip dengan Sultan Haji. Kakaknya inilah yang kemudian berlayar ke Batavia dan mengaku bernama Sultan Haji. Karena pakaian dan wajahnya yang memang mirip, rakyat pun mengakuinya. Dialah yang kemudian memerintah Banten dan berperang dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah selang beberapa tahun kemudian, Sultan Haji (yang asli) pulang ke Banten, dan melihat keadaan Banten yang sudah berubah, dan untuk menjaga jangan terjadi keributan ia pergi ke Cimanuk-Cikaduen, Pandeglang, aktif menyebarkan agama Islam sampai meninggalnya. Dialah yang kemudian dikenal dengan nama Haji Mansur atau Syekh Mansur Cikaduen (Roesjan, 1954:26-30 dan Djajadiningrat, 1983: 15). Cerita semacam ini dianggap sangat lemah dalam data sejarah, dan hanyalah dianggap sebagai dongeng yang mengandung nilai filosofis.

Dari pernikahannya dengan permaisuri, Sultan Haji mempunyai beberapa orang anak di antaranya Pangeran Ratu (anak pertama) dan Pangeran Adipati (anak kedua) (Djajadiningrat, 1983:210). Sedangkan dari sumber lain (Babad Banten) tercatat bahwa Sultan Haji mempunyai 10 orang anak (Ismail, 1967):

1)              Pangeran Ratu (Sultan ‘Abulfadl).

2)              Pangeran Adipati (Sultan Muhammad Zainul Abidin).

3)              Pangeran Muhammad Thohir.

4)              Pangeran Fahdluddin.

5)              Pangeran Ja’faruddin.

6)              Pangeran Muhammad ‘Alim.

7)              Ratu Rohimah.

8)              Ratu Hamimah.

9)              Pangeran Ksatrian.

10)          Ratu Mumbay (Ratu Bombay).

Setelah Sultan Haji meninggal, terjadilah perebutan kekuasaan di antara anak-anaknya. Barulah setelah Van Imhoff turun tangan, masalah ini dapat diselesaikan dengan mengangkat anak pertama, Pangeran Ratu, menjadi sultan Banten, yang kemudian bergelar Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya (1687 – 1690). Ternyata Sultan Abu’l Fadl termasuk orang yang benci kepada kompeni Belanda. Ditatanya kembali Banten yang sudah porak poranda itu. Tapi baru berjalan 3 tahun, Sultan jatuh sakit yang mengakibatkan kematiannya, jenazahnya dimakamkan di samping kanan makam Sultan Hasanuddin di Pasarean Sabakingkin (Ismail, 1983:7).

Karena Sultan Abu’l Fadhl Muhammad Yahya tidak mempunyai anak, maka tahta kesultanan diserahkan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abu’l Mahasin Muhammad Zainul Abidin atau juga biasa disebut Kang Sinuhun Ing Nagari Banten yang memerintah dari tahun 1690 sampai 1733. (Djajadiningrat, 1983:139). Putra Sultan Abu’l Mahasin yang sulung meninggal dunia dibunuh orang, sehingga yang menggantikan tahta kesultanan pada tahun 1733 adalah putra keduanya yang kemudian bergelar Sultan Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin (1733 – 1747).

Pada masa pemerintahan Sultan Zainul Arifin ini banyak terjadi pemberontakan rakyat yang tidak senang dengan perlakuan kompeni yang sudah di luar batas kemanusiaan — misalnya dengan adanya kerja rodi, tanam paksa dan sebagainya. Memang pada awal abad ke-18 ini terjadi perubahan politik kompeni dalam pengelolaan daerah yang dikuasainya. Monopoli rempah-rempah dianggapnya sudah tidak menguntungkan lagi karena Inggris sudah berhasil menanam cengkeh di India, sehingga harga cengkeh di Eropa pun turun. Oleh karenanya kompeni mengalihkan usahanya dengan menanam tebu dan kopi di samping rempah-rempah.

Untuk keperluan penanaman tebu dan kopi itu kompeni banyak membutuhkan tanah yang luas dan tenaga kerja murah. Maka mulailah penaklukan daerah-daerah pedalaman. Raja yang menguasai daerah itu diharuskan menanam tebu atau kopi yang kemudian hasilnya harus dijual kepada kompeni dengan harga yang sudah ditentukan. Rakyat dipaksa menanami sebagian tanahnya dengan tebu atau kopi yang hasilnya harus dijual kepada raja, yang kemudian menjualnya kembali kepada kompeni (Soeroto, 1965:213-214). Dalam praktek penjualan kembali ini, harga jual yang diperoleh rakyat jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga jual raja kepada kompeni. Kompeni membeli kopi dari raja seharga 21 ringgit per pikul, sedangkan raja membayar hanya 5 ringgit kepada rakyat (Sanusi Pane, 1950:265).

