SUNAN GUNUNG JATI DAN ISLAMISASI DI BANTEN

PROSES ISLAMISASI DI BANTEN

A. MASUKNYA ISLAM KE BANTEN

Islam adalah agama yang mula-mula tumbuh di jazirah Arab, tepatnya di kota Mekkah. Disampaikan oleh seorang rasul yang bernama Muhammad yang lahir pada tahun 570 M. Pokok ajaran agama Islam adalah Tauhid, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang ada di dunia ini; oleh karenanya manusia hendaknya hanya tunduk kepada Yang Menciptakannya saja, tidak kepada yang lain. Sang Pencipta ini bernama Allah, yakni Tuhan yang Maha Satu, Pencipta seluruh alam semesta, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Hanya kepada-Nya sajalah manusia menyembah dan mengabdikan diri, serta menuruti segala perintah dan larangan-Nya; dan hanya dengan jalan itulah kehidupan manusia akan damai dan bahagia. Sebagai petunjuk dan bimbingan hidup manusia di dunia ini, Allah menurunkan al-Qur’an — yakni kitab yang berisi segala perintah, larangan dan petunjuk bagi kehidupan manusia — kepada rasul (nabi, utusan)-Nya, yaitu Muhammad bin Abdullah. Islam, mengajarkan bahwa manusia berasal dari satu keturunan, sehingga semuanya mempunyai derajat dan kedudukan yang sama, semuanya harus saling tolong-menolong untuk bersama-sama mendapat keridaan Allah.

Semula, agama ini hanya dipeluk oleh sekelompok kecil saja bahkan karena tekanan-tekanan dari pembesar negeri, Muhammad dan pengikutnya dua kali pindah atau hijrah; yaitu pada tahun 615 M hijrah ke Abesinia dipimpin oleh Ja’far ibn Abi Thalib, dan sekitar tahun 622 M hijrah ke Yatsrib (Madinah sekarang). Tapi tidak lama kemudian yakni pada tahun 630 M, kota Mekkah dapat dikuasainya bahkan seluruh jazirah Arab bernaung di bawah bendera Islam. Muhammad wafat pada tahun 632 M.; kemudian digantikan — sebagai khalifah (pemimpin negara) — oleh Abubakar Siddiq, selanjutnya Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.

Pada masa kekhalifahan Abubakar dan Umar, terjadilah perluasan daerah kekuasaan negara Islam. Damsyik dikuasai pada tahun 629, Syam dan Irak pada tahun 637, Mesir terus sampai ke Maroko pada tahun 645. Demikian juga Parsi (646), Samarkand (680), dan seluruh Andalusia (719). Sehingga pada tahun 732, kekuasaan negara Islam telah membentang dari teluk Biskaya di sebelah barat hingga Turkestan (Tiongkok) dan India di sebelah timur (Paradisastra, 1981: 8 – 9).

Sejalan dengan perkembangan daerah kekuasaan negara Islam, perdagangan dan kegiatan ekonomi lainnya pun maju dengan pesat. Kapal-kapal dagang Islam dari bangsa Arab dan Turki telah biasa berniaga ke Afrika Utara, India, Malaka sampai Cina dan Eropa. Sehingga dikatakan bahwa pada abad IX tidak ada kapal bangsa asing lain yang ada di jalur yang menghubungkan Eropa dan Cina selain pedagang yang beragama Islam (Salim, 1962: 10). Pedagang-pedagang muslim inilah yang membawa barang dagangan dari daerah timur (Asia) ke barat (Eropa).

Disebutkan bahwa jalur pelayaran ke timur adalah sebagai berikut: Sesudah menyusuri pantai Semenanjung India sampai ke Quilon di Malabar, kemudian terus ke Ceylon. Dari sana terus ke ujung Sumatra (Aceh) dan dengan melalui Selat Malaka sampailah ke Palembang. Selanjutnya menyusuri pantai utara pulau Sumatra, kembali lagi dengan melalui jalur yang sama sampai di Kamboja. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri pantai Cochin (Cina) sampai di pesisir negeri Cina. Setelah keadaan angin baik, mereka kembali ke negerinya dengan melalui rute yang sama (Salim, 1962 : 10 – 13).

Di samping berdagang, mereka pun aktif menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk negeri yang mereka singgahi; sebab menurut ajaran Islam, menyebarkan agama merupakan kewajiban setiap pemeluknya sebagaimana juga menyebarkan kebaikan kepada sesamanya. Dengan cara demikian maka pada abad ke-7, sudah banyak penduduk negeri Cina yang beragama Islam (Bukhari, 1971: 10). Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya Masjid Chee Lin Se dan Masjid Kwang Tah Se di Kanton pada masa Dinasti Tang (618 – 905 M) (Tien Ying Ma, 1979: 29).

Demikian pula dengan kepulauan Nusantara. Diper-kirakan, pada abad ke-7 dan ke-8 M (abad pertama Hijriah), pedagang-pedagang Muslim telah singgah di nusantara, sehingga agama Islam sudah banyak dikenal dan dianut oleh beberapa penduduk pribumi di nusantara (Tjandrasasmita, 1981: 362). Banyak sudah bukti sejarah yang diperoleh para ahli tentang masuknya ajaran agama Islam di nusantara ini (Ambary, 1981: 522). Bahkan pada tahun 840, umat Islam di Peureulak (Aceh) sudah dapat mendirikan satu negara bercorak Islam dengan Sayid Maulana sebagai raja pertamanya (Toynbee, 1981: 324). Demikian juga, sejak masa Sriwijaya, Kediri, Daha, Janggala dan Majapahit, sudah ada kelompok-kelompok umat Islam (perkampungan muslim), terutama di daerah pesisir (Ambary, 1981: 552) [1].

Sejarah telah mencatat, bahwa hubungan nusantara, terutama Sumatra, dengan tanah Arab telah berlangsung lama sejak zaman sebelum Islam. Para pedagang Arab mencari rempah-rempah, yang waktu itu hanya dijumpai di Sumatra, yaitu berupa kemenyan (styrax sumatrana) dan kapur barus (dryobalanops aromatica) ─ sehingga dalam khazanah bahasa Arab pun dikenal kata “barus” sebagai nama kapur-barus. Dengan keadaan ini, tidaklah mengherankan, apabila kronik Cina Hsin Tang Shu (Sejarah Dinasti Tang) mencatat bahwa pada tahun 674 M. sudah ada pemukiman pedagang Arab dan Cina muslim di Sriwijaya; Palembang dan Kedah. Keadaan di atas, juga berkaitan dengan adanya aktifitas perdagangan dan pelayaran yang meningkat antara Dinasti Umayyah (660-749 M.), Dinasti T’ang (618-905 M.) dan Dinasti Sriwijaya (abad ke-7 s.d 14 M.) (Tjandrasasmita, 1975: 85-86).

Dengan melihat eratnya hubungan perdagangan antara Arab, Cina, India dan kepulauan Nusantara, dan, ditunjang dengan keaktifan penyebaran agama Islam oleh pedagang muslim ini kepada penduduk pribumi, maka Thomas W. Arnold (1979: 209) menyatakan bahwa agama Islam datang di Nusantara dibawa oleh para pedagang Arab yang muslim pada permulaan tahun Hijriah.

Di Pulau Jawa, bukti tentang adanya masyarakat Islam baru ditemui pada abad ke-11 M. Sebuah batu nisan bertuliskan huruf Arab Kufi ditemukan di Leran, dekat Gresik, Jawa Timur. Batu ini menerangkan tentang wafatnya seorang muslimah yang bernama Fathimah binti Maimun tanggal 7 Rajab 475 Hijriah, bertepatan dengan 2 Desember 1082 Masehi (Salam, 1977: 5). Bahkan dalam Kakawin Ghatotkacasraya gubahan Mpu Panuluh ditulis abad ke-12 M, sudah ditemukan beberapa istilah Arab. Hal ini menunjukkan bahwa istilah-istilah Arab itu sudah diserap menjadi bahasa negeri (Kurnia, 1980).

Banten, ─ yang berada di jalur pelayaran internasional ─ diperkirakan pada abad pertama Masehi sudah dikunjungi oleh bangsa lain: India, Cina dan Eropa. Dan bahkan pada abad ke-7 menjadi pelabuhan ramai yang dikunjungi oleh pedagang-pedagang internasional, ─ seiring dengan meningkatnya volume perdagangan antara barat dan timur [2] ─ tidaklah terlepas dari keadaan di atas. Pedagang-pedagang dan, mungkin mubalig-mubalig dari Arab, Cina ataupun India dan Peureulak singgah di Banten dan mengajarkan agama Islam di sana. Walaupun belum diadakan penelitian lanjutan, besar kemungkinan, di Banten pun kegiatan penyebaran Islam ini sudah dimulai jauh sebelum abad ke-15.

Tentang keberadaan orang-orang Islam di Banten, Tome’ Pires, menyebutkan bahwa di daerah Cimanuk, kota pelabuhan dan batas kerajaan Sunda dengan Cirebon, banyak dijumpai orang Islam. Ini berarti bahwa pada akhir abad ke-15 M. di wilayah kerajaan Sunda Hindu sudah ada masyarakat yang beragama Islam. Karena hubungan yang didorong oleh faktor ekonomi, maka mereka umumnya tinggal di kota pelabuhan, seperti juga di Kalapa dan Banten. Yang jelas, sewaktu Sunan Ampel Denta pertama datang ke Banten, sudah didapatinya banyak penduduk yang beragama Islam walaupun Bupatinya masih beragama Hindu. Bahkan di Banten sudah berdiri satu masjid di Pecinan, yang kemudian diperbaiki oleh Syarif Hidayatullah (Purwaka, 20).

Dalam Purwaka Caruban Nagari dijelaskan bahwa Syarif Hidayat beserta 98 orang muridnya dari Cirebon, berusaha mengislamkan penduduk di Banten. Dengan kesabaran dan ketekunan, banyaklah yang mengikuti jejak Syarif Hidayatullah ini. Bahkan akhirnya Bupati Banten dan sebagian besar rakyatnya memeluk agama Islam.

Karena tertarik akan budi pekerti dan ketinggian ilmunya, maka Bupati Banten menikahkan Syarif Hidayatullah dengan adik perempuannya yang bernama Nhay Kawunganten. Dari pernikahan ini Syarif Hidayatullah dikaruniai dua anak yang diberinya nama Ratu Winaon dan Hasanuddin [3] (Djajadiningrat, 1983:161). Tidak lama kemu-dian, karena panggilan uwaknya, Cakrabuana, Syarif Hidayat berangkat ke Cirebon. Di sana ia diangkat menjadi Tumenggung yang memerintah daerah Cirebon, menggantikan uwaknya yang sudah tua. Sedangkan tugas penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Hasanuddin.

Dengan ketekunan dan kesungguhan serta kelembutan hatinya, usaha Hasanuddin ini membuahkan hasil yang menakjubkan. Diceritakan bahwa di antara yang memeluk agama Islam adalah 800 orang pertapa/ resi dengan sebagian besar pengikutnya (Toynbee, 1981: 335) [4]. Sehingga di Banten telah terbentuk satu masyarakat Islam di antara penduduk pribumi yang masih memeluk ajaran nenek moyang.

B. PROSES BANTEN MENJADI KERAJAAN BERCORAK ISLAM

Rempah-rempah merupakan barang yang sangat dibu-tuhkan orang Eropa untuk dijadikan bumbu, campuran minuman dan obat-obatan. Rempah-rempah itu mula-mula sampai di pasaran Eropa melalui pedagang-pedagang Arab di Timur Tengah. Pedagang-pedagang Portugis, Spanyol dan Belanda merupakan pedagang perantara dalam perdagangan rempah-rempah itu. Mereka membeli rempah-rempah itu di pelabuhan-pelabuhan Timur Tengah, yang kemudian mereka pasarkan di Eropa Barat.