Cara penimbangan yang semberono, jenjang/birokrasi perdagangan yang berbelit-belit, menyebabkan kerugian pada rakyat petani. Sebagai gambaran dapatlah dikemukakan sebagai berikut : sultan menjual lada kepada kompeni seharga 15 mat Spanyol per bahar (375 pon), sedangkan sultan sendiri membelinya dari pejabat yang ditunjuknya seharga 7,8 atau 9 mat Spanyol, dan pejabat tersebut membeli dari rakyat seharga 4 mat Spanyol yang dibayarnya dengan cara penukaran barang kebutuhan sehari-hari (garam, kain, beras dan lain-lain) yang diperhitungkan dengan harga tinggi, sehingga si petani hampir tidak mendapat apa-apa dari hasil buminya itu (Chijs, 1881:70).

Dalam pada itu, di dalam kraton pun terjadi keributan dan kekacauan pemerintahan. Sultan Zainul Arifin sangat dipengaruhi permaisurinya, Ratu Syarifah Fatimah, janda seorang letnan Melayu di Batavia. Sultan Zainul Arifin menunjuk Pangeran Gusti, putranya yang tertua, menjadi Putra Mahkota, tetapi karena Ratu Fatimah tidak menyetujuinya maka diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah, suami anak Ratu Fatimah dari suaminya yang terdahulu, menjadi Putra Mahkota. Dan karena desakan Ratu Fatimah pula, Pangeran Gusti disuruh pergi ke Batavia, yang kemudian, atas perintah Ratu Fatimah, di tengah perjalanan ia ditangkap tentara kompeni dan diasingkan ke Sailan (1747).

Atas persetujuan kompeni, Pangeran Syarif Abdullah dinobatkan menjadi Putra Mahkota, dan untuk jasa-jasa kompeni ini, Ratu Fatimah menghadiahkan sebidang tanah di daerah Cisadane dan hak separuh penghasilan tambang emas di Tulang Bawang, Lampung, kepada kompeni. Karena fitnah istrinya pula akhirnya Sultan Zainul Arifin ditangkap kompeni, dituduh gila, dan diasingkan ke Ambon sampai meninggalnya. Sebagai gantinya diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil menjadi Sultan Banten, tahun 1750, tapi sebenarnya, Ratu Fatimahlah yang memegang kuasa pemerintahan.

Kecurangan yang dilakukan Ratu Fatimah ini bagi rakyat dan sebagian petinggi negeri merupakan suatu penghinaan besar dan penghianatan yang sudah tidak bisa diampuni lagi, sehingga rakyat pun mengadakan perlawanan bersenjata. Dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mereka menyerbu Surosowan. Dalam penyerangan ini pasukan perlawanan dibagi dua, sebagian langsung menyerang kota Surosowan dan sebagian lagi mencegat bantuan pasukan kompeni dari Batavia. Ratu Bagus Buang dengan pasukan yang besar menyerbu dari arah barat, yang memaksa pasukan Ratu Fatimah hanya mampu bertahan di benteng saja, sedangkan pasukan Ki Tapa yang mencegat pasukan kompeni dari Batavia, melalui pertempuran hebat, mereka dapat menghancurkan pasukan kompeni. Bahkan apabila tidak segera datang pasukan baru dari negeri Belanda, Bataviapun mungkin dapat direbut pasukan Ki Tapa ini. Karena pasukan bantuan dari negeri Belanda ini pulalah akhirnya pasukan pejuang dapat dipukul mundur. Demikian juga pengepungan di Surosowan dapat dibuyarkan.

Untuk menenangkan rakyat Banten, gubernur jendral kompeni yang baru, Mossel, segera memerintahkan wakilnya di Banten untuk segera menangkap Ratu Syarifah Fatimah dan Sultan Syarifuddin. Ratu Fatimah selanjutnya diasingkan ke Saparua dan Sultan Syarifuddin ke Banda[22]. Belanda mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi wakil raja dan mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya.

Walau pun kompeni telah mengembalikan Pangeran Gusti dan bahkan menangkap Ratu Fatimah, namun perlawanan rakyat Banten tidak mereda. Barisan rakyat dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang sering mengadakan serangan mendadak di sekitar ibukota Surosowan. Tapi dalam serangan besar-besaran yang dilakukan kompeni, akhirnya pasukan perlawanan ini dapat dipukul mundur, hingga mereka hanya dapat bertahan di daerah pengunungan di Pandeglang. Baru pada serangan berikutnya, pasukan pejuang ini menyingkir ke Gunung Munara di Ciampea, Bogor. Melalui serangan yang berkali-kali barulah Gunung Munara dapat dikuasai kompeni, sehingga Ki Tapa dan pasukannya pindah ke daerah Bogor dan Banten Selatan.

Dalam pada itu di Surosowan, kompeni mengangkat Pangeran Arya Adi Santika menjadi Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’ Zainul ‘Alimin pada tahun 1752, dan Pangeran Gusti ditetapkan sebagai Putra Mahkota. Tapi dengan pengangkatan itu Sultan Abulma’ali harus menandatangani perjanjian dengan kompeni yang isinya[23]:

1)              Banten di bawah kuasa penuh kompeni Belanda walaupun pemerintahan tetap di tangan sultan.

2)              Sultan akan mengirim utusan ke Batavia setiap tahun sambil membawa upeti berupa lada yang jumlahnya ditetapkan kompeni.

3)              Hanya kompeni Belanda yang boleh mendirikan benteng di Banten.

4)              Banten hanya boleh menjual kopi dan tebu kepada kompeni saja.

5)              Sejalan dengan bunyi pasal 4, banyaknya produksi kopi dan tebu di Banten haruslah ditentukan kompeni.

Mengetahui tentang pasal-pasal perjanjian kompeni ini, beberapa pangeran dan pembesar kraton lainnya menjadi gusar, demikian juga dengan Pangeran Gusti. Rakyat kembali mengangkat senjata mengadakan perlawanan, dan kembali mengadakan hubungan dengan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang di pedalaman. Pasukan penentang mengadakan serangan serentak ke kota Surosowan; Ki Tapa, Ratu Bagus Buang dan pasukannya menyerang dari luar sedangkan rakyat yang dipimpin pangeran dan ponggawa Banten mengadakan pengacauan di dalam kota. Terjadilah pertempuran hebat di daerah Caringin dan kotaSurosowan.

Dengan susah payah Belanda akhirnya berhasil melumpuhkan serangan-serangan tersebut. Ki Tapa menyingkir ke daerah Priyangan. Dan setelah terjadi peperangan di Bandung, akhirnya dengan beberapa ratus pengikutnya Ki Tapa pergi ke Jawa Timur untuk bergabung dengan para pejuang di sana. Sedangkan Ratu Bagus Buang sampai tahun 1757 masih tetap mengadakan perlawanan di Banten. Karena adanya perlawanan rakyat itu pulalah, enam bulan kemudian, Sultan Abulma’ali Muhammad Wasi’ Zainul ‘Alamin menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Gusti. Maka pada tahun 1753 Pangeran Gusti dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Abu’l Nasr Muhammad ‘Arif Zainul ‘Asiqin. Sultan Abu’l Nasr Muhammad ‘Asiqin wafat pada tahun 1773 dan digantikan putranya dengan gelar Sultan Abu’l Mafakhir Muhammad Aliuddin (1773 – 1799).

Karena tidak mempunyai anak laki-laki, Sultan ‘Aliuddin, setelah wafat diganti oleh adiknya, Pangeran Muhiddin, dengan gelar Sultan Abu’lfath Muhammad Muhiddin Zainushalihin yang memerintah pada tahun 1799 sampai dengan 1801. Pada tahun 1801, Sultan Muhiddin dibunuh oleh Tubagus Ali, seorang putra Sultan ‘Aliuddin, dan Tubagus Ali sendiri dapat dibunuh oleh pengawal kesultanan. Selanjutnya yang menjadi Sultan adalah putra Sultan ‘Aliuddin, dari selir (istri yang bukan permaisuri), dengan gelar Sultan Abu’l Nasr Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801 – 1802).

Pada tahun 1802 kesultanan dipegang oleh Sultan Wakil Pangeran Natawijaya yang kemudian pada tahun 1803 digantikan putra kedua Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin dengan gelar Sultan Abu’lnasr Muhammad Ishak Zainulmuttaqin atau Sultan Aliyuddin II (1803 – 1808).