Tapi setelah Constantinopel, ibukota Kerajaan Romawi Timur, jatuh ke tangan Kesultanan Turki Usmani pada tanggal 29 Mei 1453, terjadilah perubahan besar. Paus, pemimpin keagamaan Kristen Katolik, yang berpusat di Vatikan, Roma, mengumumkan “perang suci” dengan umat Islam, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib (Soeroto, 1965: 59-76). Dalam keadaan perang ini dimintakan supaya seluruh umat Katolik membantu tentara yang sedang berperang mengusir tentara Islam di Eropa. Demikian juga dalam bidang perdagangan, mereka dilarang berhubungan dengan umat Islam kecuali dengan tujuan menghancurkan kekuatan Islam. Mengindahkan seruan Paus ini, para pedagang dari Portugis, Spanyol dan negeri Eropa lainnya, memutuskan hubungan perniagaan mereka dengan para pedagang muslim, sehingga mereka tidak lagi membeli rempah-rempah dari orang Islam. Akibatnya, harga rempah-rempah di Eropa menjadi sangat mahal karena memang sukar didapat. Hal ini mendorong mereka berusaha keras untuk menemukan tempat di mana rempah-rempah itu ditanam.

Dengan memperalat Mualim Ibn Majid, seorang ilmuwan muslim dalam bidang kelautan, akhirnya bangsa Portugis berlayar sampai di Calikut, India, pada tahun 1498 M di bawah pimpinan Vasco da Gama (Tjandrasasmita, 1975: 5-7). Berawal dari sinilah bangsa Asia dikenalkan dengan praktek kolonialisme barat yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Dalam ekspedisi selanjutnya, beberapa pelabuhan penting di pantai India dikuasai Portugis. Dan untuk melebarkan kekuasaannya dibangun benteng yang kuat di Goa, pesisir barat India. Dari kota pelabuhan Goa inilah Portugis selanjutnya meluaskan daerah jajahannya ke arah barat dengan memerangi Turki dan ke arah timur dengan menduduki daerah-daerah di Nusantara.

Pada tanggal 5 Agustus 1511 pasukan Portugis dapat merebut Malaka dari kekuasaan Sultan Malaka, Makhmudsyah. Disusul dengan penaklukan Samudra Pasai pada tahun 1521, dan pada akhirnya Maluku pun dapat didudukinya. Semua tindakan itu mereka lakukan demi untuk kekuasaan, kekayaan dan tugas sucinya dalam menghancurkan umat Islam di mana pun berada. Tujuan dagang mereka telah dicampuri dengan maksud dan tujuan lain, yaitu penguasaan di segala sektor kehidupan masyarakat, dan juga pelampiasan rasa dendam pada umat Islam, sehingga di samping berdagang mereka pun memperdaya, merampas dan akhirnya menjajah, termasuk pemaksaan agama kepada rakyat yang dikuasainya (Suminto, 1985:13).

Dengan menguasai Malaka, Portugis mengharapkan dapat memonopoli semua perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara. Dengan cara monopoli ini, mereka menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara mematikan bangsa lain.

Sikap dan tingkah-laku bangsa Portugis di Malaka yang memaksakan monopoli perdagangan dan bahkan cenderung selalu memusuhi pedagang-pedagang yang beragama Islam tadi menimbulkan rasa benci dan permusuhan; padahal pada umumnya, pedagang di Asia Tenggara beragama Islam. Karena sikap Portugis yang tidak bersahabat itu, maka para pedagang muslim tadi segan dan tidak singgah di bandar Malaka. Bahkan, banyak pedagang muslim yang tinggal di Malaka pindah ke Aceh, Banten, Cirebon dan Demak. Sikap angkuh bangsa Portugis ini pula yang menyebabkan akhirnya kapal-kapal dagang Arab, Parsi, Cina dan bangsa lainnya tidak sudi melewati Selat Malaka.

Memang di Malaka, Portugis membuat peraturan baru yang dianggap kurang adil, sehingga terjadilah keadaan sebagai berikut:

1)   Pedagang-pedagang dari kepulauan Nusantara harus menjual dagangannya hanya kepada orang Portugis. Demikian juga bagi bangsa lain yang akan membeli rempah-rempah harus melalui orang Portugis dengan harga yang sudah ditentukan.

2)    Perlakuan orang Portugis yang kasar dan bahkan mempersulit dengan bea-bea tinggi, terutama bagi pedagang yang beragama Islam.

Keadaan dan situasi yang tidak menguntungkan itu, akhirnya mendorong para pedagang dari India, Parsi, Arab, Cina dan bangsa lainnya, walaupun melalui jalan yang sulit, dapat berhubungan langsung dengan pelabuhan-pelabuhan di kepulauan Nusantara melalui Selat Sunda. Hal ini menye-babkan jalur pelayaran niaga beralih dari Selat Malaka. Mereka tidak menyinggahi Malaka tetapi menyusur pantai utara Sumatra terus membelok ke Aceh Barat, Barus, Singkel, Padang Pariaman dan Salida, kemudian terus ke pelabuhan Banten. Dari pelabuhan inilah barang-barang perniagaan yang ke dan dari kepulauan Nusantara didistribusikan. Dengan perubahan jalur perniagaan laut di Asia Tenggara ini, kedudukan pelabuhan Banten menjadi begitu penting, sehingga menjadi ramai dikunjungi pedagang-pedagang asing dan dari kepulauan nusantara

  1.  Perluasan Pengaruh Islam Di Banten

Sejalan dengan perkembangan pelabuhan Banten, maka semakin banyak orang-orang Islam yang berkunjung dan menetap di kota pelabuhan ini, sehingga lama kelamaan Banten menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Untuk penyebaran agama Islam kepada penduduk pribumi Banten, peran Hasanuddin beserta pengikut-pengikutnya sangat menentukan. Dengan kehalusan akhlak dan ketinggian ilmu keislamannya, Hasanuddin mendapat sambutan baik, yang akhirnya beberapa pembesar negri dan bahkan 800 ajar beserta pengikutnya memeluk Islam. Dalam pada itu, di wilayah timur, pusat pengembangan agama Islam didorong oleh kerajaan Demak. Trenggono, raja Demak ke-3 pengganti Dipati Unus, bercita-cita meluaskan pengaruh Islam ke seluruh Pulau Jawa ─ yang berarti juga perluasan hegemoni Demak.