Pada akhir abad ke-18, yang berkuasa di sebagian besar kerajaan di nusantara hakekatnya adalah kompeni Belanda, sultan statusnya tidak lebih dari pegawainya saja. Melalui tangan Sultan, kompeni dapat memerintahkan apa saja kepada rakyat. Dalam hal perdagangan, kompeni bukan saja menghendaki monopoli pembelian hasil bumi, tetapi juga dalam hal perantaraan dan penjualan. Kompeni dapat memaksa Banten (dan Lampung) menjual lada hanya kepadanya saja, demikian juga dalam hal penanamannya. Cengkeh yang dibeli kompeni dari Ambon dan pala dari Banda dibelinya dengan barang-barang Eropa atau lokal, yang dari barang-barang itu saja sudah diambil keuntungan 50% hingga 75%. Sedangkan rempah-rempah yang dibeli dengan harga 7,5 sen per pon dijualnya 300 sen. Garam dari Rembang, Gresik dan Japara yang dibeli 6 ringgit per 500 pond dijual kompeni kepada rakyat Andalas seharga 30 hingga 35 ringgit per 300 pond. Di Banten pun ditetapkan bahwa hanya kompeni yang boleh menjual kain-kain dari Koromandel, keramik Cina, dan lain-lain.

Untuk lebih banyak mendapatkan laba, kompeni pun menerapkan aturan “pemberian wajib” kepada beberapa negara taklukannya. Mataram diharuskan memberikan beras dengan jumlah yang ditentukan dan harga yang juga ditentukan semurah-murahnya oleh kompeni. Banten diharuskan memberikan lada, Priyangan harus memberikan kayu, beras, lada, ternak, kapas dan nila. Dengan ketentuan ini, sultan pun mewajibkan rakyatnya untuk menyediakan kehendak kompeni itu dengan harga yang rendah.

Tahun 1707 kompeni mewajibkan kepada rakyat Priyangan untuk menanam kopi yang hasilnya harus diserahkan kepada kompeni. Mula-mula dihargakan 21 ringgit per pikul, kemudian diturunkan menjadi 5 ringgit per pikul, itu pun dibayar separoh dengan cara barter dan separohnya lagi dengan “surat utang”. Dan tidak jarang pula, untuk “menyetabilkan harga” sewaktu-waktu tanaman kopi itu harus ditebang sebagian yang kemudian sewaktu-waktu harus ditanam baru lagi.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Aliuddin, atas perintah kompeni Belanda, rakyat Banten yang berumur lebih dari 16 tahun dan berbadan sehat, harus menanam 500 batang pohon lada. Lada yang dihasilkan harus dijual kepada kompeni melalui petugas kerajaan yang ditunjuk secara barter dengan bahan-bahan kebutuhan pokok. Karena barang kebutuhan pokok ini dihargakan terlalu tinggi dan harga sebahar (tiga pikul) lada kurang dari 4 ringgit Spanyol, maka rakyat penanam hanya mendapat sedikit kelebihannya, atau bahkan tidak sama sekali. Karena ketentuan ini, Belanda pada tahun 1774 dapat mengirimkan 19.000 bahar lada ke negeri Belanda. Semua ketentuan kompeni ini menambah kemak-muran kompeni yang kemudian dikirimkan ke negeri Belanda, di lain pihak rakyat pribumi semakin menderita.

G.   PENGHANCURAN SUROSOWAN OLEH DAENDELS

Pada akhir abad ke-18, walau pun kompeni dapat menguasai hampir seluruh kepulauan nusantara, namun kompeni pun mengalami kemunduran dalam perdagangannya. Hal ini disebabkan karena situasi moneter dunia dan masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat, mengakibatkan hutang kompeni (VOC) bertumpuk. Di antara sebab penting lain dalam masalah ini adalah :

1)   Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa Perancis dan Ingris.

2)  Miskinnya penduduk nusantara, terutama pulau Jawa karena monopoli, sehingga rakyat tidak mampu membeli barang dagangan yang dibawa VOC.

3)  Turunnya harga rempah-rempah di pasaran dunia, karena di samping seringnya penduduk pribumi yang melanggar monopoli kompeni, Inggris pun sudah berhasil menanamnya di India.

4)  Banyak pegawai VOC melakukan korupsi.