Melihat perkembangan kekuatan Islam di barat dan timur yang cukup pesat ini, menimbulkan kekhawatiran raja Pajajaran kalau-kalau agama Hindu ─ yang menjadi agama negara ─ akan makin terdesak, dan Pajajaran akan kehilangan kewibawaannya di daerah pantai.

Untuk menanggulangi bahaya ini maka raja Pajajaran mengambil kebijaksanaan, antara lain:

Pertama, membatasi pedagang-pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah pengawasan Pajajaran.

Kedua, mengadakan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan kuasa Portugis yang berkedudukan di Malaka, dengan maksud agar Portugis dapat membantu Pajajaran kalau diserang Demak.

Dalam pada itu, sampai tahun 1521 yang berkuasa di Pajajaran adalah Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata atau disebut juga Prabu Silihwangi. Untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan orang Portugis di Malaka itu raja mengutus putra mahkota, Ratu Sangiang atau Surawisesa [5].

Ajakan kerja sama di bidang militer ini sudah tentu diterima baik oleh Jorge d’Albuquerque, penguasa tertinggi Portugis di Malaka, yang memang berkeinginan menguasai kerajaan Pajajaran yang kaya dengan lada. Bahkan maksud yang lebih jauh lagi yaitu untuk menghancurkan dan menguasai kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Jawa.

Pada tanggal 21 Agustus 1522, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka menandatangani perjanjian persahabatan dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga, yang isinya antara lain:

1) Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kalapa.

2) Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang-barang kebutuhan Pajajaran.

3) Portugis bersedia akan membantu Pajajaran apabila diserang tentara Demak atau yang lainnya.

4) Sebagai tanda persahabatan, raja Pajajaran menghadiahkan 1000 karung (1000 x 10600 caxas Jawa = 160 bahar = 351 sentenar) lada setiap tahun kepada Portugis.

Untuk memperingati dan sebagai tanda adanya perjanjian tersebut, dibuatlah tugu batu di pinggir kiri muara sungai Ciliwung.

Tindakan raja Pajajaran ini bukannya menyelesaikan masalah, melainkan membuat situasi semakin tidak menentu. Rakyat kerajaan Pajajaran, yang sudah banyak beragama Islam, menyambut perjanjian persahabatan Portugis ini dengan ketidakpuasan. “Pamor” raja di mata rakyat semakin menurun. Beberapa daerah pesisir berusaha pula melepaskan diri dari pengawasan Pajajaran. Terjadilah perlawanan rakyat yang antara lain dipimpin oleh Hasanuddin yang menentang perjanjian itu.

Dalam pada itu, mendengar perjanjian persahabatan antara Pajajaran dengan Portugis ini, yang salah satunya ditujukan langsung kepada Demak, Trenggono, raja Demak, menjadi marah. Karena itu ia berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Portugis di Nusantara, berikut Pajajaran yang berani mengadakan perjanjian dengan bangsa asing yang dibencinya. Peristiwa inilah, salah satunya, yang menjadi  momentum perluasan pengaruh Islam ke wilayah Jawa Barat.

Kemarahan raja Demak kepada Pajajaran ini dapat dimaklumi, karena perjanjian itu diadakan tidak lama setelah kegagalan Demak, secara beruntun, dalam usahanya mengusir bangsa Portugis di Malaka. Demak berusaha menghancurkan kekuasaan Portugis di Malaka, tapi di lain pihak Pajajaran mengadakan perjanjian persahabatan [6]. Masuknya Portugis ke Pulau Jawa akan berakibat fatal bagi kemerdekaan nusantara secara keseluruhan. Dalam kondisi dan situasi psikologis kekalahan yang masih membekas di kalangan para pemimpin Demak ini, maka kerjasama militer Pajajaran dengan Portugis itu dianggap sebagai serangan balasan terhadap Demak, dan karenanya merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup kerajaan Demak. Dari aspek ekonomi, penguasaan Portugis atas jalur pelayaran ke Selat Malaka, dapat mematikan sumber ekonomi Demak ─ karena di Malaka, hasil bumi Demak dipasarkan untuk nanti ditukarkan dengan barang kebutuhan rakyat. Di samping itu, pembatasan pedagang muslim di kota-kota pelabuhan Pajajaran, menimbulkan rasa permusuhan antara dua kerajaan bertetangga yang berlainan pandangan hidup tersebut. Peristiwa inilah yang mendorong makin besarnya hasrat Trenggono untuk segera menguasai Pajajaran. Atas pertimbangan-pertimbangan ini, Trenggono menugaskan Fatahillah, saudara ipar dan juga panglima perang Demak, bersama dengan 2000 pasukan pilihan untuk segera menyerang Pajajaran.