5)  Banyak biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar. Demikian juga untuk menguasai daerah-daerah yang baru, terutama di Jawa dan Madura.

Karena sebab-sebab itulah akhirnya pada tanggal 1 Maret 1796, VOC dibubarkan. Semua kekayaan dan utang piutangnya ditangani pemerintah Kerajaan Belanda, dan sejak saat itulah kepulauan Nusantara dijajah Belanda (Soetjipto, 1961:56).

Pada tahun 1789 terjadi Revolusi Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte, yang mengguncangkan Eropa. Sebagian besar Eropa dikuasai Perancis, kecuali Inggris; Belanda pun dapat dapat dikuasainya tahun 1807 — sehingga otomatis daerah jajahan Belanda, termasuk kepulauan Nusantara berada di tangan Perancis. Louis Napoleon, adik Kaisar Napoleon, yang diberi kuasa di Belanda, mengangkat Herman William Daendels sebagai Gubernur Jendral di kepulauan Nusantara. Ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan tugas utama mempertahankan pulau Jawa dari serangan tentara Inggris yang berpangkalan di India. Untuk tugas tersebut Daendels membangun sarana-sarana pertahanan: jalan-jalan pos, personil, barak militer, benteng, pelabuhan, rumah sakit tentara dan pabrik mesiu. Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin, karena memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Untuk itulah dilakukan rodi atau kerja paksa, yaitu para pekerja tanpa upah.

Pekerjaan pertama adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. Untuk itu Deandels memerintahkan kepada Sultan Banten mengirimkan pekerja rodi sebanyak-banyaknya. Tapi karena daerahnya berawa-rawa maka banyak pekerja yang mati, terkena hawa beracun atau penyakit malaria, atau melarikan diri.

Keadaan ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja sebagai biangkeladi larinya pekerja-pekerja itu. Melalui utusan Sultan yang dipanggil datang ke Batavia, Daendels memerintahkan supaya:

1)              Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyat setiap hari untuk dipekerjakan di Ujung Kulon.

2)              Menyerahkan Patih Mangkubumi Wargadiraja ke Batavia.

3)              Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah Anyer, karena Surosowan akan dijadikan benteng Belanda.

Sudah tentu tuntutan ini ditolak oleh Sultan Aliudin. Mengetahui sikap Sultan yang demikian, dengan segera (dan sembunyi-sembunyi) dikirimnya pasukan dalam jumlah besar yang dipimpin Daendels sendiri ke Banten, yang dua hari kemudian pasukan ini sampai di perbatasan kota. Kemudian diutuslah Komondeur Philip Pieter du Puy dengan beberapa orang pengawalnya ke istana Surosowan untuk menanyakan kembali kesanggupan Sultan, tanpa memberitahukan bahwa pasukan Belanda sudah disiapkan di luar kota. Namun karena kebencian yang sudah memuncak kepada Belanda, Du Puy dan seluruh pengawalnya dibunuh oleh pasukan pengawal kraton di depan pintu gerbang benteng Surosowan.

Mengetahui keadaan utusannya itu Daendels segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang istana Surosowan pada hari itu juga, yakni tanggal 21 Nopember 1808 (Chijs, 1881:43). Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan dan memang di luar dugaan, sehingga Sultan tidak sempat lagi menyiapkan pasukannya. Prajurit-prajurit Banten dengan keberanian yang mengagumkan memper-tahankan setiap jengkal tanah airnya. Tapi akhirnya Deandels dapat menumpas semua itu. Surosowan dapat direbutnya, Sultan ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Sedangkan Patih Mangkubumi dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke laut. Selanjutnya Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda. Tangerang, Jasinga, dan Sadang dimasukkan ke dalam teritorial Batavia. Dan sebagai Sultan Banten diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809). Walaupun masih bergelar Sultan, namun kekuasaannya tidak lebih dari seorang pegawai Belanda. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa, dengan gaji 15.000 real setahun dari Belanda (Sanusi Pane, 1950 b:113).

Tindakan kejam Deandels ini menimbulkan kebencian rakyat kepada Belanda semakin memuncak. Perampokan kapal-kapal Belanda sering terjadi, demikian juga pengacauan-pengacauan di darat yang digerakkan oleh para ulama. Mereka bermarkas di daerah Cibungur, pantai Teluk Marica. Serangan pasukan Belanda ke daerah ini tidak berhasil, bahkan serangan yang dipimpin Daendels sendiri pun dapat dipukul mundur. Daendels mencurigai Sultan sebagai dalang kerusuhan tersebut, untuk itu bersama pasukannya ia datang ke Banten. Sultan ditangkap dan dipenjarakan di Batavia, sedangkan benteng dan istana Surosowan dihancurkan dan dibakar (1808).

Untuk melemahkan perlawanan rakyat, Daendels membagi daerah Banten dalam tiga daerah yang statusnya sama dengan kabupaten: Banten Hulu, Caringin dan Anyer. Ketiga daerah tersebut di bawah pengawasan landros (semacam residen) yang berkedudukan di Serang. Daerah Tangerang dan Jasinga digabungkan dengan Batavia. Untuk daerah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafi’uddin (1809 – 1813), putra Sultan Muhyiddin Zainul Shalikhin (Sanusi Pane, 1950b:14 dan Ismail, 1983:270); karena Keraton Surosowan telah hancur maka pusat pemerintahan dialihkan ke Keraton Kaibon. Demikianlah, semenjak kejadian itu kesultanan Banten lenyap dan dilupakan orang. Perlawanan rakyat yang tanpa hentinya pun dihancurkan dengan kejam.

Tentang pembuatan pelabuhan militer di Ujung Kulon, karena banyaknya pekerja yang mati dan daerahnya yang berawa-rawa, maka pembangunannya dihentikan, dan dipindahkan ke Anyer. Pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan pembuatan “jalan pos” dari Anyer sampai Panarukan (±1000 Km) yang akan digunakan untuk kepentingan militer; sedangkan pelaksanaan pembangunannya menjadi tanggung jawab bupati di daerah yang dilewati jalan tersebut. Dengan cara kerja paksa (rodi) begini, pembangunan jalan ini selesai dikerjakan hanya dalam tempo satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat Banten.

Melihat tindakan Daendels yang dianggap sangat keras, maka Kaisar Napoleon pada tahun 1810 memanggil Daendels untuk pulang ke negerinya. Sebagai penggantinya, Napoleon menugaskan Jansens menjadi Gubernur Jendral di Hindia Belanda.

Sekitar bulan Agustus 1811 pasukan Inggris dari India, dengan menggunakan 100 buah kapal, mendarat di Banten. Dengan mudah tentara Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles — dengan bantuan beberapa raja yang sangat membenci Belanda — dapat mengalahkan tentara Belanda. Jansen dengan beberapa sisa tentaranya melarikan diri ke Semarang, dan akhirnya menyerah tanpa syarat. Belanda menandatangani perjanjian menyerah pada tanggal 17 September 1811 di Salatiga; dengan demikian seluruh daerah jajahan Perancis ini beralih tangan di bawah kuasa Inggris.

#Pada masa pemerintahan Inggris ini, untuk memudahkan administrasi dan pengawasannya, Raffles membagi Pulau Jawa dalam 16 daerah karesidenan. Di samping itu Raffles pun mengadakan perobahan dalam bidang peradilan, yang disesuaikan dengan sistem peradilan di Inggris. Kerja rodi dan perbudakan, karena dianggap tidak sesuai dengan “prinsip kemanusiaan” dilarang. Untuk menambah pemasukan keuangan negara, Raffles menerapkan monopoli garam dan menjual beberapa daerah kepada partikelir — seperti juga Daendels.

Di Banten, Sultan Muhamad Syafiuddin, pada tahun 1813, dipaksa turun tahta oleh Raffles dan menyerahkan jabatan pemerintahan Banten kepada pemerintah Inggris; kesultanan Banten dihapuskan. Seluruh daerah Kesultanan Banten telah dikuasai Pemerintah Inggris dan dijadikan sebuah karesidenan. Dengan demikian, berakhirlah keberadaan Kesultanan Banten. Gelar “sultan” boleh dipakai terus dan kepada Sultan diberi 10.000 ringgit Spanyol setahun. Sultan Muhyiddin meninggal pada tahun 1816 dan digantikan anaknya, Sultan Muhammad Rafi’uddin, — yang pada tahun 1832 diasingkan ke Surabaya karena dituduh berkomplot dengan bajak laut.