Sebelum mengadakan penyerbuan ke Pajajaran, pasukan Demak yang dipimpin Fatahillah, dengan menggunakan kapal-kapal besar berangkat ke Cirebon untuk mendengar nasehat Syarif Hidayatullah (Djajadiningrat, 1983:87). Dari Cirebon inilah direncanakan strategi penyerangan. Sesuai dengan saran Syarif Hidayatullah, pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati Cangkuang berangkat ke Banten (Purwaka, tt: 23). Dan tanpa mengalami banyak kesulitan yang berarti, pasukan gabungan ini dapat menguasai Banten pada tahun 1525 (Djajadiningrat, 1983: 125). Hal ini bukan saja karena kuatnya pasukan gabungan Demak-Cirebon, tapi juga berkat bantuan dari pasukan pribumi yang dipimpin oleh Hasanuddin. Selanjutnya, untuk pemantapan keamanan di daerah yang baru dikuasai ini maka diangkatlah Hasanuddin menjadi Adipati Banten dengan pusat pemerintahan di Banten Girang. Sesuai dengan penetapan Syarif Hidayatullah, pusat pemerintahan di Banten Girang ini kemudian dipindahkan ke dekat pelabuhan yang kemudian disebutnya Surosowan. Pemindahan ibukota Banten ini terjadi pada tahun 1526 (Djajadiningrat, 1983: 123-124).

Setahun kemudian, yakni tahun 1527 terdengar berita bahwa pasukan Portugis dengan enam buah kapal besar dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka dengan tujuan Sunda Kalapa. Mendengar berita ini, Fatahillah dan Hasanuddin mengumpulkan para senapati untuk merun-dingkan tindakan selanjutnya; dan diputuskan untuk segera menguasai Sunda Kalapa. Maka disiapkanlah pasukan gabungan Demak, Cirebondan Banten untuk berangkat ke Sunda Kelapa melalui jalan darat dan laut. Penyerbuan ini dipimpin oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati Cangkuang dengan tentara berkekuatan 1452 orang (Purwaka, tt: 23). Dengan bantuan penduduk setempat, yang memang sudah banyak beragama Islam, maka dengan mudah Sunda Kelapa dapat dikalahkan pada tahun 1527. Atas persetujuan Sultan Demak dan Syarif Hidayatullah, maka Fatahillah diangkat menjadi Adipati di Sunda Kelapa. Dan untuk menyatakan rasa syukur atas kemenangan ini, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta yang artinya “kotayang menang”.

Tidak lama kemudian, armada Portugis dari Malaka yang dipimpin oleh Francisco de Sa sampai di bandar Sunda Kelapa dengan maksud semula untuk membangun benteng, sesuai dengan perjanjian tahun 1522. Pasukan Portugis ini terdiri dari dua buah galyun, sebuah gale, sebuah galeota, sebuah caravelladan sebuah brigantin dengan persenjataan lengkap berupa meriam-meriam besar dan senjata api lainnya (Djajadiningrat, 1983:80). Mereka tidak mengetahui bahwa Sunda Kelapa sudah dikuasai tentara Islam. Tentu saja maksud Portugis itu ditolak Fatahillah. Hal ini membuat Francisco de Sa marah dan mengancam hendak meng-hancurkan Sunda Kelapa. Maka terjadilah perang terbuka di pelabuhan Sunda Kelapa. Tentara Portugis mendapat perlawanan hebat dari tentara Islam yang dipimpin oleh Pangeran Cirebon, sehingga mereka semuanya kembali ke kapal dan meminta bantuan dari kapal-kapal perang mereka yang masih menunggu di lepas pantai. Akhirnya, karena didorong semangat jihad, pasukan Islam dapat mengusir Portugis dari perairan Jayakarta. Diceritakan pula, bahwa sebelum pasukan Portugis itu sampai di Teluk Jakarta, di tengah perjalanan terjadi angin ribut, sehingga sebuah kapal brigantinyang dipimpin oleh Duarte Coelho terpisah dari kapal yang lain dan kandas di pelabuhan Banten. Kapal Portugis ini pun dapat dikuasai prajurit Banten, sehingga banyak tentaranya terbunuh (Djajadiningrat, 1983: 81-82).

Setelah berhasil mengamankan Sunda Kalapa dari ancaman Portugis, Hasanuddin dan Fatahillah bekerja sama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hasanuddin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kamasyarakatan, sedangkan Fatahillah menangani bidang keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa wilayah ini memerintah atas nama Sultan Demak (Hamka, 1976:178).

Penguasaan Banten dan Sunda Kalapa ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kerajaan Demak, karena antara lain:

1)   Dengan dikuasainya Banten dan Sunda Kalapa, akan memudahkan pengembangan pengaruh Islam ke Pajajaran di kemudian hari.

2)  Banten dapat dijadikan tempat yang strategis bagi perluasan wilayah Demak ke pantai selatan Sumatra, Lampung dan Palembang yang kaya akan cengkeh dan lada.

3)  Dengan dikuasainya pantai utara Jawa Barat yaitu Banten, Sunda Kalapa dan Cirebon, maka kekhawatiran Demak atas pengaruh Portugis di Pulau Jawa dapat diatasi.

4)  Banten juga dapat dijadikan pusat penyebaran agama Islam untuk masyarakat Jawa Barat dan sebagian Sumatra Selatan yang masih animis.

Melihat perkembangan kemajuan daerah Banten yang pesat, maka pada tahun 1552 Kadipaten Banten ditingkatkan statusnya menjadi Kerajaan di bawah pengawasan Demak, dengan Hasanuddin sebagai raja Banten pertamanya.  Sedangkan Fatahillah pada tahun yang sama (1552) diangkat menjadi penguasa di Cirebon mewakili Syarif Hidayatullah, karena Pangeran Pasarean yang memerintah sebelumnya telah meninggal pada tahun 1552 itu. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Hasanuddin (Purwaka, tt: 27).