Pada tahun 1813 itu juga, Raflles membagi wilayah Banten dari tiga daerah menjadi empat kabupaten yang masing-masing diperintah oleh seorang bupati:

1.              Kabupaten Banten Lor (Banten Utara) dengan ibukota Serang, diperintah oleh Pangeran Suramenggala.

2.              Kabupetan Banten Kulon (Banten Barat) dengan ibukota Caringin, diperintah oleh  Tubagus Hayudin.

3.              Kabupaten Banten Tengah dengan ibukota Pandeglang, diperintah oleh Tubagus Ramlan.

4.              Kabupaten Banten Kidul (Banten Selatan) dengan ibukota Lebak, diperintah oleh Tumenggung Suradilaga.

Setelah Kaisar Napoleon Bonaparte dikalahkan dalam pertempuran di Leipzig dan kemudian ditangkap, Pemerintah Inggris pada tahun 1814 memutuskan dalam Convention of London untuk menyerahkan kembali daerah bekas jajahan Belanda kepada pemerintah Kerajaan Belanda. Raffles, yang tidak setuju dengan keputusan itu meletakkan jabatannya, dan digantikan oleh Letnan Gubernur John Fendall. Pada tahun 1816 Fendall menyerahkan kepulauan Nusantara kepada pemerintah Belanda.

Catatan Kaki:

[1]     Keturunan Mas Jong yang laki-laki disebut “Mas” dan yang perempuan “Nyimas”. Keturunan dari Agus Jo, yang laki-laki tertua disebut “Agus” dan yang perempuannya dipanggil “Entu”; sedangkan anak selanjutnya, yang laki-laki dipanggil “Entol” dan yang perempuan dipanggil “Ayu”.

[2]     “Putri larangan” adalah wanita yang masih terikat pertunangan dengan pria lain padahal pria tunangannya itu belum meninggal.

[3]     “Turunan keluaran” adalah wanita dari keturunan Majapahit. Karena, setelah Perang Bubat ─ yaitu perang antara Pajajaran dan Majapahit di daerah Bubat ─ pria Pajajaran dilarang keras menikah dengan wanita turunan Majapahit.

[4]     Kelihatannya, Raja Banten pertama sampai ketiga ini di samping sebagai kepala negara juga dikenal dengan keshalehan dan pengetahuan agama yang tinggi sehingga berperan juga sebagai kepala keagamaan yang sangat besar pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Banten, oleh karenanya dikenal dengan sebutan “Maulana”.

[5]     Atas jasanya ini Ki Subuh dianugerahi pangkat Menteri dengan gelar Jayaprana.

[6]     Dalam kenyataannya, kawanan pemberontak ini kembali ke Banten bukan 4 tahun, tetapi 8 tahun yaitu tahun 1627.

[7]     Dinamakan Pailir karena perang saudara yang mengerikan ini terjadi di hilir sungai. Atau karena banyaknya mayat pemberontak yang dihanyutkan (diilirkan) ke sungai.

[8]     Peperangan ini bermula dari perang agama antara Kristen Katolik yang dianut Spanyol dengan Kristen Protestan (Calvin) yang dianut rakyat Belanda (1568 – 1648) (Soeroto, 1965: 189 – 190).

[9]     Seperti pada tahun 1595 terjadi penangkapan 400 kapal Belanda oleh pemerintah Spanyol, demikian juga tahun 1599.

[10]    Karena sikap kasar ini pulalah akhirnya kapal Belanda ini dirampas dan Cornelis de Houtman sendiri dibinasakan oleh tentara Aceh sewaktu mereka singgah di Aceh.

[11]    JP Coen adalah seorang opperkoopman (saudagar tinggi) di negerinya. Gubernur Jenderal Pieter Both mengangkatnya menjadi Presiden Direktur Kantor Dagang VOC di Banten dan Jayakarta, ketika ia berumur 28 tahun; sebagai seorang pemuda yang penuh ambisi. Untuk mewujudkan ambisinya memonopoli perdagangan VOC di Nusantara itu, JP. Coen menyewa tentara bayaran dari Jepang.

[12]    Ketika Pangeran Jayakarta dibebaskan dari hukuman, kota Jayakarta sudah dikuasai VOC. Pangeran Jayakarta memimpin perjuangan rakyat Jakarta dengan bergerilya melawan pendudukan kompeni Belanda ini sampai akhir hayatnya. Menurut Drs. Uka Tjandrasasmita, makam Pangeran Jayakarta terletak di kampung Katengahan, Kasemen, Serang.