  1. Berdiri Kota Banten Tanggal 8 Oktober 1526

Tentang tarikh berdirinya Kasultanan Banten di Surosowan ini dituliskan sebagai berikut:

“Inkang kalang Banten nagari sedengnyan haro hara ikang nunaya jeng sisa Sabakingkin anak ira susuhunan Jatipurba lawan pra saparisharanya teka wong muslim prasiya sira, wiweha kahanan ika wadya Demak lan Charbon teka ta prahwa nira mandeg ing labuhan Banten nagari, irika tang ayuddha mwang anggepuk wadya bala Budha-Prawa. Bopatya Banten nagari lawan saparicharyanya lumayu menjing wanantara paran ira mangidul ngetan ringkitha-gung Pakuan Pajajaran, witan ikang pramatya Banten nagari. Ri huwuws ika binu patyakna ta sira Sabakingkin Banten nagari lawan nawastwan ngaran Hasanuddin deng rama nira Susuhunan Jatipurba kang lungguh raja paditha atahwa Sang Kamastwing sarat Sunda, kang tamolah ing Puserbumi nagari ya ta Charbon, kithaya sinebut Garage (Purwaka Caruban Nagari, pupuh 162 – 168).

Terjemahan teks tersebut adalah:

(162) Pada waktu itu di Banten sedang timbul huru-hara yang di-sebabkan oleh Pangeran Sabakingkin, putera Susuhunan Jatipurba dengan para pengikutnya. (163) Orang-orang muslim dan para muridnya, bertambah-tambah dengan kedatangan angkatan bersenjata Demak dan Cirebon yang telah berlabuh di pelabuhan Banten, kemudian menyerang dan memukul (164) angkatan bersenjata Budha-prawa. Adipati Banten dan para pengikutnya melarikan diri masuk hutan belantara menuju ke arah tenggara ke kota besar Pakuan Pajajaran. (165) Setelah itu dinobatkanlah Pangeran Sabakingkin di negeri Banten dengan gelar (168) Pangeran Hasanuddin oleh ayahnya dipertuan bagi seluruh daerah Sunda, yang berpusat di Puserbumi yaitu negeri Cirebon atau Garage (Atja, 1972: 57-58).

Djajadiningrat (1983:123-124) menuliskan tentang tarikh penaklukan Banten Girang ini ada dua sangkala yang keduanya berbeda. Brasta gempung warna tunggal tidak mempunyai nilai angka selain daripada 1400 Saka atau 1478 Masehi. Sangkala kedua berbunyi Ilang kari warna lan nagri; kata kari adalah suatu kesalahan penurunan naskah yang ditulis dalam pegon, karena kata ini tidak pernah ditemui dalam bahasa sangkala. Mungkin kata itu berasal dari kata kadi = kaya = 3. Sehingga seharusnya berbunyi: ilang kadi warna lan nagri, dan ini berarti angka tahun 1480 Saka atau 1558 Masehi.

Selanjutnya, dari keterangan Caeff, wakil VOC di Banten (1671), menyebutkan bahwa “Banten Lama” (dimaksudkan Banten Girang) yang letaknya sedikit di atas Clappadoa, kira-kira enam jam perjalanan kaki dari Tirtayasa ke Pontang dan tiga jam dari Banten. Sultan Ageng telah menyuruh mendirikan sebuah istana di sana, yang digunakan sebagai tempat mengungsi kaum wanita di masa perang. Kelapadua sekarang masih merupakan sebuah kampung kira-kira di barat laut Serang. Oleh karenanya, ibukota lama Banten haruslah letaknya di bagian barat atau barat daya Serang; yaitu Banten Girang (Banten Hulu). Tempat inilah yang dilaporkan Joao de Barros pada tahun 1525 Faletehan mendapat sambutan yang ramah dan selanjutnya menjadi tuan. Kemudian, masih menurut de Barros, pada tahun 1527 dari Banten yang letaknya lebih ke hilir sungai di tepi laut, Faletehan dapat menguasai Sunda Kalapa. Dari berita ini dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dua sangkala di atas haruslah diabaikan, karena tidaklah mungkin terjadi. Pemerintahan Banten tidak akan membiarkan “musuh” yang eksis di dekat-dekat dirinya, sementara Pinto [7], menceritakan bahwa pada tahun 1546 Tagarilmengirimkan sebagian besar tentaranya untuk membantu Demak menggempur Pasuruan. Demikian pula pemindahan ibukota dari Banten Girang ke Banten yang diceritakan Sajarah Banten, tak dapat terjadi oleh Hasanuddin. Yang demikian itu haruslah dilakukan oleh ayahnya, dan barangkali segera setelah direbutnya Banten Girang; dan yang paling memungkinkan adalah antara tahun 1525 dan 1527(Djajadiningrat, 1983: 127).

Jika penaklukan Banten Girang terjadi pada tahun 1525 M, maka pendirian Banten Pesisir (Surosowan) sesuai bukti arkeologis dengan berita asing dan Purwaka Caruban Nagari terjadi tidak lain pada tahun 1526 M. Mengenai ketepatan waktu yang berupa tanggal, meskipun tidak ada berita pasti, namun dapat dianalogikan dengan hari mulia yaitu Muharram tanggal satu sebagaimana juga gambaran menuju peperangan ke Pakuwan Pajajaran yang dilakukan pada Muharram, tahun Alip 1579 (Djajadiningrat, 1983: 145-146).

1 Syuro atau 1 Muharram adalah hari baik untuk melakukan peristiwa penting yang dipercayai oleh masyarakat pada waktu itu, maka untuk pemindahan ibukota Banten dari Banten Girang ke Surosowan (Banten pesisir) itu dimungkinkan terjadi pada tanggal 1 Muharram 933 Hijriah yang, menurut Tabel Wuskfeld, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 Masehi.

  1. Sekitar Syarif Hidayatullah dan Fatahillah

Untuk lebih memperluas keterangan di atas, penulis menganggap perlu, secara singkat, menguraikan riwayat tokoh Syarif Hidayatullah dan Fatahillah. Karena, kedua tokoh inilah yang memegang peran menentukan dalam kesejarahan kerajaan Banten khususnya, dan penyebaran agama Islam di Jawa bagian Barat.

Dalam Purwaka Caruban Nagari, dikisahkan tentang silsilah keturunan Syarif Hidayatullah, sebagai berikut:

Prabu Siliwangi raja Pakuan Pajajaran dari perkawinannya dengan Nhay Subang Larang mempunyai 3 orang anak: Raden Walangsungsang, Nhay Lara Santang dan Raden Jaka Sangara. Nhay Lara Santang, yang kemudian memeluk agama ibunya yaitu agama Islam, pergi ke Makkah bersama Raden Walangsungsang untuk menunaikan ibadah haji sambil menuntut ilmu agama di sana. Mereka berguru pada Syekh Abdul Jadid yang kemudian Nhay Lara Santang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud atau  Syarif Abdullah seorang raja di Mesir. Dari pernikahan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah, yang lahir dua tahun kemudian.

Setelah Syarif Hidayatullah berumur 20 tahun, dia pergi ke Makkah untuk belajar ilmu agama pada Syekh Tajmuddin al-Kubri selama dua tahun, dan kepada Syekh Athaullahi Sajali selama dua tahun pula. Syarif Hidayat tidak mau menggantikan ayahnya yang telah wafat untuk menjadi raja di Mesir, tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada adiknya, Syarif Nurullah. Syarif Hidayat sendiri pergi ke Pulau Jawa untuk menyiarkan agama Islam. Daerah pertama yang dikunjunginya adalah Pasai dan dua tahun kemudian singgah di bandar Banten. Di sana didapati sudah banyak penduduk yang beragama Islam, hasil usaha Sayid Rakhmat atau Sunan Ampel, yang juga masih terhitung keluarga. Dari Banten, barulah Syarif Hidayat pergi ke Jawa Timur yakni ke Ngampel. Oleh Sunan Ampel, Syarif Hidayat ditetapkan sebagai da’i di Pesambangan (Sembung) bersama uwaknya Haji Abdullah Iman, nama lain dari Raden Walangsungsang. Syarif Hidayat membuat pondok di Bukit Sembung, Gunung Jati, sehingga dikenal dengan nama Maulana Jati atau Syekh Jati.

Istri dan anak Syarif Hidayat(ullah) adalah sebagai berikut:

1)   Nhay Babadan seorang putri dari Ki Gedheng Babadan. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena Nhay Babadan meninggal dunia, tanpa dikaruniai anak.

2)    Nhay Lara Bagdad atau Syarifah Bagdad, adik dari Maulana Abdurahman Bagdadi atau Pangeran Panjunan. Dari pernikahan ini dikaruniai dua orang anak: Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana.

Pangeran Jayakelana kemudian kawin dengan Ratu Pembayun putri Raden Fattah, sultan Demak pertama. Pangeran Jayakelana meninggal dunia pada usia muda, selanjutnya, Ratu Pembayun menikah dengan Fatahillah atau Fadilah Khan seorang pemuda asal Pasai.

Sedangkan Pangeran Bratakelana menikah dengan Ratu Nyawa, adik dari Prabu Trenggono. Dalam perjalanan menuju Cirebon, Pangeran Bratakelana gugur dalam pertempuran melawan bajak laut, dan karenanya ia disebut dengan nama Pangeran Sendang Lautan atau Pangeran Gung Anom.

3)    Nhay Tepasari, putri dari Ki Gedheng Tepasari dari Majapahit. Dari pernikahan ini Syarif Hidayat dikaruniai dua orang anak: Nhay Ratu Ayu dan Pangeran Mahmud Arifin, yang kemudian disebut Pangeran Pasarean.

Nhay Ratu Ayu kemudian menikah dengan Pangeran Muhammad Yunus atau Pangeran Sabrang Lor, putra tertua Raden Fattah. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak, karena Muhammad Yunus mati muda ─ memerintah Demak selama tiga tahun saja. Nhay Ratu Ayu kemudian menikah lagi dengan Fatahillah dan dikaruniai dua orang anak: Ratu Wanawati Raras dan Pangeran Sedang Garuda. Adapun Pangeran Mahmud Arifin atau Pangeran Pasarean menikah dengan Ratu Nyawa, yaitu janda dari Pangeran Bratakelana atau Pangeran Gung Anom. Dari pernikahannya dikaruniai 6 orang anak, yaitu:

(1.)  Pangeran Kesatrian, yang kemudian menikah dengan seorang putri asal Tuban.

(2.)  Pangeran Losari, yang menjadi Panembahan Losari.

(3.) Pangeran Suwarga, yang kemudian menjadi Adipati di Cirebon dengan gelar Pangeran Adipati Pakungja atau Pangeran Sedang Kemuning. Pangeran ini kemudian menikah dengan Ratu Wanawati Raras, putri dari Fatahillah dengan Nhay Ratu Ayu.

(4.)  Ratu Emas, yang kemudian menikah dengan Tubagus Banten di Banten.

(5.)  Pangeran yang berkeluarga di Panjunan.

(6.)  Pangeran Weruju.

4)     Nhay Kawunganten, adik Adipati Banten.

Dari pernikahan ini lahirlah dua orang anak: Ratu Winaon atau  Putri Wulung Ayu dan Hasanuddin atau disebut juga Pangeran Sabakingkin. Ratu Winaon kemudian menikah dengan Pangeran Atas Angin atau Pangeran Raja Laut, yang kemungkinan nama lain dari Sunan Kalijaga.

5)    Pada tahun 1478, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nhay Pakungwati, putri uwaknya, Raden Walangsungsang dengan Nhay Indhang Geulis. Pernikahan ini tidak membuahkan keturunan, sehingga Nhay Pakungwati mengambil Nhay Ratu Ayu dan Pangeran Pasarean menjadi anak angkatnya ─ karena ibunya, Nhay Tepasari, meninggal dunia sewaktu mereka masih kecil.