[13]    Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Cina itu tumbuh menjadi tuan-tuan tanah dengan kekuasaan yang makin besar. Pemimpin-pemimpin Cina itu merupakan wakil-wakil kompeni dalam menangani masalah penduduk Cina. Mereka pun diberi kekuasaan lebih besar misalnya: memeriksa dan mengadili perkara, memelihara keamanan, mencatat kelahiran, menarik pajak, dan sebagainya. Karena kekuasaan yang begitu besar, maka mereka sering bertindak sewenang-wenang menindas penduduk pribumi untuk kepentingan pribadi.

[14]    Pangeran Wijayakusumah adalah penasehat agung dan guru agama Islam pada masa Pangeran Jayakarta. Ketika Pangeran Jayakarta dimakzulkan, Pangeran Wijayakusumah diangkat sebagai gantinya (Tamarjaya, 1965:198). Sedangkan Tubagus Arya Suta dan Tubagus Wahas adalah anak laki-laki dari Pangeran Jayakarta (Djajadiningrat, 1983:49). Adapun anak perempuannya yang bernama Ratu Martakusuma dikawinkan dengan Pangeran Pekik, Putra Sultan Abdul Kadir. Perkawinan ini berakhir tragis karena Ratu Martakusuma dihukum rajam setelah diketahui berbuat serong dengan laki-laki lain (Djajadiningrat, 1983:185).

[15]    Pedekan tundan, pedekan jawi dan nyai adalah pangkat pegawai perempuan istana.

[16]    Sebetulnya penyerahan kedudukan Putra Mahkota ini dilakukan semenjak Sultan Abulma’ali sakit. Hal ini kita dapatkan dari surat Gubernur Jendral VOC kepada Sultan sewaktu pelantikan Putra Mahkota tertanggal 13 Maret 1684. (Djajadiningrat, 1983:206).

[17]    Karena jasa-jasanya, Hendrik Lucasz Cardeel diberi gelar Pangeran Wiraguna

[18]    Ketiga pangeran ini pada mulanya tinggal di Mataram sebagai raja yang tidak mempunyai kekuasaan apapun, yang segala keperluannya diatur oleh Prabu Amangkurat I. Dengan dikuasainya Mataram oleh pasukan Trunojoyo, mereka pindah ke Kediri, tapi setelah Trunojoyo dapat dikalahkan Belanda, mereka melarikan diri dan bermaksud menghambakan diri kepada Sultan Ageng Tirtayasa yang di samping masih ada hubungan keluarga juga karena Banten selalu membantu Trunojoyo dalam menghadapi kompeni (Tamarjaya, 1965:293).

[19]    Belum sempat ketiga pangeran itu menyusun kekuatan di Cirebon, mereka lebih dahulu ditangkap oleh kompeni. Kemudian atas perkenan kompeni, daerah Cirebon dibagi tiga wilayah yang masing-masing diserahkan kepada ketiga pangeran ini. Pangeran Martawijaya bergelar Sultan Sepuh, dan Pangeraan Kartawijaya diberi gelar Sultan Anom, demikian juga Pangeran Wangsakerta. Dengan dipecah-pecah demikian, Cirebon tidak mempunyai kekuatan yang berarti lagi bagi kompeni.

[20]    Pada tanggal 2 Desember 1676 Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan beberapa kapal yang penuh dengan senjata lengkap dengan amunisinya kepada Pangeran Trunojoyo melalui Jepara. Demikian juga pada tanggal 29 Desember 1676 dikirimnya empat kapal berisi senjata-senjata api melalui Cirebon dan enam kapal lagi melalui Gresik (Tjandrasasmita, 1967,31-32).

[21]    Penulis lain memberikan bahwa jenazah Sultan Ageng Tirtayasa dimakamkan di bekas istananya di Tirtayasa (Hamka, 1976:309).

[22]    Ratu Syarifah Fatimah meninggal terlebih dahulu sebelum dibawa ke tempat pengasingan.

[23]    Dalam kenyataannya, hancurnya kesultanan Banten bukanlah karena kalah perang dengan kompeni, tapi lebih banyak disebabkan ditandatanganinya perjanjian-perjanjian yang berat sebelah. Kesultanan mewarisi utang kepada kompeni, sebagai penanggungan biaya perang semenjak Sultan Haji, yang sampai runtuhnya kesultanan tidak pernah lunas terbayar.

(Dr. Halwany Michrob)

Silahkan berbagi :

Silahkan berbagi Postingan ini !

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.