6)   Pada tahun 1481, Syarif Hidayat menikah dengan Putri Ong Tien, seorang putri raja Cina yang datang ke Pulau Jawa dengan rombongan yang besar. Dengan putri Cina ini Syarif Hidayat beroleh seorang putra tetapi meninggal pada saat dilahirkan. Empat tahun kemudian Putri Ong Tien pun wafat.

Di Cirebon, Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Tumenggung yang menguasai daerah Cirebon dan sekitarnya, menggantikan Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabhumi. Adapun tugasnya di Banten, yakni menyebarkan agama Islam diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin.

Semenjak Cirebon dikuasakan kepada Syarif Hidayatullah, Cirebon tidak pernah lagi mengirimkan kuwerabhakti atau upeti kepada Raja Pajajaran. Hal inilah yang menyebabkan Pajajaran mengirimkan enam puluh orang prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Jagabaya untuk menagih upeti tersebut. Tapi akhirnya prajurit-prajurit tersebut tidak berani memerangi Cirebon, dan, bahkan semuanya memeluk agama Islam dan menjadi murid Syarif Hidayatullah yang setia.

Pada saat di Cirebon, Syarif Hidayatullah diangkat oleh para wali atau pimpinan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa untuk menjadi Penetap panatagama Rasul Saerat Sunda yang berkuasa penuh di seluruh daerah Sunda, menggantikan Syekh Nurul Jati yang sudah mangkat. Dan untuk mengkhususkan pemikirannya kepada penyebaran agama Islam, Syarif Hidayatullah pada tahun 1528 mengangkat putranya, Pangeran Pasarean, menjadi Tumenggung di Cirebon sebagai wakil dirinya. Dan setelah Pangeran Pasarean mangkat (1552), pemangku kuasa di Cirebon diserahkan kepada Fatahillah atau Pangeran Pasai, menantu Syarif Hidayatullah.

Pada tahun 1568, Syarif Hidayatullah meninggal dunia pada usia lanjut, yang kemudian dimakamkan di puncak Bukit Sembung, komplek Gunung Jati, tempat dia mengajar. Dengan meninggalnya Syarif Hidayatullah, maka Fatahillah menjadi pemegang kuasa penuh di Cirebon sampai meninggalnya pada tahun 1570. Jenazahnya dikubur di Gunung Jati, sejajar dengan makam Sunan Gunung Jati.

Sebenarnya antara Syarif Hidayatullah dan Fatahillah masih ada hubungan kekerabatan. Fatahillah atau Fadhilah Khan lahir pada tahun 1490 di Samudra Pasai. Dia adalah putra Makhdar Ibrahim dari Gujarat yang menetap di Pasai sebagai Imam Agama. Makhdar Ibrahim adalah putra dari Maulana Abdul Gafur alias Maulana Malik Ibrahim seorang putra dari Barkat Zainul Alim adik dari Ali Nurul Alim kakek Syarif Hidayatullah dan juga kakek Ibrahim Zainul Akbar (ayah Sunan Ampel). Sunan Ampel adalah guru dan mertua Raden Fatah pendiri kerajaan Demak. Jadi Jelaslah bahwa Fatahillah masih terhitung keponakan Syarif Hidayatullah dari garis ayah. Kekerabatan ini kemudian dipererat lagi dengan perkawinan. Fatahillah memperistri Nhay Ratu Ayu, putri Syarif Hidayatullah (janda Pangeran Sabrang Lor) dan juga menikah dengan Ratu Pembayun (janda Pangeran Jayakelana), putri Raden Fatah. Dengan demikian Fatahillah adalah mantu, keponakan dan murid dari Syarif Hidayatullah, juga mantu dari Raden Fatah.

Catatan Kaki:

[1]     Pendapat Snouck Horgronje, yang menyatakan bahwa Islam masuk ke kepulauan Nusantara pada abad ke-13 M., barangkali, dimaksudkan adalah bukannya masuknya Islam ke Nusantara, tetapi permulaan umat Islam di Nusantara sudah menjadi satu kekuatan sosial yang perlu diperhitungkan, bahkan sudah mampu mendirikan negara yang bercorak keislaman.

[2]     Hal demikian dimungkinkan karena penemuan teknologi perkapalan yang sudah mampu membuat kapal-kapal ukuran besar yang mampu berlayar jauh dan mengangkut sekitar 600 – 700 orang (Berger, 1962:14).

[3]     Dalam catatan Babad Banten, anak Syarif Hidayatullah ini bernama Wulung Ayu dan Hasanuddin.

[4]     Dalam Babad Banten diceritakan bahwa, Hasanuddin mendatangi 800 ajar pengikut Pucuk Umun di Gunung Pulosari, yang kemudian mereka memeluk agama Islam; dan mereka pun bersedia menjadi pengikut setia Hasanuddin (“Kawula sakakah anut, tuwan kaya pucuk umum”)

[5]     Kecurigaan raja Pajajaran ini bertambah tebal dengan hadirnya pasukan Demak di Cirebon sewaktu pesta perkawinan 4 pasangan: Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana, Ratu Aju dengan Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun, dan Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).

[6]     Pada tahun 1512, armada Demak dengan 90 buah kapal jung yang berkekuatan 12.000 prajurit dilengkapi dengan meriam-meriam buatan sendiri menyerang penguasa Portugis di Malaka. Perang besar ini dipimpin oleh Patih Yunus kakak tertua dari Prabu Trenggono yang berakhir dengan kekalahan pasukan Demak dan gugurnya Patih Yunus yang selanjutnya dikenal dengan Pangeran Sabrang Lor.

[7]     Fernao Mendes Pinto atau Tome Pinto (1510-1583), adalah pimpinan armada Portugis yang juga ikut menandatangani perjanjian Pajajaran-Portugis (1522) mencatat semua pengalaman pelayarannya dari Goa ke Nusantara dalam buku Peregrinacao (Penjelajahan).

(Dr. Halwany Michrob)

Silahkan berbagi :

Silahkan berbagi Postingan ini !

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.